Serba-Serbi Tanaman Palawija yang Wajib Kamu Ketahui!

Kamu yang sudah memiliki minat di dunia pertanian pasti tidak asing lagi dengan istilah palawija. Palawija sendiri secara tekstual bisa diartikan sebagai tanaman kedua, karena memang pada awalnya penanaman palawija dimaksudkan untuk diversivikasi pangan di Indonesia.

Palawija yang berarti tanaman kedua bisa diartikan sebagai tanaman yang bisa dijadikan tanaman hasil kedua dari tanaman utama yang dibudidayakan oleh seseorang di dalam satu lahan yang sama.

Berdasarkan sejarahnya sendiri, istilah palawija ini justru kemudian populer di daerah Jawa sebagai tanaman pertanian selain daripada tanaman padi. Barangkali sebenarnya istilah ini sebagian benar namun sebagian cukup keliru.

Daripada bingung yuk kita bahas saja apa itu palawija, manfaatnya, jenis-jenis palawija, hingga cara membudidayakan beberapa tanaman palawija.


Apa itu Palawija?

apa itu palawija

Seperti yang telah kami jelaskan di paragraf pembuka di atas, tanaman palawija merupakan tanaman kedua yang ditanam disamping dari tanaman utama. Tanaman kedua ini pun ditanam di lahan yang sama.

Pada mulanya sendiri tanaman palawija bisa ditanam sebagai salah satu penyokong hajat hidup orang banyak, karena kemudian tanaman palawija seringkali dijadikan tanaman untuk memenuhi kehidupan pangan penduduk selain tanaman pangan.

Lebih jauh lagi di beberapa daerah dimana tanaman padi tidak bisa tumbuh dengan baik, tanaman palawija justru menjadi solusi yang bisa menjaga penduduk di daerah sekitarnya dari kelaparan.

Oleh karena itulah mengapa seorang petani biasanya bergantung pula kepada tanaman palawija yang ia tanamkan. Lebih jauh lagi tanaman palawija ini bila dilakukan serentak dan dengan benar di berbagai daerah, bisa membantu ketahanan pangan negara lho!


Manfaat Tanaman Palawija

Manfaat Tanaman Palawija

Ada banyak manfaat tanaman palawija yang telah diketahui, dan tentu saja kebanyakan berhubungan dengan pertanian berkelanjutan, ketahanan pangan, hingga kesejahteraan petani dan masyarakat di sekitarnya.

Pertanian berkelanjutan – pertanian berkelanjutan merupakan suatu produk yang menekankan kepada sistem yang terintegrasi di dalam produksi tanaman di satu lokasi yang berdampak dalam jangka panjang.

Dalam waktu yang lama bila pertanian berkelanjutan bisa dilakukan di suatu daerah maka akan tercapai beberapa hal, diantaranya adalah sebagai berikut ini:

  • Terpenuhinya kebutuhan pangan manusia, karena tidak ada masa kosong di dalam bercocok tanam. Harapannya tentu saja sepanjang tahun masyarakat akan bisa memenuhi makanan di tempat tinggal mereka.
  • Meningkatkan kualitas sumber daya di lingkungan tersebut. Tempat yang mengadopsi sistem pertanian berkelanjutan diketahui bisa meningkatkan ketahanan pangan, yang akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di tempat tersebut. Hasil akhirnya tentu saja seluruh sumber daya yang ada bisa dioptimalkan oleh sumber daya manusia yang berkualitas tersebut.
  • Penggunaan sumber daya alam yang efisien. Poin penting lain dari sistem pertanian berkelanjutan adalah penggunaan sumber daya alam yang tidak terbarukan bisa dilakukan secara efisien namun tetap optimal. Artinya kesehatan ekologi dan lingkungan amat terjaga dengan sistem ini.

Suatu komunitas dianggap telah mencapi sistem pertanian berkelanjutan apabila sudah mampu bercocok tanam dengan penggunaan energi yang efisien, jejak ekologi minimal, serta dengan pembelian lokal yang luas.

Ciri lainnya adalah dengan banyaknya kebun-kebun komunitas serta kebun-kebun rumah yang mampu memenuhi kebutuhan pangan komunitas secara mandiri dan berkesinambungan.

Rotasi tanaman – selain untuk mengisi kekosongan lahan, tanaman palawija diketahui bisa ditanam sebagai salah satu bentuk rotasi tanaman. Apa tujuannya?

Salah satu tujuan penting dari rotasi tanaman adalah untuk mengeliminasi hama dan parasit yang mengganggu dan merusak panen petani dari tanaman utama. Dengan mengganti jenis tanaman biasanya hama ini akan menghilang dengan sendirinya.

Artinya tanaman palawija pun berkontribusi terhadap salah satu bentuk pengendalian hama tanaman pokok dan pangan yang cukup efektif. Akhirnya kembali lagi berkontribusi terhadap kontinyuitas atau ketersediaan pangan yang terus menerus.

Ketahanan pangan – nah inilah salah satu tujuan utama mengapa petani di Indonesia digerakkan untuk menanamkan tanaman-tanaman palawija. Dengan bertanam beberapa tanaman palawija diharapkan kebutuhan masyarakat akan tanaman pokok bisa tercukupi.

Selain itu dengan menggerakkan para petani untuk menanam tanaman palawija artinya terjadi optimalisasi lahan, dimana banyak lahan-lahan tidur bisa ditanam dengan beberapa tanaman palawija.

Misalnya lahan tidur bekas kehutanan diketahui bisa ditanam oleh beberapa jenis tanaman palawija walaupun tanahnya tidak terlalu subur dan kering. Karena memang beberapa tanaman palawija tidak membutuhkan banyak air untuk menanam dan membudidayakannya.

Pada akhirnya bila sistem ini bisa terbangun dengan baik, dan dapat dijalankan secara optimal. Maka diharapkan Indonesia pada suatu titik akan mencapai ketahanan pangan dan menghindarkan masyarakat dari bahaya kelaparan.


Jenis Tanaman Palawija yang Mudah Dibudidayakan

Memang tanaman palawija sendiri ada banyak jenisnya, namun kami akan mencoba memberikan beberapa contoh tanaman palawija yang bisa dibudidayakan sendiri bahkan di kebun rumah yang kamu punya.

Wortel – Makanan berwarna oranye yang memiliki khasiat menjaga kesehatan mata ini ternyata bisa menjadi salah satu tanaman palawija yang mudah dibudidayakan loh. Lebih jauh lagi peminatnya pun dipasaran sangat banyak.

Karena pengolahan wortel sebagai makanan tidak terlalu sulit, dan kamu bisa memasaknya menjadi berbagai jenis makanan. Mulai dari sup, salad, hingga kamu kombinasikan dengan sayuran lain menjadi bakwan.

Tanaman wortel sendiri diketahui akan berbunga dalam jangka waktu 1 bulan setelah penanaman, dan sekitar 2 minggu setelahnya akan mekar. Bila bunga wortel sudah berwarna kecokelatan barulah bisa kamu panen.

Singkong – satu lagi tanaman palawija yang sangat populer di kalangan masyarakat baik di perkotaan maupun di pedesaan. Selain rasanya enak, singkong sendiri memiliki kadar karbohidrat yang tinggi sehingga bisa menjadi pengganti nasi sebagai makanan pokok.

Kalau yang satu ini sih barangkali kamu sendiri pasti sering melihatnya, sekalipun di perkotaan. Pasti ada saja lahan-lahan kosong walaupun berukuran kecil ditanami olehpohon singkong untuk dibudidayakan.

Hanya saja perlu kamu perhatikan bahwa masa panen tanaman singkong sendiri cukup lama yakni antara 8-10 bulan untuk setiap pohonnya. Namun memang saat ini ada beberapa varietas singkong yang memiliki masa tanam lebih pendek.

Mentimun – kalau yang satu ini barangkali kamu pasti tidak menyangka bukan? Bahwa timun merupakan salah satu tanaman palawija yang lazim di tanam oleh para petani di seluruh Indonesia saat ini.

Untuk timun sendiri tentu saja alasan utamanya adalah karena kebutuhannya yang boleh dibilang sangat tinggi. Hampir di semua makanan besar yang ada di Indonesia menjadikan timun sebagai pendamping, dan bahkan menjadi bahan dasar makanan tersebut.

Sebut saja ketoprak, soto, nasi goreng, hingga sate yang seringkali disajikan dengan acar timun. Karena kebutuhannya yang sangat tinggi itulah kemudian banyak pula petani yang bercocok tanam timun sebagai tanaman palawija.

Selain alasan itu, banyak petani yang bertanam mentimun karena masa panen yang dimiliki oleh timun bisa dikatakan cukup singkat yakni hanya 75 hari saja hingga bisa dipanen. Bahkan untuk timun-timun hybrid kamu bisa melakukan panen hanya dalam waktu 40 hari saja.

Kentang – selain singkong, kentang juga merupakan salah satu tanaman palawija yang populer karena pengolahannya sangat mudah, bisa dijadikan berbagai jenis makanan, dan memiliki karbohidrat yang cukup tinggi sehingga layak dijadikan makanan pengganti nasi.

Hanya saja perlu diketahui bahwa bercocok tanam kentang membutuhkan keterampilan dan tentu keahlian yang khusus. Karena relatif sulit dan biasanya cocok ditanam di dataran tinggi yakni mulai dari 500 m hingga 3000 m di atas permukaan air laut.

Meski demikian banyak petani yang menjadikan kentang sebagai tanaman palawija mereka karena masa panen yang boleh dikatakan cukup singkat yakni bisa dipanen mulai dari 80 hari hingga 120 hari bergantung dari varietas kentang yang ditanam.

Semangka – selain beberapa makanan yang tergolong umbi-umbian di atas, ternyata semangka yang justru buah-buahan dengan kadar air tinggi ini, digolongkan sebagai salah satu tanaman palawija loh!

Menariknya bila dulu semangka lazimnya ditanam di lahan pertanian yang luas dan dengan persiapan yang cukup rumit, saat ini kamu bisa menanam semangka di dalam pot hingga polybag di rumahmu sendiri loh.

Masa panen semangka sendiri tergolong singkat hingga sedang yakni bisa dipanen sekitar 70 hari hingga 100 hari pasca penanaman. Masa panen ini lagi-lagi nantinya bergantung dari varietas semangka yang ditanam.

Labu – salah satu jenis tanaman palawija dari golongan buah-buahan yang kami rekomendasikan untuk kamu tanam adalah labu. Sama seperti semangka, labu juga bisa ditanam dengan mudah tanpa harus memiliki kebun ataupun lahan yang luas.

Menariknya bahkan labu di masa sekarang justru dikenal sebagai salah satu tanaman hortikultura yang merupakan tanaman yang biasanya di tanam di kebun atau taman. Yah artinya sangat cocok bagi kamu yang memiliki waktu luang untuk berkebun sendiri di rumah.

Adapun masa panen rata-rata tanaman labu adalah selama 80 hari sejak pertama kali dilakukan penanaman. Namun hebatnya kamu bisa melakukan pemanenan buah labu dari tanamannya kira-kira 2 hingga 3 kali per minggu setelahnya.

Ubi – masih segolongan dengan kentang dan singkong dimana ubi merupakan salah satu umbi-umbian yang cukup populer. Bukan hanya di Indonesia, melainkan di beberapa negara di dunia, karena selain memiliki rasa manis yang enak ubi diketahui bisa menjadi pengganti makanan pokok yang cocok untuk diet.

Lebih jauh lagi ubi diketahui memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, terutama ubi ungu atau yang lazim dikenal dengan sebutan taro. Tidak heran kalau banyak petani yang menjadikan ubi sebagai salah satu tanaman palawija untuk dijual kembali.

Nah perlu diketahui bahwa masa panen dari ubi jalar adalah sekitar usia 3,5 hingga 4 bulan setelah dilakukan penanaman. Selain itu ada beberapa varietas ubi yang dipanen dalam usia 4 hingga 5 bulan pada cuaca panas, yah tapi rata-rata sih 4 bulan!

Kacang kedelai – kacang-kacangan diketahui memang menjadi salah satu kelompok tanaman yang tergolong ke dalam tanaman palawija. Kacang kedelai merupakan salah satu yang paling disukai oleh para petani.

Alasannnya adalah selain realtif mudah ditanam, kacang kedelai diketahui memiliki banyak penggemar di seluruh dunia. Terutama bagi kalangan-kalangan tertentu yang sedang menjalani diet.

Bagi kamu yang memutuskan untuk menanam tanaman kedelai sebagai salah satu tanaman palawija, bisa melakukan panen kacang kedelai di usia tanaman 75 hingga 100 hari pasca penanaman. Adapun bila ingin mendapatkannya kembali sebagai benih, bisa dipanen di atas usia 110 hari agar biji benar-benar matang.

Kacang panjang – sebagai salah satu makanan yang seringkali diolah menjadi makanan berat, rasa yang dimiliki kacang panjang cukup enak, sehingga menjadikannya bahan makanan yang digemari banyak orang di Indonesia.

Lebih terkenal sebagai sayur, kacang panjang diketahui juga seringkali ditanam oleh para petani untuk dijadikan tanaman palawija. Karena diketahui bisa membawa keuntungan yang cukup besar loh.

Selain itu menanam kacang panjang juga cukup menguntungkan karena bisa dipanen dalam waktu yang relatif singkat yakni sekitar 45 hingga 50 hari pasca penanaman dan bahkan bisa dipanen hingga 15 sampai 18 kali dalam satu kali masa tanam saja.


Syarat Pertumbuhan Tanaman Palawija

Sama seperti syarat pertumbuhan berbagai tanaman yang bisa dibudidayakan, kamu harus mengetahui beberapa persyaratan tumbuh bagi banyak tanaman palawija, sebelum mulai bercocok tanam palawija.

Faktor genetik dan varietas – salah satu persoalan penting yang harus kamu pelajari dan dalami adalah terkait faktor genetik dan varietas dari suatu tanaman palawija. Di dalam bercocok tanam faktor genetik bisa mempengaruhi banyak hal.

Mulai dari rasa, ukuran, kandungan gizi, hingga hal-hal yang berhubungan dengan masa panen, media tanam yang cocok, suhu dan kelembapan yang cocok bagi varietas tertentu dan cara perawatan tanaman.

Hal ini tentunya harus kamu pelajari dan perhitungkan sebelum mulai bercocok tanam tanaman palawija. Karena bila tidak nantinya kamu bisa kebingungan mengenai cara penanaman, perawatan, dan masa panen tanaman palawija yang kamu miliki.

Cuaca dan curah hujan – berhubungan dengan varietas tanaman palawija yang kamu pilih untuk tanam. Kamu harus menyesuaikannya dengan cuaca dan curah hujan rata-rata di daerah tempatmu tinggal.

Curah hujan sendiri nantinya akan berpengaruh terhadap kadar air di dalam tanah, kelembapan udah, serta secara tidak langsung juga akan mempengaruhi jenis tanah yang cocok untuk sebagian tanaman palawija.

Tinggi dari permukaan air laut – salah satu faktor penting yang harus kamu perhatikan adalah lokasi bercocok tanam yang kamu punya, berapakah ketinggiannya bila diukur dari permukaan air laut.

Hal ini karena nantinya ketinggian dataran akan sangat berpengaruh dengan jenis tanaman yang ingin kamu tanam, dan berbagai macam perlakuan yang bisa kamu lakukan terhadap tanaman palawija tersebut.

Bayangkan saja kamu yang hidup di ketinggian 100-200 m di atas permukaan air laut, memutuskan untuk menanam tanaman palawija yang hanya bisa tumbuh di ketinggian 1500 m di atas permukaan air laut. Tentu sia-sia bukan?

Kondisi tanah – meski kebanyakan tanaman palawija tergolong sebagai tanaman yang mudah untuk ditanam dalam skala rumah, tidak demikian hal nya bila kita berbicara penanaman dalam skala budidaya.

Bila memutuskan untuk membudidayakan tanaman palawija maka salah satu faktor penting yang harus kamu perhatikan adalah kondisi tanah di lokasi penanaman. Beberapa poin penting kondisi tanah yang harus diperhatikan misalnya:

  • Kondisi fisik tanah mulai dari struktur tanah hingga tekstur dari tanah yang ingin digunakan untuk bercocok tanam.
  • Keadaan kimiawi tanah yang biasanya berhubungan dengan kandungan zat hara di dalam tanah yang penting bagi kesuburan tanaman. Untuk yang satu ini sih memang cukup sulit ya untuk menilainya secara kasat mata.
  • Dekomposer, dimana biasanya di dalam tanah yang subur dan gembur akanbanyak terdapat fauna tanah baik yang berukuran mikro ataupun makro yang dapat menjadi dekomposer dan sangat bermanfaat terhadap kesuburan tanaman yang kamu punya.

Cahaya matahari – nah kalau yang satu ini sih kami yakin kamu semua sudah paham, bahwa cahaya matahari merupakan salah satu elemen penting yang harus ada di dalam bercocok tanam, termasuk palawija.

Untungnya kita hidup di Indonesia yang berada di seputar garis khatulistiwa, yang artinya negara kita di belahan manapun akan menerima cahaya matahari dengan intensitas yang rata-rata sama dan tinggi setiap tahunnya.

Hanya saja kamu harus memperhatikan curah hujan di daerahmu ya, beberapa daerah dengan curah hujan tinggi seperti Bogor misalnya. Tentu saja akan sering mengalami mendung yang pada akhirnya menghalangi terik matahari langsung untuk tanamanmu.

Fakhri Zahir

Penulis berpengalaman yang mengisi banyak konten di website populer. Pegiat dunia agrikultur dan kedokteran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *