Semua Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Hidroponik

Bercocok tanam merupakan salah satu kegemaran yang tidak bisa dipisahkan dengan banyak orang sejak zaman dahulu. Mulai dari kalangan tua hingga orang-orang berusia muda pasti ada sebagian yang cinta dengan dunia bercocok tanam ini.

Tidak heran, karena saat kamu bercocok tanam ada sedikit kebahagiaan terutama apabila tanaman yang kamu tanam bisa tumbuh dengan suburnya. Apalagi bila kamu menanam tanaman hias yang cantik dan bisa memperindah rumahmu.

Diantara para pecinta tanaman tersebut boleh dibilang saat ini terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni pecinta tanaman hias dan pecinta tanaman konsumsi seperti sayur-sayuran dan tentu saja buah-buahan.

Lebih jauh lagi ada satu aliran yang belakangan ini cukup menjadi tren yakni cara bertanam hidroponik. Tapi sebenarnya apakah itu hidroponik? Kamu bisa mengikuti serial tulisan kami mengenai hidroponik agar bisa melakukannya sendiri di rumah.

Dimulai dari artikel ini ya!


Apa itu Hidroponik?

Apa itu Hidroponik

Sebelum mulai memahami apa itu hidroponik, kami akan menjawab salah satu pertanyaan yang cukup sering ditanyakan kepada kami. “Apakah sistem hidroponik layak untuk dicoba?” Jawabannya tentu saja “Ya!”

Sistem hidroponik amat layak dan memungkinkan untuk dicoba, baik untuk kamu yang memulai dengan skala rumahan hingga orang-orang yang ingin langsung terjun ke skala industri. Toh karena memang secara nilai pun sangat menguntungkan.

Tapi pertama-tama, simak dulu definisi hidroponik berikut ini!

Hidroponik merupakan suatu metode penanaman tanaman dengan menggunakan air yang diperkaya nutrient dengan medium inert”

Mungkin terdengar asing, tapi mari kita coba pilah satu persatu. Inti dari hidroponik adalah melakukan penanaman di medium inert, yakni medium yang tidak memiliki kandungan nutrisi sama sekali, misalnya tanah lempung, kerikil, hingga bahkan media styrofoam dan spons.

penanaman di medium inert

Kendati demikian tentu saja tanaman tetap membutuhkan nutrisi untuk tetap tumbuh. Nah pada metode hidroponik nutrisi akan langsung disalurkan dari air yang diperkaya nutrisi kepada akar dari tanaman yang kamu tanam.

Perbedaan terbesar antara bercocok tanam dengan media tanah dan tanpa tanah alias soil-less adalah bagaimana cara akar tanaman mencari nutrisi. Perbedaan inilah yang nantinya akan memengaruhi pula perbedaan masalah dan bagaimana cara tanaman tumbuh dengan hidroponik, dibandingkan dengan metode konvensional.

Bila bercocok tanam dengan media tanah kamu haurs menanam tanaman hingga akar menembus ke dalam tanah untuk mengambil zat hara di dalamnya. Adapun sistem hidroponik memaksa akar mengambil zat hara langsung dari akar ke air.

Tapi pertanyaan selanjutnya mungkin akan muncul, apa sih kelebihan bercocok tanam menggunakan metode hidroponik dan apa pula kekurangannya?


Mengapa Memilih Hidroponik?

Mengapa Memilih Hidroponik?

Setiap metode tanam bisa dipastikan memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Kamu bisa mempertimbangkan mana metode yang ingin kamu pakai berdasarkan kelebihan dan kekurangan tersebut.

Kelebihan Metode Hidroponik

Ada beberapa alasan mengapa kamu harus memilih teknik hidroponik sebagai salah satu metode untuk bercocok tanam. Yuk kita bahas satu persatu agar kamu tidak kebingungan.

Waktu tumbuh – salah satu keuntungan dari penggunaan teknik hidroponik adalah kecepatan tumbuh tanaman yang lebih cepat dibandingkan dengan teknik konvensional. Karena bila bercocok tanam di tanah, tanaman membutuhkan waktu untuk mencari nutrisi di dalam tanah.

Secara umum untuk jenis tanaman yang sama, maka akan membutuhkan waktu panen yang lebih cepat bila ditanam secara hidroponik dibandingkan dengan penanaman secara konvensional. Maka secara produktivitas bisa dikatakan tanaman hidroponik tentu lebih baik.

Ukuran tanaman – alasan kedua yang bisa kamu pertimbangkan mengapa kamu harus melakukan penanaman tanaman dengan metode hidroponik adalah karena tanaman yang ditanam secara hidroponik memiliki ukuran yang cenderung lebih besar.

Karena tanaman yang ditanam secara hidroponik tidak banyak fokus ke dalam perakaran dbandingkan dengan tanaman yang ditanam di tanah. Sehingga proses perkembangannya bisa dimaksimalkan ke batang dan percabangan.

Rasa – meski bisa dibilang masih cukup kontroversial, salah satu hasil yang menarik yang bisa didapatkan dari tanaman yang ditanam secara hidroponik adalah rasa yang dikeluarkan. Diketahui tanaman hidroponik memiliki rasa yang jauh lebih kaya.

Hal ini diketahui karena semakin cepat tanaman mengambil makanan melalui akar, maka lebih cepat mereka membuat terpenes, semakin cepat laju pertumbuhan, dan kemudian akan memengaruhi cita rasa yang dimiliki oleh tanaman tersebut.

Lebih ekonomis – dalam beberapa literatur disebutkan bahwa ketika kamu bercocok tanam dengan metode hidroponik maka kamu akan menghemat jumlah air jauh lebih banyak dibandingkan bila kamu bercocok tanam di tanah.

Bahkan ada beberapa klaim yang menyebutkan bahwa kamu bisa menghemat penggunaan air hingga 80-90% apabila bercocok tanam dengan menggunakan metode hidroponik ini, tentu penghematan yang luar biasa bukan.

Selain itu apabila kamu menggunakan metode hidroponik dalam bercocok tanam, diketahui laju produksi bisa bertambah 3 hingga 10 kali lipat pada luas tanam yang sama dibandingkan dengan bercocok tanam langsung di tanah.

Kamu pun tidak membutuhkan zat-zat kimia tambahan sebagaimana yang biasanya diperlukan apabila bercocok tanam di tanah. Misalnya zat anti gulma ataupun anti hama, yang tentu bisa juga menekan biaya produksi.

Selain itu media tanam dan sistem yang bisa digunakan secara berulang-ulang tanpa harus pengolahan yang rumit pun bisa membuat proses penanaman tanaman secara hidroponik menjadi lebih murah dibandingkan menanam tanman di tanah.

Nutrisi langsung – salah satu kelebihan dari sistem penanaman hidroponik adalah tanaman yang kamu tanam akan mendapatkan nutrisi secara langsung. Alasan ini sudah lebih dari cukup agar kamu memilih hidroponik.

Dengan mendapatkan nutrisi secara langsung, tanaman yang kamu tanamkan tidak perlu mengembangkan sistem perakaran yang terlalu besar dan kompleks untuk menyerap nutrisi. Artinya tanaman lebih cepat tumbuh dan lebih cepat mengembangkan organ-organ vitalnya. Hasil akhirnya adalah produktivitas yang meningkat dengan pesat.

Kelebihan lain adalah air tidak meretensi atau menahan nutrisi, adapun tanah biasanya menahan sebagian nutrisi yang dipunya. Jadi ketika kamu menanam tumbuhan di tanah tidak 100% dari nutrisi yang ada akan diserap, sebaliknya pada hidroponik 100% nutrisi akan diserap tumbuhan.

Secara matematis sebagian orang berteori bahwa tanaman yang ditanam dengan metode hidroponik akan memangkas ¼ waktu tanam di tanah namun meningkatkan 25% hingga 30% produktivitasnya.

Kontrol penuh – alasan terakhir mengapa kamu harus memilih metode hidroponik adalah karena lingkungannya yang bisa kamu kontrol secara maksimal. Alasan inilah yang membuat kamu bisa ‘mengatur’ seberapa produktif tanaman yang kamu punya.

Bila bercocok tanam di tanah biasanya tanaman tidak akan langsung bergejala apabila terjadi sesuatu. Begitupun kamu, setelah mengetahui masalahnya kamu akan cenderung lebih lama untuk menyelesaikannya. Hal inilah yang kemudian di-overcome oleh metode hidroponik.

Kekurangan Metode Hidroponik

Sebagaimana yang telah kami jelaskan bahwa bercocok tanam dengan metode ini berarti kamu memiliki kontrol penuh terhadap tanamanmu. Namun sayangnya hal ini bisa menjadi pisau bermata dua yang tentu membuatmu pusing.

Dengan memiliki kontrol penuh terhadap pertumbuhan tanaman, artinya kamu juga bertanggung jawab secara penuh terhadapnya. Dengan kata lain tanaman hidroponik cenderung lebih manja dan harus diperhatikan dengan detil.

Misalnya saja bila ada langkah penting yang terlewat, pH air yang tidak seimbang, atau bahkan nutrisi air yang tidak mencukupi, pastinya akan menyebabkan kebun hidroponikmu menjadi gagal panen.

Selain itu salah satu kebutuhan dari sistem hidroponik adalah banyaknya peralatan untuk menunjang hidup tanaman. Nah ketika ada kegagalan satu alat saja, bisa dipastikan pertumbuhan tanaman akan terganggu.

Apalagi bila peralatan yang rusak tersebut menyuplai air dan/atau oksigen yang merupakan dua unsur yang sangat penting di dalam bercocok tanam dengan metode hidroponik ini, bisa-bisa tanamanmu akan mati dengan begitu cepatnya.

Berhubungan pula dengan peralatan tersebut, pastinya kamu sudah bisa menebak kalau metode bercocok tanam hidroponik ini tidaklah murah. Bahkan bila kamu memutuskan untuk mencobanya dalam skala rumahan saja.

Bila dibandingkan dengan bercocok tanam di kebun rumah tentu saja uang yang harus kamu keluarkan untuk mempersiapkan “kebun hidroponik” ini akan lebih mahal, bahkan jauh lebih mahal bila menggunakan alat-alat yang cukup mewah.

Jadi sebelum memutuskan untuk melakukan bercocok tanam dengan metode hidroponik ini, tentu akan lebih bijaksana apabila kamu sudah mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Mulai dari waktu, ilmu, dan tentu uang!


Media Tanam Hidroponik

Salah satu unsur penting yang harus diperhatikan dalam metode hidroponik adalah medium tumbuh dari tanaman yang ingin kamu gunakan. Saat ini seiring dengan berkembangnya teknologi, diketahui ada sangat banyak medium yang bisa kamu gunakan.

Namun secara umum ada beberapa medium saja yang digemari untuk bercocok tanam dengan metode hidroponik yakni perlite, rockwool, clay pellets, hydroton, serta vermiculite. Kalau kamu terlalu asing, kamu bisa pertama kali mencoba dengan menggunakan spons, sekam bakar, hingga sabut kelapa.

Inti dari medium yang kamu gunakan untuk menanam tumbuhan dengan hidroponik adalah inert atau tidak memiliki kandungan nutrisi apapun. Namun media ini tetap bisa tumbuhan membuat perakaran yang nantinya langsung mengakses air dengan nutrisi di bagian bawahnya.

Media tanam perlite

Media tanam perlite – merupakan media tanam yang berbahan dasar batuan silika yang dipanaskan dengan suhu yang tinggi sehingga terekspansi dengan kerikil-kerikil yang berongga diantaranya.

Media tanam ini meimliki sistem aerasi yang sangat baik, pH yang netral, serta memiliki bobot yang ringan. Bahkan media tanam ini disebut-sebut memiliki bobot yang setara dengan busa spons dan styrofoam.

Selain itu media tanam perlite diketahui pula memiliki daya serap air yang cukup baik, namun memang tidak memiliki kemampuan retensi atau menahan air dengan cukup baik. Sehingga kadang penggunaannya dicampur misalnya dengan sabut kelapa atau vermiculite.

Media tanam rockwool

Media tanam rockwool – boleh dibilang merupakan salah satu media tanam yang paling populer di dunia per-hidroponik-an. Terutama media ini sangat banyak digunakan oleh para pegiat hidroponik di Indonesia.

Rockwool memiliki bentuk seperti busa dimana ia memiliki serabut-serabut yang halus dengan bobot yang cukup ringan. Selain itu bahan ini disebut rockwool karena memang bahan dasarnya adalah batuan basalt.

Batuan basalt ini dipanaskan dengan suhu yang tinggi hingga batuan meleleh dan dibuat serat-serat dari lelehan tersebut. Rockwool sangat baik dijadikan media tanam karena memiliki kemampuan penyimpanan air yang bagus serta seringkali digunakan bersama media tanam lain.

Salah satu kekurangan penggunaan rockwool adalah kamu harus memberikan air secara pas, tidak boleh berlebihan ataupun kekurangan. Karena margin yang sempit inilah kamu harus memperhatikan secara detil soal air yang kamu berikan kepada tanaman mu.

Media tanam clay pellets

Media tanam clay pellets adalah salah satu media tanam yang cukup populer di luar negeri. Meski demikian kebanyakan pegiat hidroponik menggunakan media tanam ini bersamaandengan rockwool.

Penggunaan media tanam ini boleh dibilang termasuk yang paling mudah karena kamu cukup menaruh sekeranjang clay pellets untuk kemudian kamu letakkan tanaman yang sudah berakar di media tanam tersebut.

Media tanam ini memungkinkan akar untuk tumbuh secara sangat bebas karena akan ada banyak ruang untuk akar bertumbuh. Namun kekurangan dari media tanam ini adalah harus dilakukan pre treatment serta dilakukan pembersihan dengan baik.

Media tanam hydroton

Media tanam hydroton – media tanam ini merupakan salah satu media tanam yang dibuat dari bahan dasar lempung yang kemudian dipanaskan. Media tanam ini umumnya berbentuk bulat-bulat dengan ukuran antara 1 hingga 2,5 cm.

Nantinya di dalam hydroton akan ada pori yang memungkinkan tanaman mengambil nutrisi dari dalam hydroton. Pori yang ada ini bisa mengambil air penuh nutrisi sehingga ketersediaan nutrisi untuk tanaman bisa terjaga tenganbaik.

Selain itu bentuknya yang bulat-bulat juga memungkinkan pengurangan risiko terjadinya kerusakan pada akar tanaman. Selain itu bentuk yang bulat-bulat memungkinkan adanya ruang-ruang bebas untuk oksigenasi akar.

Salah satu hal yang perlu kamu perhatikan apabila kamu ingin menggunakan media tanam hydroton adalah dengan cara membersihkan media tanam ini secara menyeluruh. Apalagi bila pernah digunakan karena seringkali ditempeli lumut atau algae dan kotoran.

Media tanam vermiculite

Media tanam vermiculite – serupa dengan perlite, media tanam vermiculite merupakan media tanam yang dibuat dari bahan dasar batuan yang kemudian dipanaskan dalam suhu yang sangat tinggi sehingga terekspansi.

Hanya saja ada satu alasan mengapa vermiculite dianggap lebih superior daripada perlite yakni kemampuannya menyimpan air yang lebih baik daripada vermiculite. Bahkan jauh lebih baik sehingga tanamanmu lebih well-watered dan oksigenasinya pun jauh lebih baik.

Namun dalam penggunaannya justru harus dicampur dengan perlite, karena bila penggunaan vermiculite sendiri diketahui justru akan merusak akar dari beberapa jenis tanaman yang ditanamkan secara hidroponik ini.

Media tanam cocopeat

Media tanam coco peat – dari namanya barangkali kamu bisa menebak kalau media tanam cocopeat merupakan media tanam yang dibuat dari bahan dasar serbuk sabut kelapa. Boleh dikatakan media tanam cocopeat merupakan media tanam yang bersifat organik.

Dalam penggunaannya cocopeat seringkali dicampur dengan sekam bakar, dengan perbandingan tertentu seperti 50/50. Selain itu perlu diketahui pula bahwa cocopeat memiliki kemampuan daya serap air yang baik serta memiliki pH yang cukup stabil.

Hanya saja tingkat aerasi alias rongga-rongga udara di dalam cocopeat cukup kecil karena daya serap airnya yang tinggi. Itulah alasannya mengapa kamu harus menggunakan sekam bakar untuk menambahkan tingkat aerasi media tanam.


Sistem Hidroponik

Sebenarnya sistem penanaman tanaman tanpa tanah bukanlah hal yang baru, bahkan percaya atau tidak bahwa sistem hidroponik yang kamu kenal saat ini sudah ada di muka bumi ini sejak berabad-abad yang lalu.

Taman Gantung Babilonia

Salah satu contoh yang paling terkenal adalah Taman Gantung Babilonia yang saat ini dikenal sebagai salah satu dari keajaiban dunia kuno. Taman Gantung Babilonia dikatakan sebagai salah satu water gardening pertama di dunia.

Namun memang hingga saat ini ada banyak teknologi hidroponik yang berkembang seiring dengan perkembangan teknologi pula. Perlu diingat pula bahwa bahwa tidak ada sistem yang lebih superior dari sistem yang lain, melainkan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Deep Water Culture (DWC)

Deep Water Culture (DWC) – DWC merupakan salah satu teknik hidroponik yang dianggap termasuk paling mudah. Kamu cukup meletakkan tanaman di dalam wadah berisi media dan lalu akarnya langsung menuju air yang dioksigenasi.

Salah satu ciri khas dari DWC adalah air yang penuh nutrien langsung diberikan kepada akar, penggunaan pompa udara, serta air stone yang dimaksudkan agar akar tanaman juga bisa mengambil nutrient sekaligus oksigen.

Meski demikian poin penting yang perlu kamu perhatikan bila ingin menggunakan teknik ini adalah pompa harus terus menyala, serta kamu harus mengganti air dengan aman dan secara reguler.

Nutrient Film Technique (NFT)

Nutrient Film Technique (NFT) – teknik NFT adalah teknik hidroponik yang cukup menarik dan boleh dikatakan lebih rumit dibandingkan dengan teknik DWC yang hanya bergantung kepada pompa air.

Perakaran pada sistem NFT dimasukkan di dalam wadah dalam sudut tertentu dengan aliran air yang konstan, yang berasal dari wadah berisi air penuh nutrisi. Kemudian aliran air tersebut akan dialirkan balik ke wadah berisi air penuh nutrisi di bawahnya.

Sistem ini boleh dibilang lebih rumit dibandingkan dengan DWC, karena selain membutuhkan air stone, kamu juga membutuhkan pompa air untuk mengalirkan air naik dari wadah berisi air bernutrisi ke wadah di atasnya yang bersentuhan langsung dengan perakaran tanaman.

Aeroponik

Aeroponik – dibandingkan dengan kedua metode sebelumnya, teknik aeroponik adalah teknik yang paling maju. Teknik ini dilakukan dengan cara ‘menggantung’ tanaman di udara, dimana di bagian bawahnya terdapat wadah berisi air.

Air kemudian akan diberikan langsung kepada perakaran dengan cara disemprotkan dengan menggunakan sprayer. Meski terdengar sederhana, teknik ini lebih tricky dibandingkan dengan dua teknik sebelumnya.

Karena penyemprotan menggunakan sprayer ini harus dilakukan dengan teratur dan tepat, pengaturan dengan menggunakan timer dan jumlah air yang disemprotkan menjadi penting. Kapan harus disemprot, dan seberapa banyak air yang harus disemprotkan agar air tetap hidup.

Wicking

Wicking – sebaliknya, teknik ini merupakan salah satu teknik hidroponik yang paling tua dan yang paling mudah untuk bisa diterapkan. Teknik inipun termasuk ke dalam teknik yang cukup sering digunakan.

Cara melakukan teknik ini adalah dengan menanamkan tanaman ke media tanam yang kemudian dialirkan air sehingga media tanam menjadi lembab. Untuk teknik yang satu ini pemilihan media tanam adalah salah satu faktor yang penting.

Sayangnya meski tergolong paling mudah, teknik wicking diketahui tidak terlalu efektif untuk digunakan pada tanaman yang besar. Karena metode ini hanya bisa mengirimkan nutrisi dalam jumlah yang terbatas kepada sistem perakaran tumbuhan.

EBB and Flow Hydroponics

EBB and Flow Hydroponics – memiliki nama yang paling rumit, dan juga pengaturan dan peralatan yang lebih rumit dibandingkan beberapa teknik sebelumnya, teknik ini justru merupakan teknik hidroponik yang paling populer saat ini.

Perbedaan sistem ebb dan flow ini adalah, tanaman tidak mendapatkan aliran air yang konstan layaknya sistem NFT dan DWC. Alih-alih tanaman akan mendapatkan aliran air dengan nutrisi sehingga tanaman bisa menyerap nutrisi, kemudian air akan dikeringkan hingga “next feeding”.

Sistem ini dikatakan sangat efektif untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu sistem ini juga termasuk ke dalam sistem yang sangat fleksibel untuk nyaris semua setup yang direncanakan. Intinya sistem ini bisa beradaptasi dengan nyaris seluruh lingkungan tumbuh tumbuhan di rumahmu.

Drip Systems

Drip Systems – tergolong ke dalam salah satu sistem yang paling mudah, dan sudah digunakan sejak bertahun-tahun yang lalu. Hanya saja sistem ini bergantung kepada kualitas media yang dimiliki, selain itu  sistem ini bisa digunakan oleh banyak orang dengan latar belakang kemampuan dan pengetahuan terhadap hidroponik yang beragam.

Tanaman bergantung kepada aliran air bernutrisi terhadap media tanam yang kamu gunakan. Oleh karena itulah semakin baik kemampuan retensi media terhadap air maka semakin baik pula pertumbuhan dari tanaman yang kamu rawat.

Hanya saja salah satu kekurangan dari sistem ini adalah seringkali terjadi penyumbatan di saluran air, terutama apabila kamu tidak menggunakan nutrien yang organik. Karena nutrien organik memiliki elemen yang cukup sulit untuk mengendap dan menyumbat saluran air.


Tips Terakhir Sebelum Benar-Benar Memulai Taman Hidroponikmu Sendiri

Barangkali saat ini kamu berpikir bahwa metode hidroponik merupakan salah satu metode yang justru rumit dan membuatmu semakin malas mencobanya. Tapi tunggu dulu, karena kami akan menyediakan berbagai tips lainnya di artikel lain kelak agar kamu bisa membuat taman hidroponikmu.

Membuat jadwal makan teratur – mengingat hidroponik merupakan sistem yang terkontrol penuh, kamu harus membuat jadwal yang teratur terkait pemberian zat tambahan dan pemberian makanan pada tumbuhanmu.

Kamu harus memberikan makanan secara teratur, sesuai dengan rekomendasi pembuat nutrisi dan sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam. Perlu diingat pula untuk selalu memberikan makanan khusus bagi tanaman hidroponik dan bukan nutrisi untuk tanaman yang ditanam di tanah.

Menjaga suhu air tetap ideal – komponen penting lain di dalam hidroponik selain nutrisi adalah air. Salah satu faktor yang bisa menjaga kualitas air adalah dengan cara menjaga suhu air agar tetap ideal.

Idealnya suhu air hidroponik dijaga antara 18 hingga 25oC agar pertumbuhan bisa optimal. Suhu ini amatlah penting karena memang akar merupakan organ yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu air yang terjadi.

Menjaga pH tetap ideal – selain dari menjaga suhu air, menjaga pH atau tingkat keasaman dari suatu lingkungan hidroponik adalah salah satu faktor penting lainnya yang bisa menentukan keberhasilan dari sistem hidroponik tersebut.

Salah satu indikator utama bahwa pH dari lingkungan hidroponik terganggu adalah ketika tanaman yang kamu punya tampakberubah warna atau bentuk fisiknya berubah. Selain kecukupan nutrisi dan oksigenasi, kamu harus curiga bahwa terjadi imbalans atau ketidakseimbangan pH.

Cahaya – di dalam menanam tanaman dengan teknik hidroponik, kamu selalu memiliki dua buah wadah utama. Wadah yang pertama adalah wadah berisi air penuh nutrisi yang siap untuk dialirkan ke tanaman, dan wadah kedua adalah wadah berisi tanaman dengan medianya.

Tanaman yang kamu tanam tentu saja membutuhkan cahaya matahari yang cukup untuk bertumbuh. Nah tapi perlu kamu ketahui, jangan sampai ada cahaya masuk ke dalam air berisi nutrisi di wadah yang satunya, karena akan memicu pertumbuhan lumut ataupun algae.

Bersih-bersih – meskipun teknik hidroponik ini relatif lebih bersih dan steril dibandingkan dengan teknik menanam di tanah, tetap saja kamu harus selalu menjaga kebersihan lingkungan hidroponik yang kamu punya.

Terutama setiap kali kamu selesai panen dan ingin memulai menanam tanaman yang baru. Selalu kuras air yang telah digunakan, bersihkan seluruh kotoran terkecil, dan gunakan cairan sterilisasi. Bisa dengan pemutih non klorin 1:8 dengan air, ditambahkan dengan 1 galon air.

Selain itu apabila kamu menggunakan sprayer, springkle, selang, pompa, dan hal-hal serupa, pastikan bahwa peralatan tersebut bersih dari sumbatan-sumbatan. Karena biasanya nutrisi anorganik akan menyumbat peralatan tersebut dan membuat pemberian makanan menjadi terganggu.

Itulah tadi sekelumit hal yang perlu kamu tahu tentang hidroponik. Tentu saja masih banyak hal yang bisa kamu pelajari terkait hidroponik ini. Oleh karena itulah kamu bisa melanjutkan membaca berbagai macam hal secara lebih mendetil di situs kami ya!

Fakhri Zahir

Penulis berpengalaman yang mengisi banyak konten di website populer. Pegiat dunia agrikultur dan kedokteran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *