Cara Menanam Tomat Hidroponik

Sebagai salah satu metode bercocok tanam yang mudah dan murah, hidroponik saat ini sangat digemari oleh banyak orang dari berbagai kalangan. Khususnya saat ini banyak orang-orang di kota besar yang juga mencoba bercocok tanam secara hidroponik.

Berbeda dengan metode konvensional yang terkesan ‘kotor’ karena harus berurusan dengan tanah, pupuk, dan berbagai tetek bengeknya. Hidroponik menawarkan cara penanaman yang relatif bersih sehingga banyak orang di perumahan yang tertarik untuk melakukannya.

Hidroponik pun bisa digunakan untuk menanam berbagai macam sayur-sayuran, mulai yang berbentuk daun seperti bayam, selada, ataupun kangkung, hinga menanam tomat. Ya, tomat pun ternyata bisa kamu tanam dengan menggunakan metode hidroponik loh!

Sebelum kamu memulai bercocok tanam tomat secara hidroponik, ada beberapa hal penting yang harus kamu persiapkan. Hal ini tentunya agar nanti ketika kamu menanam tomat hidroponik, tidak kesulitan dan hasilnya pun akan optimal.


1. Tentukan Bibit Tomat

tentukan bibit tomat

Satu hal yang cukup penting tentu saja proses pemilihan bibit tomat. Sebelum kamu membaca mengenai teknik-teknik hidroponik maka kamu harus mengerti dulu bibit tomat apa yang ingin kamu tanamkan secara hidroponik.

Adapun beberapa bibit tomat yang cukup terkenal di kalangan pekebun tomat adalah sebagai berikut ini:

Tomat Apple Yellow, merupakan salah satu jenis tomat yang pernah dikompetisikan dan membuat para juri AAS terkesan dengan rasanya.

Tomat Apple Yellow berbentuk mungil berwarna oranye kekuningan dan memiliki aroma citrus yang manis. Tomat jenis ini diketahui memiliki masa panen sekitar 110 hinga 120 HST (hari setelah tanam), dan diketahui pula bahwa tomat jenis ini memiliki produktivitas yang sangat tinggi. Hanya saja memang benih dari tomat ini setahu kami belum bisa ditemukan secara luas.

Tomat Celano, salah satu jenis tomat terbaik yang menurut kami bisa kamu budidayakan. Tomat ini relatif kuat dan bisa ditanam bahkan di tempat yang terkena sinar matahari penuh secara terus menerus. Salah satu keunggulan yang dicari dari tomat Celano adalah masa panennya yang hanya 60 hingga 70 HST saja.

Lebih lanjut lagi tomat Celano diketahui memiliki ketahanan tinggi terhadap berbagai penyakit, seperti busuk daun misalnya. Sayangnya lagi-lagi benih dari jenis tomat ini merupakan salah satu benih tomat unggulan yang sulit sekali ditemukan di Indonesia.

Tomat Ultima, nah bila daritadi kebanyakan kami membahas jenis tomat-tomat yang sulit didapatkan saatnya kami membahas tomat unggulan lokal. Tomat Ultima produksi panah merah ini merupakan salah satu jenis tomat unggulan yang diketahui bisa dipanen dalam 90 hingga 97 HST.

Salah satu keunggulan dari tomat jenis ini adlah tahan terhadap virus Gemini serta virus TMV dan bakteri Ralstonia solanacearum.

Tomat Agatha, produk yang sama-sama diproduksi oleh panah merah ini merupakan tomat tipe inderteminate dengan produktivitas yang tinggi, besar-besar dan homogen. Masa panen dari tomat Agatha adalah 85 hingga 95 HST dengan keunggulan tahan terhadap virus Gemini.

Selain itu untuk memaksimalkan produktivitas dari tomat jenis ini kamu bisa menambahkan kalsium nitrat, kalium nitrat atau kalium karbonat, serta magnesium oksida dengan pH diantara 6,2 hingga 6,5.

Tomat Servo, berbeda dengan tomat Ultima dan Agatha yang lebih cocok ditanam di daerah dataran menengah dan tinggi, tomat jenis Servo ini cocok ditanam di dataran rendah hingga menengah. Tomat jenis ini juga diketahui memiliki produktivitas yang sangat tinggi serta sangat kuat.

Ia tahan terhadap cuaca panas dan berbagai jenis penyakit yang bisa menyerang tomat pada umumnya. Adapun masa panen dari tomat jenis ini adalah 62 hingga 65 HST, yang tentu saja jauh lebih cepat dibandingkan dengan berbagai jenis tomat lainnya. Karena hal itulah kemudian banyak orang yang gemar menanam tomat jenis ini.

Tomat Betavila, sama seperti jenis Servo dimana tomat ini merupakan salah satu jenis tomat yang sangat cocok ditanam di dataran rendah hingga dataran menengah. Dari segi ketahanan barangkali bukan yang terbaik, namun diketahui tanaman ini bisa menghasilkan buah yang cukup lebat dan bisa kamu panen hanya dalam 70 hingga 75 HST saja.

Perlu diingat pula bahwa tanaman ini cukup ‘manja’ dimana tidak bisa mendapatkan kelembaban yang terlalu tinggi serta tidak terlalu tahan terhadap fluktuasi suhu matahari yang keduanya bisa menyebabkan stress tanaman.

Tomat Permata, masih dari produsen panah merah, tomat ini merupakan salah satu varietas pilihan bagi kamu yang tinggal di dataran rendah. Memiliki masa panen 60 hingga 70 HST saja, serta diketahui memiliki ketahanan tinggi terhadap layu bakteri dan penyakit tomat akibat virus.

Sayangnya tomat ini tidak tahan terhadap virus Gemini sehingga bila kamu ketahui ada tanaman di tempatmu yang terkena virus Gemini, sebaiknya tidak menanam tomat jenis ini.

Tomat Galahad, tomat yang sangat kuat dan memang sesuai dengan namanya yakni Galahad yang merupakan salah satu ksatria milik Raja Arthur. Tanaman ini dinamakan Galahad karena ketahanannya terhadap banyak sekali penyakit yang luar biasa, selain itu tanaman ini pun diketahui bisa tubuh di lingkungan yang sulit dengan produksi buah tomat yang besar-besar.

Lebih jauh lagi tomat jenis ini memiliki masa panen yang cukup singkat yakni 75 HST saja. Sayangnya tomat jenis ini pun bibitnya sangat sulit didapatkan di Indonesia.

Tomat Red Cherry, dari namanya barangkali kamu bisa menebak bahwa tomat jenis ini merupakan tomat yang memiliki ukuran mungkil dan rasanya pun cukup manis. Diketahui tomat ini biasanya ditanam di dataran menengah hingga dataran tinggi dengan masa panen yang sangat singkat yakni hanya 60 hingga 65 HST saja.

Tomat Beefsteak, merupakan salah satu tomat unggulan dari produsen PT Bisi International, tomat ini diketahui memiliki buah yang besar dengan tipe pertumbuhan indeterminate.

Bentuk buah tomat beefsteak inipun gepeng dengan warna buah yang sangat menarik dengan berat 180 hingga 220 gram per buah! Masa panen dari tomat jenis ini diketahui adalah 75 hingga 80 HST.

Tomat Big Hybrid Tomato, dari namanya kamu jelas bisa menebak kalau tomat hybrid ini memiliki buah yang besar bukan? Nah tomat jenis ini diketahui memiliki masa panen yang relatif lebih lama dibandingkan dengan jenis lainnya yakni mencapai 85 HST.

Tomat ini memiliki tipe pertumbuhan indeterminate, dan lebih cocok kamu tanam di dataran menengah hingga dataran tinggi. Selain itu salah satu kelebihan dari bibit tomat jenis ini adalah tahan terhadap penyakit busuk daun akibat bakteri dan penyakit bercak daun.

Tomat Oval Yellow Cherry, salah satu jenis tomat yang cukup unik dan menarik karena memiliki bentuk mungil (sesuai dengan namanya) namun memiliki warna kuning terang, dimana kebanyakan tomat tentu saja memiliki warna merah – oranye terang.

Tomat Oval Yellow Cherry ini memiliki masa panen yang cukup singkat yakni 56 hingga 60 HST dengan tingkat kemanisan yang cukup tinggi. Selain itu perlu diketahui bahwa tomat jenis ini lebih cocok ditanam di dataran rendah hingga dataran yang tinggi.

Sebenarnya masih banyak jenis tomat yang bisa kami sebutkan di sini, namun sebaiknya kamu membacanya sendiri nanti ya untuk bereksperimen. Karena tentu saja artikel ini nanti akan terlalu panjang bila kami bahas seluruhnya.

Akan tetapi prinsipnya, kamu bisa memilih benih manapun yang ingin kamu tanam. Hanya saja pastikan kamu memiliki lingkungan tumbuh yang ideal sesuai dengan spesifikasi dari benih tomat yang kamu beli tersebut.

Untuk masalah rasa dan masa panen tentu saja bisa pula menjadi pertimbangan, namun lingkungan tumbuh ideal adalah yang utama. Sehingga nantinya kamu bisa menghasilkan tomat secara optimal dan maksimal.


2. Pahami Jenis Teknik hidroponik

Setelah kamu menentukan jenis bibit tomat yang ingin kamu budidayakan maka kamu bisa langsung membaca mengenai beberapa jenis teknik hidroponik yang akan kamu gunakan nantinya.

Bagi kamu yang masih pemula sebenarnya ada sangat banyak metode hidroponik dengan berbagai modifikasi di luar sana. Akan tetapi saran kami pelajarilah beberapa teknik dasar seperti Deep Water Culture (DWC), Nutrient Film Technique (NFT), Aeroponics, Wick System, hingga Drip System.

Adapun berbagai modifikasi dari teknik tersebut boleh kamu lakukan nantinya apabila kamu sudah mahir melakukan budidaya secara hidroponik.


3. Atur Kondisi tanam

Sebagaimana yang telah kami jelaskan berulang-ulang di atas bahwa untuk melakukan penanaman tomat kamu harus memiliki kondisi tanam yang ideal agar tanaman bisa tumbuh optimal dan tidak mudah mati ataupun terserang penyakit.

Berikut ini adalah beberapa faktor atau kondisi tanam yang perlu kamu perhatikan:

  • Suhu, merupakan salah satu komponen kunci ketika kamu melakukan budidaya dengan menggunakan teknik hidroponik, setelah larutan nutrisi. Karena larutan nutrisi adalah cairan (tentu saja!), sehingga relatif sensitif terhadap suhu. Larutan nutrisi akan mengikuti suhu lingkungan sekitarnya, artinya bisa sangat fluktuatif. Padahal tomat sendiri memiliki suhu tumbuh ideal rata-rata 14oC hingga 25oC, nah pastikan kamu bisa menjaga suhu larutan di rentang itu ya (atau sesuai dengan spesifikasi benih yang kamu beli).
  • pH, sama seperti suhu bahwa pH merupakan salah satu faktor yang sangat mudah berubah dalam larutan nutrisi. Ketika terlalu banyak zat A ataupun zat B, dan sebagainya, larutan nutrisi akan mengalami perubaha pH yang signifikan. Nah untuk tomat sendiri sebisa mungkin pertahankan pH diantara 5,7 hingga 6,2 ya.
  • Periode tumbuh, untuk periode tumbuh rata-rata tomat mulai dari 50an hari hingga 90an hari. Sesuaikan saja masa panen dengan periode tumbuh dan panen yang biasanya tertera di kemasan benih yang kamu beli.
  • Cahaya matahari, merupakan komponen penting yang tidak perlu terlalu kamu khawatirkan karena tentu saja Indonesia yang berada di garis khatulistiwa ini mendapatkan matahari penuh sepanjang hari. Hanya pastikan saja tomat tidak kelebihan matahari sehingga menyebabkan kekeringan dan mati.
  • Media tanam, dari sekian banyak media tanam padat untuk hidroponik kami sangat menyarankan kamu untuk menggunakan rockwool. Alasannya adalah karena hampir semua pegiat hidroponik di Indonesia menggunakan rockwool selain hydroton. Sehingga bila ada kesulitan atau masalah kamu bisa dengan mudah bertanya kepada pegiat hidroponik lainnya, selain itu tentu saja kamu bisa mendapatkan rockwool dengan mudah dan murah.
  • Teknik, dari sekian banyak teknik yang bisa kamu pilih beberapa teknik yang kami rekomendasikan adalah DWC maupun NFT. Akan tetapi pada akhirnya sih terserah kamu ya, karena memang hidroponik adalah eksperimen!

Seluruh faktor di atas merupakan faktor penting yang bisa memengaruhi keberhasilanmu di dalam menanam tomat secara hidroponik. Pastikan seluruhnya bisa terjaga agar tomat hidroponikmu bisa tumbuh secara maksimal.


4. Semai Bibit Tomat Hidroponik

Semai Bibit Tomat Hidroponik

Sebelum kamu bisa mulai bercocok tanam tomat di sistem hidroponik yang telah kamu buat sendiri, tentu kamu harus melakukan proses penyemaian. Cara penyemaiannya persis seperti cara menyemai bibit tomat secara konvensional.

Adapun beberapa peralatan dan bahan yang bisa kamu siapkan untuk menyemai bibit tomat adalah sebagai berikut ini:

  • Benih yang ingin disemai, lebihkan beberapa benih sesuai dengan keinginanmu.
  • Wadah besar atau tray besar untuk meletakkan tray semai
  • Wadah yang digunakan untuk menyemai atau tray semai.
  • Media tanam rockwool.
  • Tusuk gigi secukupnya.
  • Pinset satu buah.
  • Air secukupnya sesuai dengan ukuran wadah besar.

Sementara itu berikut ini adalah langkah-langkah untuk menyemai bibit tomat yang telah kamu beli:

  1. Ambil wadah yang besar yang telah kamu persiapkan sebelumnya. Isilah wadah besar tersebut dengan menggunakan air bersih, usahakan air yang digunakan bersifat ‘netral’.
    • Untuk air yang akan kamu gunakan melakukan penyemaian kami cukup menyarankan agar kamu menggunakan air tanah, air tampungan hujan, atau air sumur. Apabila menggunakan air PDAM maka bisa mempersiapkan air tersebut sebelumnya.
  2. Masukkan bibit tomat yang ingin kamu semai ke dalam wadah berisi air hangat yang kamu persiapkan tersebut. Hal ini dilakukan dengan tujuan melunakkan kulit bibit tomat tersebut.
  3. Sambil menunggu kamu bisa langsung mempersiapkan rockwool untuk media tanam tomat hidroponik tersebut.
    • Persiapkan rockwool sejumlah bibit yang ingin kamu tanam.
    • Caranya adalah dengan mengiris rockwool berukuran kubus sama besar (2,5 cm x 2,5 cm x 2,5 cm).
    • Lubangi rockwool dengan menggunakan tusuk gigi, hingga sedalam sekitar 1 cm.
  4. Letakkan rockwool tersebut pada baki dan masukkan bibit-bibit tomat pada rockwool. Jangan lupa untuk membasahi rockwool dengan menggunakan air.
    • Basahi secara perlahan dan pastikan seluruh permukaan rockwool menjadi lembab.
  5. Letakkan rockwool yang telah ditaruh bibit tomat tadi di tempat yang kering dan terkena sinar matahari.
  6. Bila daun tomat sudah mencapai 4 buah yakni 2 daun lembaga dan 2 daun sejati, maka tomat sudah siap dipindahkan ke sistem hidroponik. Biasanya proses ini akan memakan waktu sekitar 20 hari, atau tentu sesuai dengan jenis bibit yang kamu beli

Selama proses penyemaian ini pastikan bahwa rockwool tetap lembab dan terjaga lingkungan tumbuhnya.


5. Transplantasi dan Tanam Tomat di Sistem Hidroponik

Transplantasi dan Tanam Tomat di Sistem Hidroponik

Proses transplantasi ataupun pemindahan bibit tomat yang telah disemai merupakan langkah yang bisa kamu lakukan selanjutnya. Berikut ini adalah langkahnya:

  1. Pisahkan masing-masing rockwool yang sudah ditanami bibit tomat tersebut. Jangan lupa untuk memindahkan tomat yang berkualitas baik saja ya, tahap ini disebut dengan penyortiran.
  2. Pindahkan rockwool tersebut ke dalam sistem hidroponik yang sudah kamu siapkan sebelumnya. Masukkan masing-masing rockwool ke dalam netpot yang telah disiapkan sebelumnya.
  3. Adapun mekanisme penanaman tentu saja bervariasi tergantung dari teknik hidroponik yang ingin kamu gunakan.
  4. Isi sistem hidroponik dengan larutan nutrisi.
    • Nilai kadar larutan nutrisi ini bisa juga bervariasi antar jenis tomat. Saran kami kamu bisa membaca sesuai dengan rekomendasi yang biasanya dicantumkan di bungkus benih, atau tentu bisa bertanya kepada penjual toko benih tersebut.
    • Namun rata-rata kamu bisa mengatur kepekatan nutrisi sekitar 1300 ppm sebelum muncul bunga.
    • Setelah muncul bunga pada tanaman tomat yang kamu punya maka kamu bisa menaikkan kadar larutan nutrisi hingga 2000 ppm, dan apabila tomat sudah berbuah kamu bisa langsung menaikkan kadar larutan nutrisi hingga 3600 ppm.
  5. Potong tunas-tunas yang tidak memiliki buah atau bunga tomat, sehingga larutan nutrisi bisa menuju tunas-tunas berbuah secara maksimal.
  6. Lakukan pengecekan sistem hidroponik rutin, setidaknya lakukanlah selama 2 hari sekali.
    • Lakukan pengecekan tinggi air, kadar ppm larutan nutrisi, kebersihan wadah nutrisi secara umum, dan kondisi tanaman.
    • Pastikan ppm tetap terjaga dan kadar air tidak surut atau kering.
    • Jangan lupa lakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman.
  7. Bila sudah mencapai masa panen kamu bisa langsung memanen tomat tersebut.
    • Jangan memanen tomat lebih dari masa panen yang tertera atau spesifikasinya, karena akan menyebabkan rasa tomat menjadi tidak nikmat untuk dikonsumsi.
  8. Selesai!

Beberapa langkah di atas merupakan langkah-langkah paling mudah yang bisa kamu lakukan untuk menanam tomat secara hidroponik. Bila sudah mahir cobalah bereksperimen dengan menggunakan beberapa teknik sehingga kamu tidak bosan!

Selamat mencoba dan semoga berhasil!

Fakhri Zahir

Penulis berpengalaman yang mengisi banyak konten di website populer. Pegiat dunia agrikultur dan kedokteran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *