Cara Menanam Strawberry Hidroponik

Strawberry merupakan salah satu buah yang sangat digemari di seluruh dunia, hal ini karena selain rasanya yang unik buah ini juga diketahui memiliki berbagai macam vitamin dan mineral serta antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh.

Karena kepopulerannya itulah kemudian banyak orang yang memutuskan untuk menanam strawberry mereka sendiri di rumah. Karena sejujurnya memang cukup sulit untuk menemukan buah ini dalam kondisi segar, bahkan di supermarket sekalipun.

Menariknya strawberry ternyata bisa ditanam dengan menggunakan metode hidroponik lho. Hal ini tentunya menjadi angina segar bagi para pekebun urban yang tentu saat ini sedang gencar-gencarnya mempromosikan metode penanaman hidroponik di rumah.

Sebelum kamu bisa mulai menanam strawberry hidroponik di dalam sistem hidroponik yang kamu buat sendiri, ada baiknya kamu mempelajari dan tentu saja melakukan beberapa persiapan penting yang akan kami bahas pertama kali.

Hal ini sangat penting, khususnya bagi kamu yang masih awal di dalam dunia hidroponik, karena memang dunia hidroponik agaknya sedikit berbeda dengan budidaya tanaman secara konvensional.

Selain itu pun dengan mempelajari segala sesuatunya di awal, tentu saja akan mengurangi kemungkinan terjadinya gagal panen. Pun bila ditemukan adanya masalah harapan kami adalah kamu bisa mencari tahunya sendiri sebelum terlalu banyak bertanya kepada orang lain.


1. Tentukan Jenis Bibit Strawberry

Tentukan Jenis Bibit Strawberry

Hal paling mendasar yang perlu kamu pelajari sebelum mulai bercocok tanam strawberry secara hidroponik adalah memahami jenis bibit Strawberry yang ingin kamu tanam.

Menentukan jenis bibit yang kamu tanam adalah hal yang sangat penting karena masing-masing bibit dan jenis strawberry memiliki karakteristik pertumbuhan yang berbeda-beda yang harus kamu penuhi.

Nah di Indonesia sendiri ada beberapa jenis Strawberry yang lazim ditanam terutama secara konvensional oleh para petani serta para pekebun hidroponik baik untuk secara pribadi ataupun untuk dijual kembali.

Strawberry Fresca; Strawberry ini merupakan salah satu jenis yang cukup populer karena mampu menghasilkan buah dengan ukuran sedang serta produktivitas yang juga sangat tinggi.

Menariknya strawberry jenis ini sangat cocok untuk ditanam di dalam pot sehingga ideal untuk ditanam dengan menggunakan teknik hidroponik . Adapun masa panen dari strawberry jenis ini adalah mencapai sekitar 85 hari setelah tanam HST).

Strawberry California; merupakan salah satu jenis yang paling umum ditanam karena memang diketahui memiliki rasa manis dan asam yang khas, dan yang paling penting adalah karena memiliki produktivitas yang cukup tinggi.

Nah tanaman ini sangat direkomendasikan untuk ditanam di tempat-tempat dengan iklim yang sejuk dan dingin, atau di dataran tinggi dengan suhu ideal rata-rata 20 derajat C.

Strawberry Earlybite; adalah salah satu tanaman hibrida impor dari negara Amerika Serikat. Strawberry jenis ini pada awalnya merupakan salah satu buah yang dikembangkan dengan tujuan memenuhi kebutuhan buah di musim dingin yang bisa dipanen lebih cepat di Florida.

Ciri khas dari jenis strawberry ini adalah rasa yang lebih manis dan beraroma manis, dengan tekstur yang lebih keras sehingga bisa mengatasi masalah ‘benyek’ saat pengiriman buah, mengingat strawberry jenis ini (sebelum disilangkan) berukuran cukup kecil sehingga awalnya mudah sekali rusak saat pengiriman.

Strawberry Sweet Charlie; merupakan salah satu jenis strawberry impor yang bisa kamu temukan dengan mudah. Jenis ini awalnya berasal dari Amerika Serikat dan memang sengaja diimpor untuk kemudian dibudidayakan secar aluas di seluruh dunia.

Buahnya sangat disukai baik oleh para petani maupun oleh para konsumen karena selain sangat produktif dan tahan terhadap penyakit, buah dari strawberry jenis ini diketahui cukup manis dan besar.

Strawberry Oso Grande; masih berasal dari negeri Paman Sam, strawberry jenis ini juga tergolong sebagai salah satu jenis yang paling banyak dibudidayakan di seluruh dunia karena ukuran buahnya yang cenderung sangat besar tapi padat berisi. Selain itu banyak pula petani yang menanam buah jenis ini karena memiliki nilai ekonomis dan produktivitas yang sangat tinggi.

Strawberry Hokowaze; nah dari namanya saja barangkali kamu bisa menebak bukan kalau strawberry jenis ini merupakan salah satu yang berasal dari negara Jepang, atau tepatnya dari Jepang Utara.

Kelebihan dari Strawberry Hokowaze adalah produktivitas panen yang tinggi, dengan aroma yang tajam, rasa yang manis, daging buah yang lunak, serta tahan terhadap berbagai penyakit yang bisa menyebabkan gagal panen.

Di luar jenis-jenis Strawberry yang kami jelaskan di atas, sebenarnya masih sangat banyak jenis yang masih bisa kamu tanam baik secara konvensional atau pun tentu saja secara hidroponik.

Selain itu baik Strawberry yang diimpor dari luar negeri ataupun Strawberry yang berasal dari Indonesia, kamu boleh memilih yang mana saja karena toh keduanya menurut kami berbeda dan tidak ada yang lebih unggul satu sama lain.

Meski demikian kami memberikan kamu kebebasan untuk memilih jenis apapun yang ingin kamu tanam sesuai dengan keinginan kamu karena tentu saja masing-masing memiliki rasa dan aroma yang berbeda-beda.

Akan tetapi kamu harus memperhatikan sekali lagi mengenai suhu ideal, pH ideal serta masa panen dari masing-masing jenis strawberry tersebut karena nantinya akan mempengaruhi produksi dan potensi hasil panen mu.

Apabila kamu sudah menentukan jenis strawberry mana yang ingin kamu tanam di sistem hidroponik mu maka kamu sudah siap untuk lanjut ke persiapan selanjutnya.


2. Pahami Sistem Hidroponik

Apabila kamu sudah menentukan jenis strawberry yang ingin kamu tanam,  saatnya kamu mempelajari berbagai macam jenis sistem hidroponik yang bisa kamu praktikkan sendiri di rumah.

Perlu diketahui bahwa saat ini ada sangat banyak di tanam hidroponik di seluruh dunia, karena memang sistem hidroponik diketahui merupakan salah satu sistem yang sangat mudah untuk dimodifikasi dan bisa dilakukan oleh semua orang.

Apalagi seiring dengan berkembangnya zaman di mana kamu bisa menemukan berbagai macam informasi mengenai sistem hidroponik di mesin pencarian. Akan tetapi ada beberapa teknik dasar yang membuat kami wajib kamu pahami terlebih dahulu.

Beberapa teknik dasar tersebut diantaranya adalah Deep Water Culture (DWC), Nutrient Film Technique (NFT), Aeroponics, Wick System, hingga Drip System dan Abb and Flow System dan Dutch Water Bucket yang merupakan modifikasi dasar dari teknik DWC.


3. Atur Kondisi Tanam

Salah satu perbedaan mendasar ketika kamu bercocok tanam secara konvensional dengan metode hidroponik adalah kamu harus benar-benar mengatur kondisi lingkungan tumbuh dari strawberry hidroponik ini.

Selain itu memang secara hidroponik memungkinkan para pekebun nya untuk selalu beruji coba sehingga bisa menghasilkan tanaman dengan hasil panen yang maksimal dan optimal.

Apalagi bila kamu sudah cukup mahir dengan teknik hidroponik biasanya kamu akan membuat sistem hidroponik sendiri yang sangat berbeda dengan sistem yang dibuat oleh kebanyakan orang.

Nah tapi sebelum sampai ke sana ada beberapa faktor yang menurut kami harus selalu memperhatikan dan kamu atur di dalam budidaya strawberry hidroponik ini.

Suhu

Suhu adalah salah satu faktor yang sangat penting dalam bercocok tanam menggunakan teknik hidroponik. Karena suhu adalah faktor yang sangat fluktuatif dan mudah sekali berubah. Namun sebaliknya suhu merupakan salah satu faktor yang paling mudah untuk kamu kontrol.

Untuk melakukan pengaturan suhu tentu dibutuhkan thermostat tapi kan terlalu mahal ya, sehingga solusi dari kami adalah untuk melakukan pengaturan suhu melalui larutan nutrisi yang kamu miliki.

Adapun tanaman strawberry merupakan tanaman yang suka suhu dingin sehingga suhu dari larutan nutrisi harus selalu kamu jaga di antara 17 hingga 20 C. Saran dari kami adalah untuk melakukan pencatatan fluktuasi suhu secara berkala agar kamu bisa segera melakukan koreksi apabila terjadi perubahan di luar suhu ideal.

pH

Nah sama dengan suhu, menjaga tingkat keasaman merupakan salah satu faktor penting di dalam bercocok tanam secara hidroponik. Hal ini lantaran tingkat ke asaman merupakan salah satu faktor yang juga sifatnya mudah berubah serta fluktuatif sepanjang hari.

Lebih jauh lagi tingkat keasamannya ini sangat dipengaruhi oleh kepangkatan dari larutan nutrisi dan biasanya berubah seiring dengan tingginya konsumsi larutan nutrisi oleh tanaman. Saran dari kami adalah untuk menggunakan pH meter yang berkualitas melakukan pencatatan yang teratur serta melakukan penyesuaian dengan menggunakan buffer pH.

Adapun pH ideal yang harus di capai oleh tanaman strawberry hidroponik adalah 5,8 hingga 6,5.

Periode panen

Untuk selalu mengingat dan mencatat periode panen adalah hal esensial di dalam bercocok tanam baik secara konvensional ataupun dengan metode hidroponik.

Seringkali pekebun pemula lupa mengenai periode panen ini sehingga melakukan panen di luar periode panen yang dianjurkan. Padahal rasa dari hasil tani yang dikeluarkan sangat bergantung terhadap periode panen ini, sehingga kami tidak menyarankan kamu untuk melakukan panen di luar periode panen yang dianjurkan.

Cahaya matahari

Strawberry merupakan tanaman yang diketahui cukup memanjakan sinar matahari sehingga tidak dianjurkan untuk menggunakan paranet ataupun meletakkan strawberry hidroponik ini di ruangan yang tidak terkena matahari.

Adapun jumlah sinar matahari yang dianjurkan adalah sekitar 6 hingga 8 jam saya matahari langsung agar pertumbuhan strawberry bisa menjadi optimal.

Media tanam

Media tanam yang dikenal di dunia hidroponik sangat banyak dan masing-masing memiliki kelebihan serta kekurangannya. Akan tetapi ada beberapa media tanam hidroponik yang cukup kami rekomendasikan untuk kamu gunakan khususnya bagi kamu yang masih pemula, yakni rockwool serta hydroton pebbles.

Keduanya sangat kami rekomendasikan karena memang di Indonesia kebanyakan pegiat hidroponik menggunakan kedua media tanam ini. Nantinya kamu bisa menemukan kedua media tanaman dengan jauh lebih muda serta dengan harga yang jauh lebih murah dibandingkan media tanam lainnya.

Teknik

Setelah kamu mempelajari suatu teknik dasar hidroponik diatas ada beberapa teknik hidroponik yang menurut kami direkomendasikan bagi kamu untuk Menanam strawberry hidroponik ini.

Teknik yang cukup kami rekomendasikan adalah menggunakan DWC ataupun ebb and flow. Akan tetapi pada akhirnya kembali kepada kamu, silahkan gunakan teknik manapun yang menurut kamu paling mudah dan mungkin untuk diterapkan.

Seluruh faktor diatas adalah faktor-faktor yang menurut kami cukup penting untuk selalu diperhatikan dan kamu jaga agar tetap dalam angka yang ideal sehingga Strawberry yang kamu tanam bisa tumbuh secara optimal dan maksimal.


4. Semai Bibit Strawberry Hidroponik

Semai Bibit Strawberry Hidroponik

Sebelum kamu bisa memindahkan strawberry hidroponik yang kamu tanam ke sistem hidroponikmu, kamu harus melakukan proses penyemaian yang langkahnya sebenarnya sama seperti apabila kamu menanam strawberry secara konvensional.

Adapun langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk melakukan penyemaian strawberry hidroponik adalah sebagai berikut ini:

  1. Menyiapkan beberapa peralatan dan bahan-bahan di bawah ini
    • Bibit yang ingin disemai, lebihkan beberapa bibit sesuai dengan keinginanmu.
    • Wadah besar atau tray besar untuk meletakkan tray semai
    • Wadah yang digunakan untuk menyemai atau tray semai.
    • Media tanam rockwool.
    • Tusuk gigi secukupnya.
    • Pinset satu buah.
    • Air secukupnya sesuai dengan ukuran wadah besar.
  2. Ambil wadah yang besar yang telah kamu persiapkan sebelumnya. Isilah wadah besar tersebut dengan menggunakan air bersih, usahakan air yang digunakan bersifat ‘netral’. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah wadah tersebut.
    • Untuk air yang akan kamu gunakan melakukan penyemaian kami cukup menyarankan agar kamu menggunakan air tanah, air tampungan hujan, atau air sumur. Apabila menggunakan air PDAM maka bisa mempersiapkan air tersebut sebelumnya.
  3. Masukkan bibit strawberry yang ingin kamu semai ke dalam wadah berisi air hangat yang kamu persiapkan tersebut. Hal ini dilakukan dengan tujuan melunakkan kulit bibit strawberry
  4. Sambil menunggu kamu bisa langsung mempersiapkan rockwool untuk media tanam strawberry hidroponik tersebut.
    • Persiapkan rockwool sejumlah bibit yang ingin kamu tanam.
    • Caranya adalah dengan mengiris rockwool berukuran kubus sama besar (2,5 cm x 2,5 cm x 2,5 cm).
    • Lubangi rockwool dengan menggunakan tusuk gigi, hingga sedalam sekitar 1 cm.
  5. Letakkan rockwool tersebut pada baki dan masukkan bibit-bibit strawberry pada rockwool. Jangan lupa untuk membasahi rockwool dengan menggunakan air.
    • Basahi secara perlahan dan pastikan seluruh permukaan rockwool menjadi lembab.
  6. Letakkan rockwool yang telah ditaruh bibit strawberry tadi di tempat yang kering dan terkena sinar matahari.
  7. Bila daun strawberry sudah mencapai 4 buah yakni 2 daun lembaga dan 2 daun sejati, maka strawberry sudah siap dipindahkan ke sistem hidroponik. Biasanya proses ini akan memakan waktu sekitar 1 hingga 2 minggu, atau tentu sesuai dengan jenis bibit yang kamu beli dan perlakuan yang diberikan terhadap bibit tersebut.

Nah apabila kamu sukses mencapai langkah ke-7 artinya kamu sudah melakukan proses penyemaian secara baik dan benar. Apabila belum ada tanaman yang tumbuh, tidak usah patah semangat, cobalah kembali.

Bila sudah muncul tanaman-tanaman strawberry anakan yang berukuran kecil, jangan lupa untuk selalu melakukan penyortiran. Maksudnya adalah dengan memilih anakan-anakan yang berkualitas unggul saja yang kemudian akan dipindahkan ke sistem hidroponik yang kamu buat.


5. Transplantasi dan Tanam Strawberry di Sistem Hidroponik

transplantasi dan penanaman strawberry hidroponik

Setelah sukses melakukan penyemaian, melakukan proses penyortiran, dan pembersihan, saatnya kamu melakukan pemindahan dan penanaman strawberry di sistem hidroponik yang telah kamu buat sebelumnya.

Adapun langkah-langkah untuk menanam strawberry di dalam sistem hidroponik adalah sebagai berikut ini:

  1. Pisahkan masing-masing rockwool yang sudah ditanami bibit strawberry Jangan lupa untuk memindahkan tanaman strawberry yang berkualitas baik saja ya, tahap ini disebut dengan penyortiran.
  2. Pindahkan rockwool tersebut ke dalam sistem hidroponik yang sudah kamu siapkan sebelumnya. Masukkan masing-masing rockwool ke dalam netpot yang telah disiapkan sebelumnya.
    • Apabila kamu sudah memahami teknik Dutch Water Bucket dan ingin menggunakan teknik ini, maka saran kami adalah memindahkan media tanam dari rockwool menjadi hydroton.
    • Angkat benih strawberry dari rockwool hingga seluruh akarnya terlepas, namun pastikan tanaman tidak rusak. Nah bisa dibilang langkah ini merupakan salah satu langkah yang penting, karena cukup sulit dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dari strawberry hidroponik tersebut nantinya.
  3. Adapun mekanisme penanaman tentu saja bervariasi tergantung dari teknik hidroponik yang ingin kamu gunakan.
  4. Isi sistem hidroponik dengan larutan nutrisi.
    • Nilai kadar larutan nutrisi ini bisa juga bervariasi antar jenis strawberry. Saran kami kamu bisa membaca sesuai dengan rekomendasi yang biasanya dicantumkan di bungkus bibit, atau tentu bisa bertanya kepada penjual toko bibit tersebut.
    • Namun rata-rata kamu bisa mengatur kepekatan nutrisi sekitar 500 hingga 600 ppm dengan menggunakan nutrisi AB Mix saat usia strawberry 7 hingga 14 hari.
    • Ketika usia strawberry sudah agak besar ataupun saat tanaman strawberry tersebut sudah mulai memunculkan bunga maka kamu bisa menaikkan kepekatan larutan nutrisi menjadi 600 hingga 700 ppm menggunakan nutrisi AB Mix.
    • Adapun ketika strawberry sudah mulai berbuah naikkan kembali kadar larutan nutrisi hingga maksimal sekitar 800 hingga 850
    • Angka larutan nutrisi yang terlalu tinggi diketahui akan menyebabkan terjadinya hambatan di dalam penyerapan nutrisi dan kemudian akan menyebabkan tanaman menjadi kerdil daun daunnya akan mongering.
    • Jaga selalu agar pH tetap di angka 5,8 hingga 6,5.
  5. Lakukan pengecekan sistem hidroponik rutin, setidaknya lakukanlah selama 2 hari sekali.
    • Lakukan pengecekan tinggi air, kadar ppm larutan nutrisi, kebersihan wadah nutrisi secara umum, dan kondisi tanaman.
    • Pastikan ppm tetap terjaga dan kadar air tidak surut atau kering.
    • Jangan lupa lakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman.
  6. Bila sudah mencapai masa panen kamu bisa langsung memanen buah strawberry
    • Jangan memanen strawberry lebih dari masa panen yang tertera atau spesifikasinya, karena akan menyebabkan rasa strawberry menjadi tidak nikmat untuk dikonsumsi.
  7. Selesai!

Seluruh langkah yang kami jelaskan di atas merupakan langkah paling mudah yang bisa kamu lakukan untuk menanam strawberry hidroponikmu sendiri. Kamu dipersilahkan untuk melakukan berbagai macam modifikasi sehingga kemudian bisa memaksimalkan hasil panen dari tanaman hidroponikmu.

Selamat mencoba dan kami doakan agar berhasil ya!

Fakhri Zahir

Penulis berpengalaman yang mengisi banyak konten di website populer. Pegiat dunia agrikultur dan kedokteran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *