Cara Menanam Paprika Hidroponik (Pemula)

Paprika memang bukanlah komoditas yang cukup populer di Indonesia, karena memang tidak terlalu banyak makanan khas Indonesia yang menggunakan bahan ini sebagai salah satu bahan dasarnya.

Akan tetapi paprika menurut kami merupakan salah satu komoditas yang cukup berharga di Indonesia, terbukti dari harganya yang cukup mahal bila dibandingkan dengan bahan makan sayuran lainnya, dan boleh dikatakan saat ini masih cukup sulit dicari.

Meski demikian permintaannya cukup tinggi, apalagi di kalangan orang-orang dengan ekonomi menengah hingga ke atas, dan mungkin kamu salah satunya. Tapi daripada kamu bingung mencari paprika, lebih baik kamu pahami bagaimana cara menanam paprika hidroponik ini.

Yuk mari!


Persiapan Menanam Paprika Hidroponik

Persiapan Menanam Paprika Hidroponik

Langkah yang paling penting sebelum kamu memulai belajar sistem hidroponik yang tepat untuk paprika, adalah beberapa faktor di bawah ini. Saran kami agar kamu mempelajarinya dan mempersiapkannya dengan baik, baru mulai menanam.

Harapannya bila kamu telah melakukan persiapan dengan baik, maka nantinya kamu tidak akan menemukan terlalu banyak kesulitan. Pun menemukan kesulitan, diharapkan kamu bisa memecahkannya dengan mudah.

Beberapa hal yang perlu kamu perhatikan, kamu pelajari, dan tentu kamu persiapkan diantaranya adalah sebagai berikut ini:

Biji paprika

Salah satu hal penting yang menurut kami cukup sering dilupakan oleh banyak orang yang baru ingin mempelajari hidroponik adalah soal biji yang akan ditanam. Dalam hal ini adalah biji paprika yang ingin kamu tanam.

Menentukan jenis biji apa menurut kami cukup penting, mengingat masing-masing biji memiliki karakteristik tumbuh yang berbeda-beda sehingga harus diberikan perlakuan yang berbeda pula. Selain itu hasil panen dari  biji yang berbeda pun tentu akan menghasilkan buah dengan karakteristik yang berbeda-beda pula.

Di Indonesia sendiri ada beberapa jenis biji paprika yang menurut kami bisa kamu coba untuk tanam di sistem hidroponik yang akan kamu buat, baik itu untuk skala pribadi ataupun untuk dijual kembali:

  • Paprika Red Star; jenis paprika ini merupakan jenis yang umum ditemukan dengan ukuran buah sedang yakni sekitar 180 gram rata-rata saat panen. Kamu bisa memanen paprika saat muda dimana buah masih berwarna hijau ataupun ketika sudah berwarna merah. Selain itu masa panen dari paprika jenis ini diketahui adalah 105 Hari Setelah Tanam / HST, dan paprika jenis ini pun tahan terhadap virus Gemini.
  • Paprika Beauty Bell; jenis paprika yang satu ini adalah jenis hibrida yang akan menghasilkan buah berwarna hijau dengan rata-rata ukuran buah saat panen sedang hingga besar, yakni sekitar 180 gram per buahnya. Selain itu jenis paprika ini diketahui tahan terhadap virus Gemini, dan memiliki ketangguhan yang mempermudah saat melakukan penyimpanan serta pengangkutan.
  • Paprika Polaris; merupakan salah satu jenis paprika kuning yang bisa menghasilkan buah yang cukup besar, yakni rata-rata buah saat panen yang mencapai berat 190 gram per buahnya. Selain itu masa panen dari paprika jenis ini berkisar 120 HST.
  • Paprika Purple Star; merupakan salah satu jenis paprika yang cukup unik, karena diketahui bisa menghasilkan buah dengan warna ungu yang tentu saja cukup berbeda dengan paprika pada umumnya. Selain itu paprika jenis ini pun diketahui bisa menghasilkan buah yang cukup besar saat panen, yakni bisa mencapai 200 gram per buahnya. Adapun kelebihan lain dari jenis paprika yang satu ini adalah tahan saat penyimpanan, pengangkutan, serta tahan terhadap penyakit PVY (Potato Virus Y).
  • Paprika Orange Star; mirip dengan jenis sebelumnya, paprika jenis ini merupakan paprika hibrida yang juga cukup unik karena bisa menghasilkan buah yang berwarna oranye yang tidak lazim untuk ukuran paprika. Ciri khasnya pun serupa dengan paprika purple star dimana bisa mencapai 200 gram per buah saat panen, tahan penyimpanan dan pengangkutan, serta tahan terhadap penyakit PVY.
  • Paprika Yellow Star; sama seperti kedua paprika sebelumnya, paprika jenis ini merupakan paprika hibrida namun memiliki warna kuning. Ciri khas yang dimiliki serupa dengan keduanya dimana tahan penyimpanan, pengankutan, dan tahan terhadap PVY. Selain itu buah dari paprika jenis ini memiliki berat yang serupa dengan purple star dan orange star yakni mencapai sekitar 190 gram per buahnya.
  • Paprika Golden Star; masih dari produsen yang sama, tergolong paprika hibrida yang memiliki berat 180 hingga 200 gram ketika masa panen. Perbedaannya tentu saja dari warna yakni kuning keemasan saat buah sudah matang. Keunggulan lain dari benih ini pun sama seperti sebelumnya dimana tahan penyimpanan dan pengangkutan lama, serta tahan terhadap virus TMV dan Bacterial Wilt.
  • Paprika California Wonder; dari namanya yang cukup mentereng ini mungkin kamu bisa menebak-nebak kalau paprika yang satu ini merupakan salah satu produk yang agak berbeda. Memang benar, karena faktanya paprika jenis ini sangat disukai oleh pekebun hidroponik rumahan karena memiliki rasa manis yang khas. Selain itu masa panen dari paprika jenis ini pun relatif singkat yakni sekitar 75 saja. Dari sisi ekonomi pun bila kamu ingin membudidayakan paprika jenis ini, bisa menghasilkan uang dalam jumlah yang lumayan. Apalagi masa panennya relatif singkat, dan di Amerika Serikat pun paprika jenis inilah yang cukup banyak dibudidayakan secara luas dan komersil.
  • Paprika C328 IPB; adalah salah satu paprika merah unggulan produk dari IPB, sesuai dengan namanya. Kelebihan dari paprika yang satu ini adalah buah yang berbentuk bulat persegi dengan daging yang sangat tebal. Selain itu paprika jenis ini pun memiliki masa panen yang sangat singkat yakni sekitar 70-80 HST saja. Artinya sama seperti paprika california, dimana paprika yang satu ini cocok apabila ingin dijadikan komoditas yang kamu perjual belikan.
  • Paprika Yolo Wonder; jika kamu berpikir paprika dari jenis california wonder merupakan salah satu yang harus dipilih, tunggu sampai kamu mengetahui benih yang satu ini. Yolo Wonder merupakan penyempurnaan dari benih california wonder, dimana memiliki ukuran yang lebih besar dan bentuk yang lebih konsisten. Adapun masa panennya serupa yakni sekitar 75 HST, dan tentu memiliki semua keunggulan yang dimiliki oleh paprika jenis california wonder.

Jenis paprika lainnya sebenarnya masih sangat banyak, dan menurut kami tidak mungkin kami sebutkan seluruhnya di sini. Akan tetapi semua yang kami sebutkan di atas, setidaknya merupakan jenis-jenis yang relatif mudah ditemukan di Indonesia.

Hal ini lantaran kebanyakan bibit-bibit paprika yang ada di Indonesia merupakan bibit hasil impor dari beberapa negara di luar negeri. Boleh dikatakan akhirnya jumlah bibit paprika yang beredar sangat terbatas.

Ada beberapa jenis paprika yang memang cukup populer dengan rasa dan bentuk yang khas namun cukup sulit ditemukan di sini, misalnya paprika Romano yang memiliki bentuk ‘kurus’ dengan rasa yang khas yang berasal dari Italia, dan sebagainya.

Meski demikian pada akhirnya kamu bebas untuk memilih bibit jenis apapun. Hal terpenting yang harus kamu ingat adalah memberikan perlakukan yang sama untuk setiap bibit sesuai dengan spesifikasi ataupun ketentuan yang selalu tertulis di bungkus bibit yang kamu beli.

Mulai dari menyesuaikan suhu, ketinggian, hingga tidak melakukan panen di luar dari masa panen yang direkomendasikan oleh pembuat bibit tersebut. Tujuannya tentu saja agar hasil panen bisa optimal dan maksimal.

Sistem hidroponik

Setelah kamu memutuskan bibit paprika yang ingin kamu tanam, langkah selanjutnya yang harus kamu perhatikan adalah mempelajari sistem hidroponik yang ingin kamu buat sendiri di rumah.

Saat ini diketahui ada sangat banyak sistem hidroponik yang ada di seluruh dunia, hal ini karena memang sistem hidroponik diketahui merupakan salah satu sistem yang sangat versatile dan sangat mudah dimodifikasi dan bereksperimen dengannya.

Akan tetapi beberapa jenis yang menurut kami bisa kamu pelajari, khususnya bila kamu masih pemula adalah Deep Water Culture (DWC), Nutrient Film Technique (NFT), Aeroponics, Wick System, hingga Drip System dan Abb and Flow System.

Nah untuk paprika sendiri karena memang memiliki buah, cobalah untuk mempelajari DWC yang dimodifikasi menjadi Dutch Bucket System ataupun Abb and Flow System dengan sedikit modifikiasi. Namun untuk awalnya boleh mempelajari kedua dasar dari sistem tersebut kok.

Kondisi tanam

Berbeda dengan saat kamu bercocok tanam di tanah dengan cara konvensional. Bila bercocok tanam secara hidroponik, kamu benar-benar harus mengatur lingkungan tumbuh dari paprika hidroponik ini.

Oleh karena itulah lebih banyak orang-orang yang mempelajari sistem hidroponik, karena seolah-olah kamu menjadi peneliti. Dengan mengubah suhu, pH, dan paparan cahaya matahari saja misalnya bisa mengubah hasil panen begitu drastisnya.

Belum lagi bila kamu mahir untuk memodifikasi sistem hidroponik yang kamu buat. Nah tapi sebelum sampai sana, beberapa kondisi tanam yang harus kamu selalu perhatikan dan atur adalah sebagai berikut ini:

  • Suhu, merupakan salah satu faktor yang sangat penting di dalam bercocok tanam menggunakan teknik hidroponik. Hal ini karena suhu merupakan faktor yang paling mudah diubah, namun sebaliknya merupakan faktor yang sangat bisa terpengaruh lingkungan di luar. Memang cukup sulit mengatur suhu ruang hidroponik, apalagi bila tidak memiliki termostat. Tapi setidaknya kamu bisa mengatur suhu larutan agar tetap pada suhu optimal untuk menanam paprika hidroponik, yakni sekitar 21-25o Selain itu kamu bisa melihat ketentuan di kemasan bibit paprika, dan sesuaikan pula dengan ketentuan tersebut.
  • pH, serupa dengan suhu dimana komponen ini merupakan salah satu komponen yang bisa dikontrol dengan mudah tapi bisa juga berubah secara fluktuatif. Akan tetapi untuk mengubah-ubah pH menjadi pH optimal dibutuhkan ketelitan yang tinggi dari pekebun, serta pH meter berkualitas dan pencatatan yang baik. Apabila ada ketidaksesuaian pH, maka kamu bisa menambahkan larutan nutrisi ataupun dengan menambahkan buffer pH. Akan tetapi selalu ingat pula untuk menjaga ppm tetap sesuai. Adapun pH optimal untuk menanam paprika hidroponik adalah sekitar 6,5.
  • Periode panen, salah satu hal penting yang seringkali dilupakan pekebun adalah periode panen. Kadang kita lupa dan memanen tanaman tidak sesuai dengan masa panen yang direkomendasikan. Tidak salah sih, tapi biasanya nanti rasa yang dikeluarkan oleh paprika menjadi tidak maksimal. Adapun masa panen dari paprika sendiri berkisar antara 75 HST hingga 120 HST bergantung dari jenis bibit yang ditanam.
  • Cahaya matahari, paprika merupakan salah satu sayur yang tidak membutuhkan banyak cahaya matahari, dimana ia hanya butuh sekitar 22 hingga 30% intensitas cahaya dari total cahaya matahari yang sampai namun dalam waktu yang cukup. Saran kami adalah agar kamu memasang paranet sehingga matahari tidak terlalu terik namun paprika bisa mendapatkan cahaya matahari yang cukup lama.
  • Media tanam, untuk media tanam yang bisa kamu gunakan sebenarnya ada sangat banyak. Namun yang saat ini kami rekomendasikan adalah dengan menggunakan rockwool serta hydroton pebbles. Lebih jauh lagi, apabila kamu ingin menggunakan teknik Dutch Water Bucket,maka kamu bisa menggunakan hydroton sebagai media tanam. Memang sih masih ada perlite, vermiculite, hingga cocopeat. Namun kedua rekomendasi tersebut kami berikan karena memang mayoritas pekebun hidroponik di Indonesia menggunakan keduanya. Sehingga kamu pun bisa mendapatkan keduanya dengan mudah, murah, dan bisa banyak bertanya kepada sesama pekebun apabila ada kesulitan mengenai media tanam ini.
  • Teknik, kembali lagi setelah kamu mempelajari seluruh teknik dasar di atas memang akhirnya terserah teknik mana yang ingin kamu pilih. Namun untuk paprika sendiri kami cukup merekomendasikan kamu menggunakan teknik DWC ataupun Ebb and Flow.

Faktor di atas merupakan faktor kunci yang harus kamu pelajari dengan baik dan benar sehingga keberhasilan dari budidaya paprika yang kamu lakukan bisa berhasil.


Penyemaian Bibit Paprika Hidroponik

Penyemaian Bibit Paprika Hidroponik

Langkah pertama yang harus kamu lakukan sebelum bisa mulai menanam bibit paprika secara hidroponik adalah dengan menyemai bibit tersebut. Langkahnya pun serupa seperti ketika kamu menyemai bibit hidroponik secara konvensional.

Adapun langkah-langkah yang bisa kamu lakukan adalah sebagai berikut ini:

  1. Menyiapkan beberapa peralatan dan bahan-bahan di bawah ini
    • Bibit yang ingin disemai, lebihkan beberapa bibit sesuai dengan keinginanmu.
    • Wadah besar atau tray besar untuk meletakkan tray semai
    • Wadah yang digunakan untuk menyemai atau tray semai.
    • Media tanam rockwool.
    • Tusuk gigi secukupnya.
    • Pinset satu buah.
    • Air secukupnya sesuai dengan ukuran wadah besar.
  2. Ambil wadah yang besar yang telah kamu persiapkan sebelumnya. Isilah wadah besar tersebut dengan menggunakan air bersih, usahakan air yang digunakan bersifat ‘netral’. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah wadah tersebut.
    • Untuk air yang akan kamu gunakan melakukan penyemaian kami cukup menyarankan agar kamu menggunakan air tanah, air tampungan hujan, atau air sumur. Apabila menggunakan air PDAM maka bisa mempersiapkan air tersebut sebelumnya.
  3. Masukkan bibit paprika yang ingin kamu semai ke dalam wadah berisi air hangat yang kamu persiapkan tersebut. Hal ini dilakukan dengan tujuan melunakkan kulit bibit paprika
  4. Sambil menunggu kamu bisa langsung mempersiapkan rockwool untuk media tanam paprika hidroponik tersebut.
    • Persiapkan rockwool sejumlah bibit yang ingin kamu tanam.
    • Caranya adalah dengan mengiris rockwool berukuran kubus sama besar (2,5 cm x 2,5 cm x 2,5 cm).
    • Lubangi rockwool dengan menggunakan tusuk gigi, hingga sedalam sekitar 1 cm.
  5. Letakkan rockwool tersebut pada baki dan masukkan bibit-bibit paprika pada rockwool. Jangan lupa untuk membasahi rockwool dengan menggunakan air.
    • Basahi secara perlahan dan pastikan seluruh permukaan rockwool menjadi lembab.
  6. Letakkan rockwool yang telah ditaruh bibit paprika tadi di tempat yang kering dan terkena sinar matahari.
  7. Bila daun paprika sudah mencapai 4 buah yakni 2 daun lembaga dan 2 daun sejati, maka paprika sudah siap dipindahkan ke sistem hidroponik. Biasanya proses ini akan memakan waktu sekitar 1 hingga 2 minggu, atau tentu sesuai dengan jenis bibit yang kamu beli dan perlakuan yang diberikan terhadap bibit tersebut.

Apabila kamu sudah selesai melakukan proses penyemaian bibit paprika, maka kamu bisa lanjut ke langkah berikutnya yakni melakukan pemindahan bibit paprika yang sudah memunculkan tunas tadi ke sistem hidroponik yang telah dibuat sebelumnya.


Transplantasi dan Penanaman Paprika di Sistem Hidroponik

Transplantasi dan Penanaman Paprika di Sistem Hidroponik

Adapun langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk melakukan transplantasi dan penanaman paprika menggunakan sistem hidroponik yang telah kamu buat sebelumnya adalah sebagai berikut ini:

  1. Pisahkan masing-masing rockwool yang sudah ditanami bibit paprika Jangan lupa untuk memindahkan tanaman paprika yang berkualitas baik saja ya, tahap ini disebut dengan penyortiran.
  2. Pindahkan rockwool tersebut ke dalam sistem hidroponik yang sudah kamu siapkan sebelumnya. Masukkan masing-masing rockwool ke dalam netpot yang telah disiapkan sebelumnya.
    • Apabila kamu sudah memahami teknik Dutch Water Bucket dan ingin menggunakan teknik ini, maka saran kami adalah memindahkan media tanam dari rockwool menjadi hydroton.
    • Angkat benih paprika dari rockwool hingga seluruh akarnya terlepas, namun pastikan tanaman tidak rusak. Nah bisa dibilang langkah ini merupakan salah satu langkah yang penting, karena cukup sulit dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dari paprika hidroponik tersebut nantinya.
  3. Adapun mekanisme penanaman tentu saja bervariasi tergantung dari teknik hidroponik yang ingin kamu gunakan.
  4. Isi sistem hidroponik dengan larutan nutrisi.
    • Nilai kadar larutan nutrisi ini bisa juga bervariasi antar jenis paprika. Saran kami kamu bisa membaca sesuai dengan rekomendasi yang biasanya dicantumkan di bungkus bibit, atau tentu bisa bertanya kepada penjual toko bibit tersebut.
    • Namun rata-rata kamu bisa mengatur kepekatan nutrisi sekitar 750 ppm dengan menggunakan nutrisi AB Mix saat usia paprika 7 hingga 14 hari.
    • Ketika usia paprika sudah mencapai 45 hari ataupun saat tanaman paprika tersebut sudah mulai memunculkan bunga maka kamu bisa menaikkan kepekatan larutan nutrisi menjadi 1500 ppm menggunakan nutrisi AB Mix.
    • Adapun ketika paprika sudah mulai berbuah naikkan kembali kadar larutan nutrisi menjadi 3500 ppm.
    • Jaga selalu agar pH tetap di angka 6,5.
  5. Lakukan pengecekan sistem hidroponik rutin, setidaknya lakukanlah selama 2 hari sekali.
    • Lakukan pengecekan tinggi air, kadar ppm larutan nutrisi, kebersihan wadah nutrisi secara umum, dan kondisi tanaman.
    • Pastikan ppm tetap terjaga dan kadar air tidak surut atau kering.
    • Jangan lupa lakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman.
  6. Bila sudah mencapai masa panen kamu bisa langsung memanen buah paprika
    • Jangan memanen paprika lebih dari masa panen yang tertera atau spesifikasinya, karena akan menyebabkan rasa paprika menjadi tidak nikmat untuk dikonsumsi.
  7. Selesai!

Nah, itulah tadi beberapa langkah paling mudah yang bisa kamu lakukan untuk menanam paprika hidroponik pertamamu. Sebagai pemula, sekali lagi teknik hidroponik yang kami rekomendasikan adalah DWT atapun bisa dengan Ebb and Flow bila sudah cukup mahir.

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba!

Fakhri Zahir

Penulis berpengalaman yang mengisi banyak konten di website populer. Pegiat dunia agrikultur dan kedokteran.

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Ikut berkomentarx
()
x