Cara Menanam Kopi (Panduan Lengkap)

Kopi termasuk salah satu komoditas perkebunan yang menggiurkan. Bukan sekadar pada level nasional, melainkan juga di level internasional.

Pada level nasional, kedai kopi mudah dijumpai di setiap daerah di Indonesia. Sebagian besar menggunakan produk petani / pembudidaya lokal. Inilah yang membuat kaum muda tertarik untuk membudidayakan tanaman kopi.

Sementara untuk internasional, potensi ekspor kopi sangat luar biasa dan peluangnya terbuka lebar. Konsumen terbesar kopi dunia adalah masyarakat Eropa dan Amerika Utara, termasuk AS.

Nah, untuk memajukan industri kopi indonesia untuk dunia, penanaman kopi haruslah baik dan benar agar menghasilkan produk yang berkualitas, yaitu biji kopi pilihan dengan cita rasa tinggi. Apa saja hal-hal yang wajib diperhatikan? Simak sampai habis.


1. Pilih Jenis Biji Kopi

jenis biji kopi

Hal pertama yang harus diperhatikan adalah memilih biji kopi berkualitas. Ini harus dimulai dari penentuan spesies / jenis dan varietasnya.

Kopi merupakan tanaman tahunan, dengan umur produksi bisa mencapai 20 tahun. Karena itu, perlu dipikirkan untuk memilih bibit berkualitas. Sebab produksinya jangka panjang serta harus selalu menjaga kualitas produk akhirnya.

Tanaman kopi terdiri atas puluhan spesies / jenis, tapi yang paling terkenal hanya empat, yaitu:

  • Kopi arabika (Coffea arabica): Paling disukai, karena rasanya dinilai terbaik. Buah yang matang berwarna merah terang. Rendemen (persentase produk akhir dan hasil panen) sekitar 18-20%.
  • Kopi robusta (Coffea canephora): Lebih cepat panen daripada arabika. Buah berbentuk membulat. Warna merahnya cenderung gelap. Rendemen lebih tinggi (22%). Harga lebih murah daripada arabika.
  • Kopi liberika (Coffea liberica): Pamornya masih kalah dari arabika dan robusta. Tapi bisa tumbuh baik di dataran rendah. Ukuran buahnya tak merata, dan rendemennya sangat rendah (12%).
  • Kopi excelsa (Coffea excelsa): Bisa tumbuh subur di dataran rendah dan dataran tinggi, bahkan di lahan gambut. Tahan terhadap kekeringan. Kulit buahnya lembut, sehingga mudah dikupas. Di 2006, excelsa dianggap sebagai bagian dari liberika.

Apapun pilihannya, Anda harus segera beraksi. Siapkan benih berkualitas! Benih bisa diperoleh melalui dua cara, yakni:

  • Pembiakan generatif (menyemai biji).
  • Pembiakan vegetatif (setek, cangkok, okulasi, dan kultur jaringan).

Kita fokus ke pembiakan generatif. Sebab cara ini lebih mudah dan menjadi pilihan sebagian besar petani kopi di Indonesia.

Selain itu, bibit yang dihasilkan dari biji kopi mempunyai beberapa keunggulan. Misalnya, akar tunjang akan tumbuh sempurna. Dampaknya, tanaman kopi menjadi lebih kokoh.

Anda bisa membeli bibit / benih kopi dalam bentuk biji di toko pertanian. Lebih aman apabila membeli dari balai penelitian pertanian / perkebunan terdekat. Soalnya sudah melalui seleksi ketat.


2. Seleksi Calon Benih Kopi

buah kopi

Setelah memilih jenis biji kopi, seleksi alias pilah mana biji yang baik dan mana yang buruk. Berikut beberapa kriteria penilaiannya.

  • Carilah tanaman induk dari rekan atau relasi yang lebih dulu menjadi petani kopi.
  • Pilihlah tanaman induk yang sehat, tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
  • Jika memungkinkan, tanaman induk berasal dari hasil persilangan pertama (F1).
  • Dari tanaman terseleksi tersebut, petik buah kopi berwarna merah dan sudah masak. Sebab buah kopi yang sudah masak memiliki cadangan nutrisi yang cukup untuk proses perkecambahannya nanti.
  • Buah kopi diseleksi. Pilihlah yang masak sempurna, mulus (tidak cacat), dan berukuran normal.

Buah kopi hasil seleksi akan menjalani proses pembenihan, dengan tahapan sebagai berikut:

  • Kupas kulit buahnya, tapi jangan sampai ke kulit tanduk. Caranya, masukkan buah kopi ke dalam karung goni.
  • Celupkan karung ke dalam air hingga basah semua.
  • Setelah itu, karung diangkat dan diinjak-injak. Ini akan membuat kulit buah terkelupas dengan mudah.
  • Biji kopi dicuci hingga bersih. Untuk menghilangkan lendirnya, gosok dengan abu.
  • Untuk seleksi lanjutan, biji-biji kopi direndam dalam air. Buang biji-biji yang mengapung, karena tidak lagi mengandung sel benih.
  • Pilihlah biji-biji dengan ukuran hampir seragam. Jadi, buang biji yang berukuran terlalu kecil maupun terlalu besar.
  • Pastikan biji kopi terseleksi memiliki bentuk sempurna dan mulus (tidak cacat).
  • Selanjutnya, biji dikeringkan dengan cara dianginkan selama 1-2 hari. Jangan dijemur di bawah sinar matahari secara langsung.
  • Setelah itu, biji-biji kopi direndam dalam laturan fungisida (anti-jamur) sekitar 5 menit. Perhatikan dosis dan aturan pakainya, sesuai dengan mereknya.
  • Jika tak langsung digunakan, biji bisa disimpan di tempat gelap, kering, dan sejuk. Tapi penyimpanan bisa menurunkan kualitas benih. Jika disimpan lebih dari 6 bulan, hanya 60-70% biji yang bisa tumbuh menjadi benih tanaman.
  • Jika segera disemaikan, peluang tumbuh bisa mencapai 90-100%.

3. Semai Biji Kopi

pertumbuhan biji kopi

Kini saatnya menyemai biji kopi. Bagaimana caranya? Berikut ini panduannya:

  • Pilihlah tempat / lokasi persemaian yang dinaungi pohon peneduh.
  • Buat bedengan dengan lebar 1 meter (panjang menyesuaikan kondisi lahan).
  • Bedengan dilapisi pasir halus setebal 5-10 cm.
  • Untuk menghindari jamur, taburi bedengan dengan furadan. Bisa juga disiram larutan fungisida secukupnya.
  • Biji-biji kopi hasil seleksi dibenamkan berbaris ke bedengan. Kedalamannya sekitar 0,5 – 1 cm.
  • Buat larikan yang rapi. Jarak tanam 5 cm antar-larik dan 3 cm antar-baris dalam larikan (3×5).
  • Saat dibenamkan, bagian punggung biji kopi menghadap ke atas.
  • Biji kopi bisa ditanam dengan atau tanpa lapisan tanduk. Sebagian petani sering melepas kulit tanduk, dengan tujuan mempercepat proses perkecambahan.
  • Untuk menjaga kelembaban, letakkan potongan jerami atau alang-alang yang berfungsi sebagai mulsa / penutup bedengan.
  • Proses penyemaian ini harus rajin dipantau. Siram bedengan dua kali sehari (pagi-sore).

Di dataran tinggi yang berhawa sejuk, biji kopi mulai berkecambah pada umur 4-8 minggu. Tapi pada dataran rendah (kopi liberika dan excelsa), biji bisa berkecambah lebih cepat (3-4 minggu).

Ketika baru berkecambah, bagian kepalanya terlihat seperti biji bulat. Ini disebut fase serdadu. Pada fase ini, kecambah seperti berhenti tumbuh.

Satu bulan kemudian, bagian kepala mulai merekah dan muncul lembar daun kecil. Jika sudah tumbuh dua lembar daun kecil, benih memasuki fase kepelan (umur 2-3 bulan). Pada fase ini, benih bisa dipindah ke media lain, misalnya polybag.


4. Persiapkan Lahan Tanam

coffee plant

Persiapan lahan mestinya dilakukan jauh-jauh hari sebelum Anda siap menanam benih kopi. Bahkan kalau lahan belum memiliki tanaman peneduh, seharusnya Anda menanamnya 2-4 tahun sebelum memulai budidaya kopi.

Berbeda dari budidaya kentang yang tidak membutuhkan pohon peduh, tanaman kopi justru sangat membutuhkannya.

Fungsi pohon peneduh untuk mengatur intensitas sinar matahari yang masuk. Sebab tanaman kopi menghendaki intensitas cahaya matahari tidak penuh.

Pohon peneduh yang sering digunakan dalam budidaya kopi misalnya dadap, lamtoro, sengon, Selain melindungi tanaman kopi, pohon peneduh bisa menjadi sumber pupuk kendang melalui daun-daunnya yang berjatuhan.

Lamtoro memiliki pertumbuhan cepat. Sekitar 2 tahun sudah besar. Pohon sengon memerlukan waktu 4 tahun agar benar-benar mampu melindungi tanaman kopi.

Persiapan lahan lainnya adalah memeriksa derajat keasaman (pH) tanah. Ini tergantung spesies tanaman kopi yang mau dibudidayakan. Kopi arabika tumbuh subur pada tanah dengan pH 5 – 6,5. Kopi robusta akan tumbuh subur pada tanah dengan pH 4,5 – 6,5.


5. Pindahkan Kopi ke Polybag

penyemaian biji kopi

Jika lahan sudah siap, dan biji telah berkecambah pada fase kepelan, kini saatnya memindahkan ke polybag.

  • Siapkan tempat pembibitan yang beratap paranet satu lapis. Ini untuk mencegah terik matahari dan air hujan secara langsung.
  • Siapkan polybag, lalu diisi media tanam yang terdiri atas 1 bagian pasir, 2 bagian kompos dan 2 bagian tanah).
  • Letakkan polybag dalam tempat pembibitan.
  • Pindahkan benih kopi ke dalam polybag. Caranya dengan mencungkil tanahnya, bukan mencabut akarnya. Pencabutan bisa merusak akar benih kopi yang baru tumbuh.
  • Pada tahap ini sekaligus dilakukan sortasi benih. Pilihlah benih yang berakar lurus. Kalau tidak lurus biasanya akan tumbuh kerdil.
  • Singkirkan pula benih yang kerdil: pertumbuhannya lebih lambat daripada benih-benih lainnya.
  • Letakan polybag berbaris, dengan jarak 1 meter, untuk memudahkan perawatan.
  • Bibit tanaman dalam polybag harus dirawat kontinyu, termasuk melakukan penyiraman 1-2 kali sehari, tergantung kelembaban tanah.
  • Agar tumbuh subur, bibit diberi pupuk pada bulan ke-3. Pemupukan bisa menggunakan campuran kotoran sapi, air, dan urea (rasio 10:10:1). Dosisnya sekitar 1 batok kelapa / tanaman setiap minggu.
  • Jika sudah berumur 8-9 bulan, bibit kopi bisa ditanam di areal perkebunan.

6. Tanam Kopi di Lahan

tanam kopi di lahan

Jika lahan, pohon peneduh, dan bibit sudah siap, apa langkah selanjutnya? Pindahkan bibit dari polybag ke dalam lubang tanam pada areal perkebunan yang sudah disiapkan. Perhatikan hal-hal penting berikut ini:

  • Jarak tanam sebaiknya 2,75 × 2,75 m2 (untuk robusta) atau 2,5 × 2,5 m2 (arabika).
  • Perhatikan pula ketinggian lahan. Makin tinggi lahan, makin renggang jarak tanamnya. Makin rendah lahan, makin rapat jarak tanamnya.
  • Lubang tanam berukuran 60 x 60 x 60 cm3, dan sudah sudah dibuat 3-6 bulan sebelum penanaman.
  • Ketika menggali lubang, pisahkan tanah galian bagian atas dan bagian bawah. Biarkan lubang tanam terbuka.
  • Dua bulan sebelum penanaman, tanah galian bagian bawah dicampur dengan 200 gram belerang dan 200 gram kapur. Kemudian masukkan ke dalam lubang tanam.
  • 1 bulan sebelum bibit ditanam, campurkan tanah galian bagian atas dengan 20 kg pupuk kompos, dan masukkan ke dalam lubang tanam.
  • Ambil bibit kopi yang ada di polybag. Untuk mengurangi penguapan, pangkas daun-daun hingga tersisa 1/3 saja.
  • Kini saatnya memindahkan bibit kopi ke lubang tanam. Sebelumnya, gali sedikit lubang tanam, agar seluruh perakaran bibit bisa masuk.
  • Tutup lubang agar tanaman berdiri kokoh. Jika perlu, pasang beri ajir untuk menopang tanaman agar tidak roboh.

7. Siram Tanaman Kopi

penyiraman tanaman kopi

Sejak bibit ditanam di areal perkebunan, Anda harus rutin merawatnya. Pemeriksaan rutin bisa dilakukan dua kali per minggu. Pada masa awal (umur penanaman 1-6 bulan), pemeriksaan bisa dilakukan minimal sebulan sekali.

Salah satu bagian penting dalam perawatan tanaman kopi adalah penyiraman. Aktivitas ini bisa dilakukan secara berkala, meski tidak setiap hari.

Tanaman kopi sebenarnya toleran dengan kondisi minim air. Namun, penyiraman tetap jangan dilupakan. Ini untuk memacu tumbuh-kembang tanaman.

Pada musim kemarau, penyiraman tanaman kopi dilakukan dua minggu sekali. Perlu diingat, air jangan sampai menggenang terlalu lama di sekitar batang tanaman. Hal ini bisa menyebabkan akar mudah busuk.


8. Lakukan Penyiangan

pemupukan dan penyiangan kenanga

Penyiangan juga dilakukan secara berkala. Dalam hal ini, daun-daun pada pohon peneduh bisa dipangkas sebagian, terutama pada musim hujan. Tujuannya agar tanah tidak terlalu lembab.

Penyiangan juga dilakukan terhadap gulma, atau tanaman liar yang tumbuh di sekitar tanaman kopi. Apalagi jika tanaman kopi masih berumur muda.

Tujuan utama penyiangan yaitu memastikan bahwa tanaman kopi memperoleh makanan yang cukup dari humus atau unsur hara di dalam tanah.

Jika tanaman liar dibiarkan, maka humus itu juga menjadi santapannya, sehingga mengurangi jatah bagi tanaman kopi. Akibatnya, tanaman kopi kekurangan zat makanan sehingga tak bisa tumbuh-kembang dengan baik.

Lakukan penyiangan setiap dua minggu sekali, dan terus dilakukan hingga tanaman kopi sudah besar. Bersihkan gulma-gulma di bawah tajuk pohon kopi. Apabila tanaman kopi sudah besar, gulma-gulma yang dibersihkan bisa dimanfaatkan sebagai penutup tanah.


9. Lakukan Penyulaman

Aktivitas lain yang perlu dilakukan dalam perawatan tanaman kopi adalah penyulaman. Apa itu penyulaman?

Penyulaman adalah proses penggantian tanaman yang rusak atau mati dengan tanaman baru. Ini penting dilakukan untuk mempertahankan jumlah pohon kopi dalam satu areal penanaman.

Penyulaman dilakukan dengan menggunakan benih kopi yang sama. Dengan perawatan lebih intensif, maka benih baru menjadi cepat tumbuh, dan segeralah semai tanaman yang sudah ada lebih dulu.


10. Beri Pupuk

Untuk pemupukan, Anda memiliki dua opsi. Pertama, memakai pupuk buatan, dengan risiko produk mengandung residu bahan kimia seperti peptisida dan insektisida.

Kedua, memakai pupuk kopi yang dapat menghasilkan produk, tanpa residu bahan kimia. Pupuk organik bisa diperoleh dengan cara membeli, baik dalam bentuk padat maupun cair.

Jika enggan membeli, Anda bisa membuatnya sendiri dengan memanfaatkan bahan-bahan alami di sekitar kebun kopi. Misalnya sisa-sisa hijauan dari pohon pelindung dan kulit buah kopi (sisa pengupasan). Keduanya bisa diolah menjadi kompos atau pupuk kandang.

Pupuk bisa diberikan 1-2 tahun sekali. Dosisnya sekitar 20 kg / tanaman. Buatlah lubang yang melingkari area sekitar tanaman. Masukkan kompos ke dalam lubang tersebut.

Jika menggunakan pupuk buatan, caranya hampir sama. Tebarkan pupuk ke dalam lubang yang melingkari area sekitar tanaman.

Ada perlakuan khusus apabila pH tanah kurang dari 4,5. Dalam hal ini, pupuk bisa dicampur 1/2 kg kapur. Tujuannya agar tanah tidak terlalu asam. Pemberian kapur dilakukan setiap 2-4 tahun.


11. Panen Kopi

panen kopi

Jika dibudidayakan secara intensif, tanaman kopi jenis robusta mulai berbuah pada umur 2,5 – 3 tahun. Untuk kopi arabika, panen perdana bisa dilakukan saat tanaman berumur 3 – 4 tahun.

Pemanenan dilakukan secara manual dengan cara memetik buah yang telah masak. Tanda buah sudah masak antara lain terjadi perubahan warna kulit buah, tergantung spesies kopinya (sudah dijelaskan di bagian atas).

Panen perdana biasanya belum banyak. Tetapi jangan khawatir, tanaman akan terus berbuah. Puncak produksi terjadi saat tanaman berumur 7 – 9 tahun.

Periode pemanenan bisa berlangsung selama 4 – 5 bulan. Apabila pemetikan dilakukan hari ini, maka pemetikan berikutnya bisa dilakukan 10 – 14 hari kemudian. Begitu seterusnya sampai tanaman sudah tidak berbuah lagi dalam periode tersebut.


12. Distribusi Hasil Panen

Kopi-kopi yang dipetik dari sejumlah tanaman pada hari yang sama dikumpulkan menjadi satu, kemudian dilakukan penyortiran sesuai dengan grade / kualitas. Pemanenan serta pengolahan pasca panen sangat menentukan kualitas kopi.

Beberapa tahapan yang mesti dilalui usai pemanenan antara lain:

  • Sortasi: Seleksi ketat berdasarkan kualitas buah kopi.
  • Pengupasan kulit buah: bisa menggunakan mesin pengupas (pulper] tipe silinder. Bisa juga dilakukan secara tradisional (rendam, angkat, injak-injak).
  • Fermentasi: Biasanya dilakukan untuk kopi arabika. Tujuannya menghilangkan lapisan lendir yang tersisa di kulit tanduk biji.
  • Pencucian: menghilangkan sisa lendir hasil fermentasi yang masih menempel pada kulit tanduk.
  • Pengeringan: mengurangi kadar air dalam biji kopi yang semula 60 – 65% menjadi 12 %.
  • Sortasi ulang: kriteria ukuran, kemulusan, dan kebersihan.
  • Penggudangan: menyimpan biji kopi agar terjaga kualitasnya sebelum dipasarkan.

Setelah melalui serangkaian proses tersebut, biji kopi siap didistribusikan ke konsumen. Siapa konsumen biji kopi?

Karena lebih cepat terserap pasar, tengkulak sering menjadi sandaran utama para petani kopi. Tapi cara ini sangat tidak dianjurkan, karena pada akhirnya merugikan petani, karena dihargai sangat murah.

Lebih baik bermitra dengan koperasi, atau membangun jaringan pemasaran sendiri. Pada era digital saat ini, jaringan (network) lebih mudah dibangun, termasuk dengan memanfaatkan media social atau membuat toko online.

Silaturahmi dengan para pemilik kedai kopi, setidaknya masih dalam satu provinsi juga dapat dilakukan untuk memuluskan rantai pemasaran biji kopi.

Jika sudah menguasai satu provinsi, bisa melangkah ke sejumlah provinsi. Kalau sudah dapat menguasai sejumlah provinsi, bisa memikirkan kemungkinan ekspor. Silakan diskusi dengan Dinas Perdagangan atau Kadin (Kamar Dagang dan Industri) di daerah masing-masing.


13. Rawat Pasca Panen

Ketika tanaman kopi sudah mulai berbuah beberapa periode, Anda perlu mencermati cabang-cabang yang produktif dan tidak produktif.

Cabang yang tak produktif, atau yang terkena hama dan penyakit, perlu dipangkas. Metode ini disebut pemangkasan produksi. Tujuannya agar tanaman hanya fokus menumbuhkan cabang produktif.

Apabila pohon kopi mengalami penurunan produksi, Anda juga perlu melakukan pemangkasan. Metode ini disebut pemangkasan peremajaan. Ini bisa dilakukan setelah pemupukan susulan, untuk menjaga ketersediaan nutrisi.

Itulah panduan mengenai cara menanam kopi untuk pemula. Semoga bermanfaat.

Baca juga: Cara Menanam Pisang

Dimas

Menyajikan konten berisi panduan menanam, informasi, dan fakta unik seputar tanaman di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *