Cara Tepat Menanam Kentang Hidroponik

Kentang merupakan salah satu tanaman jenis umbi-umbian yang sangat banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia, dan bahkan di seluruh dunia. Hal ini lantaran kentang bisa diolah menjadi berbagai bahan makanan yang nikmat.

Tidak heran kalau saat ini ada banyak petani yang memutuskan untuk membudidayakan kentang secara spesifik. Karena memang pasarnya yang begitu luas, dan bahkan ada beberapa pembudidaya yang hanya menjual kentang mereka ke negeri-negeri di Eropa.

Lebih jauh lagi saat ini sangat banyak orang yang memutuskan untuk bercocok tanam secara mandiri di rumah mereka masing-masing, dengan metode hidroponik. Pertanyaannya, bisakah kentang ditanam secara hidroponik dan bagaimana cara menanam kentang hidroponik?

Nah, yuk lanjut bacanya!


Persiapan Menanam Kentang Hidroponik

Persiapan Menanam Kentang Hidroponik

Langkah pertama yang tidak boleh kamu lewatkan adalah mempersiapkan penanaman kentang hidroponik. Bukan hanya soal sistem hidroponik, tapi beberapa hal yang akan kami bahas di bawah ini.

Saran kami pelajarilah beberapa hal yang akan kami bahas berikutnya, agar ketika nanti kamu menemukan masalah bisa menyelesaikannya sendiri dengan mudah. Selain itu tentu saja agar kentang yang kamu tanam secara hidroponik ini bisa maksimal dan optimal pertumbuhannya.

Adapun beberapa hal yang menurut kami harus kamu pelajari sebelum memulai menanam kentang secara hidroponik adalah sebagai berikut ini:

Bibit kentang

Hal pertama yang harus kamu perhatikan apabila ingin menanam kentang secara hidroponik adalah dengan mempelajari bibit kentang yang akan kamu tanam. Kamu harus memahami karakteristik bibit yang kamu beli tersebut.

Hal ini begitu penting karena memang masing-masing bibit tentu memiliki perlakuan yang berbeda. Apalagi ketika kamu memutuskan untuk menanam kentang secara hidroponik dengan tujuan dijual kembali nantinya.

Mengapa demikian? Karena masing-masing varietas kentang yang kamu beli memiliki suhu ideal, pH tumbuh ideal, kepekatan larutan nutrisi ideal, dan (yang paling penting) masa panen yang berbeda-beda. Selain itu tentu masing-masing jenis memiliki rasa dan tekstur khas yang berbeda-beda.

Nah kalau kamu ingin menjualnya kembali tentu seluruh faktor ini harus diperhitungkan, karena bisa jadi tidak balik modal kalau perhitungannya tidak sesuai.

Lebih lanjut lagi beberapa bibit kentang yang lazim ditemukan di Indonesia sebenarnya ada cukup banyak. Tapi kamu bisa coba beberapa jenis bibit kentang yang akan kami bahas selanjutnya.

  1. Kentang Granola; merupakan salah satu jenis kentang unggulan yang cukup banyak dibudidayakan di daerah Sumatera Utara hingga daerah Jawa Tengah. Kentang jenis ini diketahui bisa menghasilkan kentang dalam jumlah yang tinggi, bahkan dalam 1 hektar lahan konvensional diketahui bisa dihasilkan 26,5 ton kentang Granola dengan harga Rp 5.000,- hingga Rp 10.000,- di tingkat petani. Usia tanam dari kentang jenis ini adalah sekitar 100 hingga 115 hari setelah tanam (HST) dengan ketahanan terhadap penyakit Potato Virus A (PVA) dan Potato Virus Y (PVY).
  2. Kentang Var. Atlantik Lokal Medan; kentang dengan ukuran mungil ini merupakan salah satu jenis kentang yang dicari-cari. Bagaimana tidak, dari total kebutuhannya saja kentang jenis ini baru memenuhi sekitar 25% kebutuhan lokal di Indonesia, dan sisanya mengandalkan impor. Boleh dikatakan kamu yang ingin cuan-cuan untuk belajar membudidayakan kentang jenis ini karena pasarnya masih terbuka luas.
  3. Kentang Cipanas; tergolong sebagai salah satu jenis kentang unggul dimana memiliki usia tanam yang cukup singkat yakni hanya 95 hingga 105 HST saja dengan rata-rata panen 25 ton untuk setiap hektar kentang yang ditanam secara konvensional. Kentang jenis ini menjadi begitu dicari-cari karena memailiki keunggulan tahan terhadap penyakit busuk akibat Pytophtora infestans. Tapi diketahui pula bahwa kentang jenis ini bila ditanam di tanah seringkali diserang nematode dan layu bakteri. Nah kamu boleh coba tanam kentang ini secara aeroponik, siapa tahu bisa lebih tahan terhadap penyakit dan parasit tersebut.
  4. Kentang Var. Atlantik Lokal Malang; masih satu galur dengan kentang Atlantik dari medan, kentang ini juga cukup dicari. Sama seperti saudaranya, kentang dari Malang ini menyumbang 25% kebutuhan dari total 100% kebutuhan kentng nasional. Hal ini lantaran memang kentang jenis ini merupakan kentang yang sangat nikmat untuk dijadikan bahan baku keripik kentang, namun pohonnya tidak terlalu produktif. Oleh karena itulah di Indonesia suplai kentang jenis ini sangat minim.
  5. Kentang Cosima; merupakan salah satu kentang yang juga cukup banyak dibudidayakan di Indonesia, dengan masa panen yang diketahui rata-rata 100 hingga 110 hari setelah tanam (HST). Potensi panen maksimal dari kentang ini pun cukup tinggi yakni mencapai 36 ton per hektar bila ditanam di tanah, dengan harga sekitar Rp 5.000,- hingga Rp 10.000,- di tingkat petani. Adapun kentang jenis ini memiliki ketahanan khusus terhadap penyakti busuk daun, nematode, namun cukup rentan terhadap layu bakteri.

Sistem hidroponik

Berbeda dengan beberapa jenis tanaman yang bisa kamu tanam di sistem hidroponik. Boleh dikatakan menanam kentang dengan metode hidroponik, walaupun meningkatkan produktivitas jauh sekali dibanding konvensional, tapi tergolong cukup sulit.

Pertama-tama kamu harus mengetahui bahwa saat ini ada beberapa sistem hidroponik yang dikenal di seluruh dunia. Namun beberapa yang paling dikenal adalah Deep Water Culture (DWC), Nutrient Film Technique (NFT), Aeroponics, Wick System, hingga Drip System dan Abb and Flow System.

Untuk kentang hidroponik sendiri salah satu teknik yang cukup kami rekomendasikan adalah NFT apabila kamu masih pemula, ataupun dengan menggunakan metode aeroponik apabila kamu sudah familiar dengan hidroponik sebelumnya.

Intinya sih kentang sebenarnya tidak membutuhkan banyak air, dan bisa menggunakan NFT. Dimana dengan sistem ini akar dari kentang hidroponik hanya akan dilewati sedikit air secara konstan.

Selain itu kunci dari menanam kentang secara hidroponik adalah dengan memberikan banyak oksigen. Karena dengan mengalirkan banyak oksigen ke akar, akan membuat pertumbuhan akar dan kentang (umbi) akan menjadi maksimal.

Kondisi tanam

Setelah kamu memahami bibit yang akan kamu tanam di sistem hidroponik, mempelajari seluruh teknik-teknik hidroponik dasar (bagi pemula), dan menentukan teknik mana yang ingin kam pakai, berikutnya pelajarilah kondisi tanam ideal dari kentang.

Bagi kamu yang masih pemula di dunia bercocok tanam ini, memahami kondisi tanam adalah kunci utama dan kunci terbesar dari keberhasilanmu di dalam menanam tanaman apapun. Baik bunga-bunga hias ataupun komoditas yang bisa dijual kembali.

Lebih jauh lagi, salah satu keunikan dan ‘kesulitan’ di dalam menanam kentang menggunakan hidroponik adalah bahwa kondisi tanam dari kentang (atau tanaman apapun) ditentukan oleh kamu selaku pekebun itu sendiri.

Adapun beberapa kondisi tanam yang menurut kami harus kamu pelajari, dan kemudian kamu terapkan di dalam menanam kentang hidroponik adalah sebagai berikut ini:

  • Suhu, faktor pertama yang harus kamu perhatikan adalah suhu ideal dari kentang yang kamu tanam. Mengapa suhu kami letakkan di posisi pertama? Alasannya adalah karena suhu merupakan salah satu faktor yang paling mudah berubah dan bahkan sifatnya sangat fluktuatif. Sebagai contoh, boleh jadi suhu pagi siang dan malam hari tempat kamu menanam kentang berubah dengan drastis. Padahal tanaman merupakan makhluk hidup yang sangat sensitif terhadap perubahan suhu. Untuk yang satu ini saran kami selalu gunakan thermometer berkualitas, lakukan pencatatan suhu rutin, serta mengatur suhu melalui larutan nutrisi. Kamu bisa mengubah-ubah suhu dan men-stabilkannya dengan cara mengatur suhu larutan nutrisi. Adapun suhu ideal tumbuh dari kentang adalah sekitar 18oC hingga 25oC, atau bergantung dari variets kentang yang ditanam.
  • pH, sama seperti suhu dimana pH merupakan salah satu faktor yang sangat mudah berubah dan sifatnya fluktuatif, namun tanaman sangat sensitif terhadap perubahan pH yang terjadi. Apalagi bila kamu tergolong orang yang tidak apik dan jarang mengecek larutan nutrisimu. Perubahan pH bisa disebabkan oleh kandungan larutan nutrisi yang tidak seimbang, dan biasanya bisa diatasi dengan memberikan buffer pH. Untuk yang satu ini gunakan pH meter berkualitas, catat pH harian, serta pertahankan pH kentang hidroponik di angka 5,8 hingga 6,2.
  • Periode panen, untuk periode panen dari kentang sendiri kamu bisa mengikutinya sesuai dengan apa yang ditulis oleh produsen bibit di dalam kemasan. Nah perhatikan periode panen yang sesuai, dan jangan pernah melakukan panen di luar periode panen tersebut karena bisa mengakibatkan rasa ataupun tekstur dari kentang hidroponik yang kamu tanam menjadi tidak optimal. Hal ini tentunya cukup berbahaya terutama bagi kamu yang menanam kentang untuk dijual kembali.
  • Cahaya matahari, salah satu faktor penting di dalam bercocok tanam adalah dengan menjaga tanaman agar selalu terpapar cahaya matahari. Tanaman kentang sendiri, tentu membutuhkan cahaya matahari. Salah satu tips yang kami bisa berikan apabila kamu menanam kentang bukan di tempat yang kaya akan sinar matahari adalah dengan memberikan pantulan menggunakan material-material reflektif. Ada sangat banyak, namun salah satu yang paling mudah misalnya adalah alumunium foil.
  • Media tanam, di Indonesia sendiri ada sangat banyak media tanam yang bisa digunakakan untuk bercocok tanam secara hidroponik. Sebut saja misalnya media tanam rockwool, hydroton pebbles, struvite, cocopeat, dan semacamnya. Nah salah satu media tanam yang kami rekomendasikan untuk ditanam adalah media tanam semacam perlite, vermiculite, dan cocopeat hingga hydroton. Alasannya adalah karena kentang membutuhkan oksigen terlarut yang tinggi sehingga material-material ‘berongga’ macam ini lebih dipilih dibandingkan dengan material ‘padat’.
  • Teknik hidroponik, setelah kamu membaca seluruh teknik dasar seperti yang kami rekomendasikan di atas, kamu pada dasarnya sih boleh memilih teknik apa saja yang menurut kamu paling mudah untuk diperlajari secara detil dan dibuat. Akan tetapi teknik yang cukup kami rekomendasikan adalah teknik DWC bagi kamu yang masih awam ataupun teknik aeroponik bagi kamu yang sudah familiar dengan hidroponik.

Nah, seluruh faktor yang ada di atas tersebut merupakan faktor-faktor kunci yang memegang peranan besar di dalam keberhasilan menanam kentang secara hidroponik. Dengan menjaga faktor-faktor di atas seluruhnya, tentu diharapkan kentang hidroponik yang kamu tanam bisa tumbuh maksimal.

Saatnya lanjut ke pembahasan berikutnya, yakni mengenai teknik penyemaian bibit kentang.


Penyemaian Bibit Kentang Hidroponik

Penyemaian Bibit Kentang Hidroponik

Apabila kamu sudah mempelajari dan mempersiapkan seluruh perisapan-persiapan di atas, pertama-tama kamuh arus melakukan penyemaian bibit kentang hidroponik, tentu sebelum bisa dipindahkan ke media tanam hidroponik.

Meski demikian, pada dasarnya cara menyemai bibit kentang hidroponik sebenarnya sama saja seperti melakukan penyemaian bibit kentang secara konvensional. Nah berikut ini adalah beberapa langkah menyemai bibit kentang yang harus kamu lakukan:

  1. Menyiapkan beberapa peralatan dan bahan-bahan di bawah ini
    • Bibit yang ingin disemai, lebihkan beberapa bibit sesuai dengan keinginanmu. Atau kamu juga bisa menyemai menggunakan umbi kentang.
    • Air secukupnya sesuai dengan ukuran wadah besar.
    • Tusuk gigi secukupnya.
    • Larutan nutrisi.
    • Selang aerator.
    • Beberapa buah wadah, bisa menggunakan toples kaca.
  2. Ambil sejumlah wadah yang telah kamu persiapkan sebelumnya. Isilah wadah tersebut dengan menggunakan air bersih, usahakan air yang digunakan bersifat ‘netral’. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah wadah tersebut.
    • Untuk air yang akan kamu gunakan melakukan penyemaian kami cukup menyarankan agar kamu menggunakan air tanah, air tampungan hujan, atau air sumur.
    • Apabila menggunakan air PDAM maka bisa mempersiapkan air tersebut sebelumnya, diantaranya dengan menjemur air tersebut kira-kira selama 1 hingga 2 hari di bawah sinar matahari terik, agar setidaknya kandungan klorin bisa berkurang dari dalam air.
  3. Persiapkanlah bibit kentang tersebut, atau bila kamu langsung menggunakan umbi kentang, maka kamu bisa mempersiapkan umbi kentang yang ingin kamu budidayakan di hidroponik tersebut.
    • Kamu cukup menusuk umbi ataupun bibit kentang tersebut di kempat sisinya, sehingga kemudian bisa diletakkan di bibir toples.
    • Pastikan bagian bawah umbi bisa menyentuh air sehingga perlahan-lahan perakaran bisa keluar dari sana.
  4. Bila langsung menggunakan perlite ataupun media tanam semacamnya bisa melakukan langkah di bawah ini.
    • Pertama-tama tuangkan perlite ke dalam wadah besar hingga tersisa sekitar 5-10 cm ruang di bagian paling atas.
    • Setelah itu tuangkan air ke wadah besar tersebut hingga air meresap ke perlite ataupun media tanam sejenis yan gkamu gunakan.
    • Siapkan umbi kentang, dengan cara memotongnya menjadi dua bagian.
    • Bagian yang terpotong kamu tanam di perlite hingga kedalaman sekitar 3-5 cm saja.
  5. Letakkan wadah yang telah ditaruh bibit kentang tadi di tempat yang kering dan terkena sinar matahari.
    • Jangan lupa untuk selalu menjaga kondisi larutan nutrisi agar pH, suhu, dan kepekatannya selalu sesuai terhadap pertumbuhan kentang.
  6. Bila daun kentang sudah mencapai 4 buah yakni 2 daun lembaga dan 2 daun sejati, maka kentang sudah siap dipindahkan ke sistem hidroponik. Biasanya proses ini akan memakan waktu sekitar 1 hingga 2 minggu, atau tentu sesuai dengan jenis bibit yang kamu beli dan perlakuan yang diberikan terhadap bibit tersebut.

Melakukuan penyemaian kentang memang jauh lebih mudah apabila dibandingkan dengan melakukan penyemaian beberapa jenis sayur dan buah, sebelum bisa kamu pindahkan ke sistem hidroponikmu.

Nah jangan lupa pula ketika kamu melakukan penyemaian, lakukan pula penyortiran kentang. Sehingga nantinya kamu hanya perlu memindahkan kentang yang memiliki kualitas baik saja untuk di tanam di sistem hidroponikmu.

Apabila sudah melakukan penyemaian kamu bisa langsung memindahkannya ke sistem hidroponik yang telah kamu buat. Jangan lupa ya untuk selalu menjaga kepekatan larutan nutrisi, pH larutan nutrisi, serta suhu larutan nutrisi.


Transplantasi dan Pemindahan Kentang di Sistem Hidroponik

Transplantasi dan Pemindahan Kentang di Sistem Hidroponik

Apabila proses penyemaian kentang sudah selesai dilakukan, setelah kamu memilih kentang-kentang dengan kualitas terbaik, saatnya kamu melakukan pemindahan kentang ke sistem hidroponik yang telah kamu buat.

Adapun langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk memindahkan dan menanam kentang secara hidroponik adalah sebagai berikut ini:

  1. Pisahkan masing-masing media tanam yang sudah ditanami bibit kentang Jangan lupa untuk memindahkan tanaman kentang yang berkualitas baik saja ya, tahap ini disebut dengan penyortiran.
    • Hati-hati di dalam mengangkat kentang dari media penyemaian, apalagi bila kamu menggunakan perlite karena dikhawatirkan bisa merusak bagian akar dari kentang hidroponik tersebut.
  2. Pindahkan kentang tersebut ke dalam sistem hidroponik yang sudah kamu siapkan sebelumnya. Masukkan masing-masing kentang ke dalam netpot yang telah disiapkan sebelumnya.
    • Baik teknik NFT ataupun aeroponik, sebenarnya memiliki langkah yang cukup serupa. Selain itu untuk media tanam baik campuran perlite – vermiculite, perlite, ataupun hydroton sebenarnya pun memiliki langkah yang sama. Perbedaannya nanti hanya di kapasitas penyerapan terhadap air dan aerasi saja.
    • Angkat benih kentang dari media tanam hingga seluruh akarnya terlepas, namun pastikan tanaman tidak rusak. Nah bisa dibilang langkah ini merupakan salah satu langkah yang penting, karena cukup sulit dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dari kentang hidroponik tersebut nantinya.
  3. Adapun mekanisme penanaman tentu saja bervariasi tergantung dari teknik hidroponik yang ingin kamu gunakan.
  4. Isi sistem hidroponik dengan larutan nutrisi.
    • Nilai kadar larutan nutrisi ini bisa juga bervariasi antar jenis kentang. Saran kami kamu bisa membaca sesuai dengan rekomendasi yang biasanya dicantumkan di bungkus bibit, atau tentu bisa bertanya kepada penjual toko bibit tersebut.
    • Namun rata-rata kamu bisa mengatur kepekatan nutrisi sekitar 1000 hingga 1500 ppm dengan menggunakan nutrisi AB Mix saat usia kentang masih cukup muda, atau ketika kentang baru dipindahkan dari media semai.
    • Ketika usia kentang sudah mulai memunculkan bakal umbi-umbi yang mungil di bagian akarnya maka kamu bisa menaikkan kepekatan larutan nutrisi menjadi 1500 hingga 1600 ppm menggunakan nutrisi AB Mix.
    • Adapun ketika kentang sudah mulai berbuah naikkan kembali kadar larutan nutrisi menjadi 1700 hingga 1800 Sebenarnya untuk angka kepekatan ini cukup rumit, namun untuk kentang sendiri rata-rata dibutuhkan 1400 hingga 1800 ppm sepanjang perkembangannya.
    • Jaga selalu agar pH tetap di antara 5,0 hingga 6,0 atau lebih ideal di antara 5,8 hingga 6,2.
  5. Lakukan pengecekan sistem hidroponik rutin, setidaknya lakukanlah selama 2 hari sekali.
    • Lakukan pengecekan tinggi air, kadar ppm larutan nutrisi, kebersihan wadah nutrisi secara umum, dan kondisi tanaman.
    • Pastikan ppm tetap terjaga dan kadar air tidak surut atau kering.
    • Jangan lupa lakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman.
  6. Bila sudah mencapai masa panen kamu bisa langsung memanen buah kentang.
  7. Jangan memanen kentang lebih dari masa panen yang tertera atau spesifikasinya, karena akan menyebabkan rasa kentang menjadi tidak nikmat untuk dikonsumsi.
  8. Selesai!

Nah, langkah-langkah di atas merupakan salah satu langkah paling mudah yang bisa kamu lakukan untuk menanam kentang secara hidroponik, atau yang lebih kami rekomendasikan yakni secara aeroponik.

Saran kami memang untuk membaca masing-masing metode hidroponik secara lebih matang, agar kamu benar-benar yakin untuk kemudian membuat salah satu sistem hidroponik sesuai dengan kepercayaan dirimu.

Nah semoga artikel ini bermanfaat, selamat mencoba, dan semoga berhasil ya!

Fakhri Zahir

Penulis berpengalaman yang mengisi banyak konten di website populer. Pegiat dunia agrikultur dan kedokteran.

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Ikut berkomentarx
()
x