Cara Menanam Jahe Hidroponik yang Efisien

Jahe merupakan salah satu tanaman yang sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. Hal ini lantaran orang Indonesia yang memiliki ribuan jenis masakan, ternyata seringkali menggunakan jahe sebagai salah satu bahan pembuatnya.

Lebih jauh lagi, bahkan jahe juga seringkali digunakan sebagai salah satu bahan untuk membuat minuman yang nikmat. Minuman ini pun tersebar di seluruh Indonesia dengan nama yang berbeda-beda, cita rasa berbeda, namun sama-sama berbahan dasar air rebusan jahe.

Menariknya kamu ternyata bisa juga menanam tanaman jahe sendiri di rumah loh, karena jahe tergolong sebagai salah satu tanaman yang mudah untuk dibudidayakan dan tidak manja. Lebih jauh lagi kamu pun ternyata bisa menanam jahe secara hidroponik.

Ini dia cara menanam jahe hidroponik!


Persiapan Menanam Jahe Hidroponik

Persiapan Menanam Jahe Hidroponik

Sebelum kamu mulai menanam jahe secara hidroponik, ada satu langkah yang paling penting yang harus kamu lakukan. Langkah ini adalah langkah persiapan, dimana kamu harus mempelajari seluruh hal yang menurut kami penting dan akan kami bahas di bawah ini.

Dengan mempelajari persiapan menanam jahe hidroponik maka kamu bisa menyelesaikan setidaknya masalah-masalah sederhana secara mandiri. Setelah itu baru kamu bisa bertanya bila masalahnya sudah terlalu besar dan kamu tidak mengerti.

Nah, berikut ini adalah beberapa hal penting yang harus kamu pelajari dengan baik dan benar, sebelum kamu memulai melakukan budidaya jahe secara hidroponik:

Bibit jahe

Hal penting pertama yang harus kamu pelajari adalah mengenai bibit ataupun jenis jahe. Pengetahuan mengenai jenis jahe yang ingin kamu tanam adalah hal penting, baik apabila menanam jahe secara konvensional ataupun bila kamu menanam jahe secara hidroponik.

Hal ini menjadi begitu penting karena ketika kamu mulai menanam jahe secara hidroponik, maka kamu harus menyesuaikan lingkungan pertumbuhan dengan lingkungan ideal yang diminta oleh tanaman jahe tersebut.

Beberapa hal yang bisa kamu atur di dalam lingkungan hidroponik misalnya adalah dengan melakukan pengaturan pH dari larutan nutrisi, mengatur kepekatan larutan nutrisi, serta menyesuaikan masa panen dengan yang dimiliki oleh masing-masing jenis tanaman jahe.

Hal ini menurut kami sangat penting, apalagi bila memang kamu menanam jahe dengan tujuan untuk dijual kembali. Dengan mempelajari jenis dan perlakuan pada jahe hidroponik, tentu kamu bisa membuat perhitungan yang cermat sehingga bisa menghindari terjadinya kerugian pada budidaya jahe tersebut.

Adapun beberapa jenis jahe yang saat ini cukup dikenal di Indonesia, serta cukup sering ditanam baik oleh para petani ataupun oleh para pekebun pemula adalah sebagai berikut ini:

  1. Jahe Gajah; merupakan salah satu jenis jahe yang paling banyak dibudidayakan di Indonesia. Beberapa keunggulan yang dimiliki oleh jahe jenis ini adalah ukurannya yang sangat besar dan gendut-gendut serta tahan terhadap banyak penyakit yang bisa mengakibatkan gagal panen. Selain itu rasa yang dimiliki oleh jahe gajah diketahui tidak terlalu pedas sehingga bisa diolah menjadi berbagai macam minuman segar ataupun sebagai bahan bumbu masakan.
  2. Jahe Kuning; merupakan salah satu tanaman jahe yang terkenal karena sering sekali ditanam oleh masyarakat awam di pekarangan. Alasannya karena rasa yang dimiliki oleh jahe jenis ini sangat khas sehingga cocok dijadikan sebagai bumbu dapur, olahan minuman, serta dijadikan jamu-jamuan berkhasiat. Dibandingkan dengan jahe gajah, jahe jenis ini diketahui memiliki kandungan minyak atsiri yang lebih tinggi. Hal itulah yang membuat jahe jenis ini memiliki rasa yang lebih pedas dan lebih wangi.
  3. Jahe Merah; merupakan salah satu varian jahe yang paling langka karena tidak banyak ditanam oleh petani. Akan tetapi jahe ini justru merupakan salah satu yang paling dicari-cari karena memiliki minyak atsiri yang sangat tinggi sehingga bisa mengeluarkan rasa pedas dan aroma yang sangat khas. Konsekuensi nya tentu saja jahe merah bisa menjadi komoditas dengan harga yang sangat tinggi terutama di waktu-waktu tertentu.

Secara umum, jenis-jenis jahe di atas adalah jenis yang dikenal dan dibudidayakan di Indonesia. Baik dibudidayakan oleh para petani, ataupun dibudidayakan oleh para pekebun dan orang-orang awam di rumah mereka.

Akan tetapi memang pada akhirnya kamu lah yang menentukan jenis jahe mana yang menurut kamu paling cocok untuk ditanam di dalam sistem hidroponik yang kamu punya. Apalagi bila memang pada akhirnya kamu ingin menjual jahe tersebut kembali.

Selain itu hal yang lebih penting lagi adalah dengan memahami bahwa masing-masing jahe memiliki karakteristik ataupun persayaratan tanam yang berbeda-beda dan harus kamu ikuti agar jahe tersebut bisa tumbuh dengan optimal dan maksimal.

Nah setelah kamu selesai mempelajari jahe yang bisa kamu tanam, beserta persyaratan tanam yang dimiliki oleh masing-masing jenisnya maka kamu bisa mempelajari sistem hidroponik yang bisa kamu buat di rumahmu sendiri.

Sistem hidroponik

Untuk membudidayakan jahe secara hidroponik ada beberapa poin penting yang harus kamu perhatikan terkait sistem hidroponik itu sendiri. Hal pertama yang harus kamu perhatikan adalah bahwa saat ini ada sangat banyak sistem hidroponik yang bisa kamu coba sendiri.

Akan tetapi agak berbeda dengan kebanyakan tanaman yang bisa ditanam secara hidroponik, jahe yang tergolong sebagai umbi-umbian memiliki tingkat kesulitan yang agak tinggi dibanding tanaman berbentuk daun ataupun buah-buahan.

Meski demikian memang setidaknya kamu harus mempelajari beberapa teknik hidroponik dasar seperti Deep Water Culture (DWC), Nutrient Film Technique (NFT), Aeroponics, Wick System, hingga Drip System dan Abb and Flow System.

Di awal-awal ini silahkan pelajari seluruh teknik dasar tersebut dan kemudian kamu bisa memilih salah satu yang menurut kamu paling mudah, murah, dan paling mungkin untuk kamu coba buat sendiri di rumah.

Kondisi tanam

Setelah mempelajari jenis-jenis dari jahe serta mempelajari sistem hidroponik yang ada, saatnya kamu mepelajari mengenai kondisi tanam ataupun syarat tumbuh dari tanaman jahe hidroponik itu sendiri.

Hal ini amat penting, khususnya bagi kamu yang baru pertama kali terjun ke dunia hidroponik dimana sistem ini memaksa kamu untuk membuat kondisi tanam seideal mungkin, mengikuti persyaratan tanam dari jahe hidroponik tersebut.

Beberapa indikator di bawah ini merupakan indikator dasar yang paling mungkin diatur namun cukup memengaruhi pertumbuhan serta optimalisasi panen dari jahe hidroponik, dari jenis apapun, yang kamu tanam.

Berikut ini adalah diantaranya:

  • Suhu, faktor pertama yang harus kamu perhatikan adalah suhu tanam dari jahe hidorponik tersebut. Sebenarnya suhu adalah salah satu hal yang biasanya tidak terlalu diganggu karena mengikuti suhu lingkungan, khususnya ketika kamu bercocok tanam secara konvensional. Akan tetapi ketika kamu bercocok tanam secara hidroponik, suhu tergolong sebagai salah satu faktor yang harus kamu selalu atur. Lebih jauh lagi, suhu tergolong ke dalam salah satu indikator yang sangat mungkin berubah bahkan di dalam satu hari saja alias nilainya sangat fluktuatif. Nah bila menanam jahe hidroponik kami sarankan gunakan thermometer berkualitas baik, lakukan pencatatan fluktuasi suhu larutan nutrisi dan harus segera melakukan pengaturan suhu apabila kamu mendapati adanya penyimpangan yang bermakna dari suhu larutan tersebut. Adapun suhu ideal yang harus kamu capai ketika menanam jahe secara hidroponik adalah sekitar 20 hingga 25o
  • pH, sama seperti suhu dimana pH adalah salah satu indikator yang sifatnya sangat mudah berubah berdasarkan kepekatan serta kandungan yang ada di dalam larutan nutrisi dari sistem hidroponikmu. Lebih jauh lagi, pengaturan pH menurut kami jauh lebih mudah dibandingkan dengan pengaturan suhu larutan nutrisi. Syaratnya adalah dengan menyediakan pH meter yang berkualitas serta dengan melakukan pencatatan fluktuasi pH dengan saksama. Selain itu selalu lakukan pengukuran pH setiap kali kamu menambah atau mengurangi larutan nutrisi yang ada. Kamu bisa menggunakan pH buffer untuk mengatur pH dari nutrisi setiap kali ditemukan adanya penyimpangan pada pH larutan nutrisi. Adapun pH ideal dari tanaman jahe hidroponik adalah sekitar 6,8 hingga 7,0.
  • Periode panen, selain dari pH dan suhu larutan nutrisi kamu harus selalu memperhatikan dan mencatat periode panen dari jenis jahe yang kamu tanam tersebut. Masa panen jahe sendiri sebenarnya sangat bervariasi bergantung dari jenis jahe yang kamu beli. Nah akan tetapi apabila kamu hanya ingin menggunakan jahe tersebut menjadi bumbu masakan, kamu boleh memanen jahe di usia 4 hingga 6 bulan setelah tanam. Adapun bila ingin dijual kembali maka bisa dipanen di usia 10 hingga 12 bulan. Ciri khas jahe yang siap panen adalah daun yang tadinya berwarna hijau sudah berubah menjadi kuning dengan batang yang sudah mongering sempurna.
  • Cahaya matahari, nah tanaman jahe sendiri bisa dikatakan sebagai salah satu tanaman yang sangat menyukai sinar matahari. Apalagi di usia 2,5 hingga 7 bulan setelah tanam, tanaman jahe diketahui harus mendapatkan cahaya matahari secara langsung. Oleh karena itulah saran kami penggunaan paranet harus dihindari agar pertumbuhan dari jahe bisa optimal.
  • Media tanam, untuk bisa menanam tanaman jahe ada banyak pilihan yang bisa kamu pergunakan. Akan tetapi karena jahe termasuk ke dalam umbi-umbian maka saran kami adalah agar kamu menggunakan media tanam hidroponik yang bisa menyerap air. Beberapa media tanam yang diketahui baik dalam menyerap air misalnya rockwool, hydroton pebbles, struvite, cocopeat, hingga perlite dan Salah satu tips yang bisa kamu gunakan adalah menggunakan campuran perlite dan vermiculite sehingga bisa menyediakan banyak rongga agar akar mendapatkan oksigen terlarut yang tinggi namun tidak terlalu basah sehingga bisa membuat tanaman membusuk.
  • Teknik hidroponik, setelah kamu membaca seluruh teknik dasar hidroponik di atas kami yakin kalau kamu sudah memiliki preferensimu sendiri. Akan tetapi kami cukup merekomendasikan kamu untuk menggunakan tekni DWC, NFT, ataupun teknik aeroponik. Karena ketiganya diketahui cukup baik di dalam pertumbuhan akar, khususnya aeroponik. Nah adapun jahe sendiri termasuk tanaman rimpang yang ‘buah’nya bisa kamu dapatkan di bagian akar sehingga saran kami adalah untuk menggunakan sistem yang bisa menghantarkan oksigen terlarut paling banyak ke akar.

Kesimpulannya sih apabila kamu bisa menjaga seluruh faktor di atas maka dapat dipastikan hasil penen yang kamu dapatkan bisa maksimal dan optimal. Akan tetapi jangan jumawa juga, karena selalu ada force majeure yang bisa membuat gagal panen secara mendadak.

Nah bila sudah paham saatnya lanjut membahas teknik penyemaian bibit jahe.


Penyemaian Bibit Jahe Hidroponik

Penyemaian Bibit Jahe Hidroponik

Bila sudah memahami seluruh hal yang kami jelaskan di atas, saatnya kamu melakukan penyemaian bibit jahe hidroponik. Penyemaian merupakan langkah yang harus kamu lakukan sebelum bisa mulai menanam jahe di dalam sistem hidroponik.

Jahe sendiri bisa dilakukan penyemaian dengan beberapa cara, nah untuk langkah-langkahnya silahkan ikuti di bawah ini:

  1. Menyiapkan beberapa peralatan dan bahan-bahan di bawah ini
    • Bibit yang ingin disemai, lebihkan beberapa bibit sesuai dengan keinginanmu. Atau kamu juga bisa menyemai menggunakan umbi jahe.
    • Air secukupnya sesuai dengan ukuran wadah besar.
    • Tusuk gigi secukupnya.
    • Larutan nutrisi.
    • Selang aerator.
    • Beberapa buah wadah, bisa menggunakan toples kaca.
  2. Ambil sejumlah wadah yang telah kamu persiapkan sebelumnya. Isilah wadah tersebut dengan menggunakan air bersih, usahakan air yang digunakan bersifat ‘netral’. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah wadah tersebut.
    • Untuk air yang akan kamu gunakan melakukan penyemaian kami cukup menyarankan agar kamu menggunakan air tanah, air tampungan hujan, atau air sumur.
    • Apabila menggunakan air PDAM maka bisa mempersiapkan air tersebut sebelumnya, diantaranya dengan menjemur air tersebut kira-kira selama 1 hingga 2 hari di bawah sinar matahari terik, agar setidaknya kandungan klorin bisa berkurang dari dalam air.
  3. Persiapkanlah bibit jahe tersebut, atau bila kamu langsung menggunakan umbi jahe, maka kamu bisa mempersiapkan umbi jahe yang ingin kamu budidayakan di hidroponik tersebut.
    • Sebelum bisa menyemai umbi jahe, kamu harus menjemur rimpang jahe yang telah dipanen (jangan sampai kering). Lalu simpan terlebih dahulu rimpang tersebut selama satu hingga 1,5 bulan.
    • Patahkan rimpang jahe dengan menggunakan tangan atau pisau, dengan syarat masing-masing potongan rimpang memiliki tiga hingga limamata tunas jahe. Setelah itu lakukan penjemuran ulan selama setengah hari.
  4. Bila langsung menggunakan perlite ataupun media tanam semacamnya bisa melakukan langkah di bawah ini.
    • Pertama-tama tuangkan perlite ke dalam wadah besar hingga tersisa sekitar 5-10 cm ruang di bagian paling atas.
    • Setelah itu tuangkan air ke wadah besar tersebut hingga air meresap ke perlite ataupun media tanam sejenis yan gkamu gunakan.
    • Siapkan umbi jahe, dengan cara memotongnya menjadi dua bagian.
    • Bagian yang terpotong kamu tanam di perlite hingga kedalaman sekitar 3-5 cm saja.
  5. Cara lain untuk melakuakn penyemaian bibit jahe adalah menggunakan peti kayu dan abu gosok.
    • Pertama-tama di bagian dasar peti kayu kamu bisa letakkan bibit jahe yang telah diolah sebelumnya. Di atasnya dilapisi abu gosok ataupun sekam, hingga tertutup.
  6. Letakkan wadah yang telah ditaruh bibit jahe tadi di tempat yang kering dan terkena sinar matahari.
    • Jangan lupa untuk selalu menjaga kondisi larutan nutrisi agar pH, suhu, dan kepekatannya selalu sesuai terhadap pertumbuhan jahe.
  7. Proses penyemaian ini biasany amemakan waktu selama 2 hingga 4 minggu. Selain itu kamu juga bisa memperhatikan, bila sudah tumbuh daun sejati maka jahe sudah siap dipindahkan ke sistem hidroponik.
  8. Karena jahe tergolong tanaman yang sensitif, sebelum melakukan penyortiran dan pemindahan bibit ke sistem hidroponik kamu harus mencelupkan bibit tersebut ke larutan fungisida selama 8 jam, dijemur selama 4 jam, dan barulah bisa dipindahkan ke sistem hidroponik.

Setelah selesai melakukan penyemaian, kamu sudah bisa memindahkan bibit jahe tersebut ke sistem hidroponik yang telah kamu buat sebelumnya.


Transplantasi dan Pemindahan Jahe ke Sistem Hidroponik

Transplantasi dan Pemindahan Jahe ke Sistem Hidroponik

Setelah kamu melakukan penyemaian bibit jahe maka kamu bisa langsung melakukan pemindahan jahe ke dalam sistem hidroponik yang kamu buat. Adapun langkah-langkah pemindahan dan penanaman jahe ke dalam sistem hidroponik adalah sebagai berikut ini:

  1. Pisahkan masing-masing media tanam yang sudah ditanami bibit jahe Jangan lupa untuk memindahkan tanaman jahe yang berkualitas baik saja ya, tahap ini disebut dengan penyortiran.
    • Hati-hati di dalam mengangkat jahe dari media penyemaian, apalagi bila kamu menggunakan perlite karena dikhawatirkan bisa merusak bagian akar dari jahe hidroponik tersebut.
  2. Pindahkan jahe tersebut ke dalam sistem hidroponik yang sudah kamu siapkan sebelumnya. Masukkan masing-masing jahe ke dalam netpot yang telah disiapkan sebelumnya.
    • Baik teknik NFT ataupun aeroponik, sebenarnya memiliki langkah yang cukup serupa. Selain itu untuk media tanam baik campuran perlite – vermiculite, perlite, ataupun hydroton sebenarnya pun memiliki langkah yang sama. Perbedaannya nanti hanya di kapasitas penyerapan terhadap air dan aerasi saja.
    • Angkat benih jahe dari media tanam hingga seluruh akarnya terlepas, namun pastikan tanaman tidak rusak. Nah bisa dibilang langkah ini merupakan salah satu langkah yang penting, karena cukup sulit dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dari jahe hidroponik tersebut nantinya.
  3. Adapun mekanisme penanaman tentu saja bervariasi tergantung dari teknik hidroponik yang ingin kamu gunakan.
  4. Isi sistem hidroponik dengan larutan nutrisi.
    • Nilai kadar larutan nutrisi ini bisa juga bervariasi antar jenis jahe. Saran kami kamu bisa membaca sesuai dengan rekomendasi yang biasanya dicantumkan di bungkus bibit, atau tentu bisa bertanya kepada penjual toko bibit tersebut.
    • Namun rata-rata kamu bisa mengatur kepekatan nutrisi sekitar 800 hingga 1000 ppm dengan menggunakan nutrisi AB Mix saat usia jahe masih cukup muda, atau ketika jahe baru dipindahkan dari media semai.
    • Ketika usia jahe sudah mulai memunculkan bakal umbi-umbi yang mungil di bagian akarnya maka kamu bisa menaikkan kepekatan larutan nutrisi menjadi 1000 hingga 1200 ppm menggunakan nutrisi AB Mix.
    • Adapun ketika jahe sudah mulai berbuah naikkan kembali kadar larutan nutrisi menjadi 1300 hingga 1500 Sebenarnya untuk angka kepekatan ini cukup rumit, namun untuk jahe sendiri rata-rata dibutuhkan 1400 hingga 1600 ppm sepanjang perkembangannya.
    • Jaga selalu agar pH tetap di antara 6,5 hingga 7,0.
  5. Lakukan pengecekan sistem hidroponik rutin, setidaknya lakukanlah selama 2 hari sekali.
    • Lakukan pengecekan tinggi air, kadar ppm larutan nutrisi, kebersihan wadah nutrisi secara umum, dan kondisi tanaman.
    • Pastikan ppm tetap terjaga dan kadar air tidak surut atau kering.
    • Jangan lupa lakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman.
  6. Bila sudah mencapai masa panen kamu bisa langsung memanen buah jahe
    • Jangan memanen jahe lebih dari masa panen yang tertera atau spesifikasinya, karena akan menyebabkan rasa jahe menjadi tidak nikmat untuk dikonsumsi.
  7. Selesai!

Nah bila sudah selesai melakukan langkah-langkah tersebut tentu kami harap hasil panen yang dicapai bisa maksimal ya. Semoga berhasil ya, mengingat jahe tergolong ke dalam tanaman yang cukup sulit bila dibudidayakan secara hidroponik.

Fakhri Zahir

Penulis berpengalaman yang mengisi banyak konten di website populer. Pegiat dunia agrikultur dan kedokteran.

guest
0 Comments
Inline Feedbacks
Lihat semua komentar
0
Ikut berkomentarx
()
x