Cara Menanam Bawang Putih Hidroponik

Bawang putih merupakan salah satu komoditas unggulan dari Indonesia, bersama jenis bawang-bawangan lainnya seperti bawang merah dan bawang bombay. Alasannya adalah karena bawang putih bersama bawang merah dan bawang bombay seringkali dijadikan bumbu dasar.

Bahkan boleh dikatakan dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia, seluruhnya memiliki masakan khas yang memanfaatkan bawang putih sebagai bumbu dasar. Tentu saja memang bawang putih bisa menambahkan aroma dan rasa yang khas sehingga masakan lebih nikmat.

Menariknya bawang putih ternyata tergolong sebagai salah satu tanaman yang bisa kamu tanam sendiri lho. Kamu bisa menanam bawang dengan teknik konvensional ataupun dengan menggunakan teknik hidroponik. Selain itu kalau modalmu cukup besar, tentu kamu bisa berbisnis bawang putih hidroponik.

Menanam bawang putih hidroponik terbagi menjadi 3 sub-bab umum yaitu persiapan, penyemaian, dan transplantasi.


Persiapan Menanam Bawang Putih Hidroponik

Persiapan Menanam Bawang Putih Hidroponik

Sebelum kamu bisa melakukan penanaman bawang putih di dalam sistem hidroponik yang kamu punya, tentu saja ada beberapa persiapan penting yang harus kamu lakukan. Mulai dari benih, syarat penanaman, hingga sistem hidroponik itu sendiri.

Langkah ini menurut kami sangat penting, khususnya bagi kamu yang masih pemula di dalam dunia bercocok tanam. Mempelajari segala hal yang berkaitan degnan bawang putih hidroponik adalah hal yang mutlak harus kamu lakukan sebelum terjun ke dunia hidroponik.

Hal ini demikian pentingnya karena memang melakukan budidaya tanaman secara hidroponik menurut kami memiliki tingkat kesulitan yang lumayan, apabila kamu membandingkannya dengan teknik budidaya konvensional di media tanam tanah.

Apalagi bila kamu mempelajari seluruh persiapan di bawah ini, harapannya tentu saja bila nanti menemukan kesulitan kamu akan bisa menyelesaikan permasalahan tersebut secara mandiri terlebih dahulu.

Adapun beberapa persiapan penting di dalam menanam bawang putih secara hidroponik adalah sebagai berikut ini:

Jenis bawang putih

Hal penting pertama yang harus kamu pelajari sebelum melakukan budidaya bawang putih adalah mempelajari jenis bawang putih yang ingin kamu tanam. Karena masing-masing bawang putih memiliki karakteristik dan syarat tumbuh yang berbeda-beda pula.

Oleh karena itulah nantinya ketika kamu menanam bawang putih kamu bisa mengikuti syarat ideal bagi jenis bawang putih yang berkaitan tersebut. Sehingga nantinya tanaman bawang putih tersebut bisa tumbuh dan hasil panennya pun menjadi ideal.

Adapun beberapa jenis bawang putih yang cukup sering ditanam di Indonesia adalah sebagai berikut ini:

  1. Bawang Putih Kating; merupakan salah satu jenis bawang putih unggulan yang berasal dari tanah Tiongkok. Sebagaimana daerah asalnya yang memiliki beragam makanan dengan rasa dan aroma khas nan nikmat, bawang putih jenis ini diketahui sebagai salah satu jenis bawang putih yang aroma dan rasanya sangat kuat. Ciri khas dari bawang putih jenis ini adalah ukuran masing-masing umbi yang kecil namun siungnya yang besar, selain itu masing-masing bawang bertekstur padat serta basah, serta memiliki kulit yang putih dan halus. Bawang putih jenis ini pun baik bila ditanam di dataran menengah hingga dataran tinggi dengan masa panen antara 90 hingga 120 hari setelah tanam (HST).
  2. Bawang Putih Lanang; berbeda dengan kebanyakan jenis bawang putih yang ada dimana bawang putih ini hanya memiliki siung tunggal atau satu siung saja di dalam satu umbi. Oleh karena itulah bawang putih lanang seringkali disebut sebagai bawang putih tunggal. Selain itu bila kebanyakan bawang putih digunakan sebagai bumbu dasar, bawang putih jenis ini lebih sering digunakan sebagai obat herbal yang memilikibeberapa khasit. Akan tetapi bawang jenis ini toh tetap cocok digunakan sebagai bumbu penyedap makanan karena memiliki kandungan minyak bawang yang cukup pekat dengan aroma yang kuat. Masa panen dari bawang putih ini pun sama seperti jenis lainnya yakni berkisar antara 90 hingga 120 hari setelah tanam (HST) dengan ketinggian tanam ideal di dataran menengah hingga dataran tinggi.
  3. Bawang Putih Shin Chung; sama seperti bawang putih jenis kating, bawang putih jenis ini merupakan komoditas asli dari negeri Tiongkok. Akan tetapi memang perlu digarisbawahi bahwa barang putih shin chung belum bisa mengalahkan rasa dan aroma dari bawang putih kating. Apalagi asalnya bawang putih jenis ini merupakan pengganti ketika harga bawang putih jenis kating sedang tinggi. Ciri khas dari bawang putih ini adalah ukuran umbinya yang cenderung besar namun siungnya justru kecil-kecil alias berbanding terbalik dengan kating. Adapun masa panennya adalah sekitar 90 hingga 120 hari setelah tanam (HST).
  4. Bawang Putih Porcelein Garlic; merupakan salah satu produk unggulan yang dikembangkan di dataran eropa. Jenis bawang putih yang satu ini diketahui sebagai salah satu yang memiliki bentuk dan warna yang paling cantik dibandingkan dengan kebanyakan jenis bawang putih lainnya. Kelebihan lain yang dimiliki oleh bawang putih jenis ini adalah masa penyimpanannya yang lebih panjang dibandingkan dengan bawang putih jenis lainnya. Ciri khas dari bawang jenis ini adalah bentuknya yang sangat cantik dimana kulit pembungkus siung bawangnya tampak padat dengan warna putih yang mengkilat. Meski demikian rasa yang dimiliki bawang putih jenis ini memang unik, dan tergolong cukup kuat kok.
  5. Bawang Putih Silverskin; merupakan salah satu jenis bawang putih soft neck yang memiliki bentuk yang juga cukup cantik. Kelebihan dari bawang putih jenis ini adalah bentuknya yang cantik dengan warna yang unik, serta memiliki masa penyimpanan yang sangat panjang setelah dipanen. Akan tetapi memang bila dibandingkan dengan beberapa jenis bawang putih yang tergolong ke dalam varian hardneck, jenis ini tidak memiliki rasa yang terlalu kuat dan aroma yang juga tidak terlalu menonjol.
  6. Bawang Putih Italian Purple; beberapa orang menyebut bawang ini dengan purple strip garlic karena memang meski tergolong ke dalam bawang putih ia memiliki garis berwarna ungu yang cukup mencolok di bagian kulitnya. Akan tetapi jenis ini merupakan jenis yang serupa dengan bawang silverskin serta porcelain dimana tergolong sebagai bawang putih softneck yang cenderung lebih mudah ditanam dengan bentuk visual yang lebih cantik. Namun rasa dan aroma yang dikeluarkan oleh bawang-bawangan jenis ini relatif tidak terlalu kuat. Untuk alasan itu pula mengapa jenis bawang ini barangkali tidak akan terlalu kamu sering temukan di Indonesia yang kebanyakan masakannya membutuhkan rasa dan aroma bawang putih yang kuat.
  7. Bawang Putih Rocambole; merupakan salah satu varian bawang putih yang dikembangkan di dataran eropa. Menariknya meski kebanyakan bawang putih yang dikembangkan di eropa tergolong ke dalam bawang putih softneck, jenis rocambole ini justru tergolong ke dalam bawang putih hardneck dimana ia memiliki rasa dan aroma yang cenderung kuat. Oleh karena itulah menurut kami, bawang putih jenis ini juga termasuk ke dalam salah satu jenis bawang putih yang cocok untuk kamu budidayakan di Indonesia, karena pasarnya pun masih cocok.
  8. Bawang Putih Lumbu Hijau; saatnya kami membahas varietas lokal. Jenis bawang putih yang satu ini merupakan bawang lokal asal Malang dengan umbi yang bulat dan dasar mendatar. Jumlah umbi yang dihasilkan dari satu siung bawang jenis ini bisa mencapai 20 buah dengan potensi panen per hektar mencapai 10 ton umbi kering (penanaman di tanah). Selain itu masa panen dari bawang putih jenis ini adalah sekitar 112 hingga 120 hari setelah tanam (HST).
  9. Bawang Putih Lumbu Kuning; masih satu galur keturunan dengan bawang putih lumbu hijau, jenis yang satu ini juga berasal dari Malang dengan umbi yang bulat dengan dasar yang juga mendatar. Akan tetapi jumlah umbi yang bisa dihasilkan dari satu siung bawang ini adalah sekitar 14 hingga 17 buah saja dengan potensi panen per hektar di tanah hanya sekitar 6 hingga 8 umbi kering. Akan tetapi masa panen dari bawang putih jenis ini cenderung singkat yakni sekitar 105 hingga 116 hari setelah tanam (HST).
  10. Bawang Putih Lumbu Putih; berbeda dengan kedua jenis sebelumnya yang merupakan komoditas asli dari Malang jenis lumbu putih merupakan bawang putih yang berasal dari daerah D.I. Yogyakarta. Masa panen dari bawang jenis ini pun cukup singkat yakni hanya sekitar 100 hingga 100 hari setelah tanam (HST) saja. Akan tetapi memang produktivitas dari bawang jenis ini tidak terlalu tinggi yakni sekitar 6 hingga 8 ton per hektar umbi kering saja, bila ditanam secara konvensional di media tanam tanah.
  11. Bawang Putih Tawangmangu Baru; masih dari jenis lokal, bawang putih yang satu ini merupakan bawang putih asli dari daerah Tawangmangu, Karanganyar. Jenis yang satu ini juga cukup diminati karena memang memiliki produktivitas yang cukup tinggi yakni sekitar 8 hingga 12 ton umbi kering per hektar bila ditanam di tanah secara konvensional. Meski demikian masa panen dari bawang jenis ini cukup panjang yakni sekitar 120 hingga 140 hari setelah tanam (HST). Selain itu bawang putih jenis ini juga lebih cocok dan ideal apabila kamu tanam di tepat dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut (MDPL), atau tentu kamu harus melakukan penyesuaian bila ketinggian tempat tinggalmu tidak di atas 1000 mdpl.

Selain diantara beberapa jenis bawang putih yang telah kami bahas di atas, sebenarnya masih ada banyak sekali jenis bawang putih yang bisa kamu temukan dan kamu tanam di Indonesia. Apalagi rata-rata daerah memiliki varian lokal dengan ciri khasnya masing-masing.

Menurut kami, kamu bisa memilih jenis bawang putih apapun yang menurut kamu memang paling mungkin dan paling mudah untuk kamu tanam. Paling gampang kamu bisa menyesuaikan syarat tanamnya dengan iklim, cuaca, dan suhu udara di tempat tinggalmu.

Selain itu untuk memilih benih kamu juga perlu mempertimbangkan kelebihan, kekurangan, masa panen, serta harga beli dari benih tersebut. Apalagi kalau kamu memutuskan untuk menjual kembali bawang putih hidroponik ini nantinya.

Karena untuk berbisnis bawang putih hidroponik tentunya kamu harus melakukan perhitungan yang cukup rinci bukan? Tujuannya tentu saja untuk menghitung potensi kerugian serta potensi keuntungan yang mungkin kamu alami setelah panen bawang putih.

Nah apabila kamu sudah menentukan jenis bawang putih apa yang ingin kamu tanam secara hidroponik, saatnya kamu mempelajari hal penting berikutnya. Hal tersebut adalah mempelajari beberapa jenis hidroponik dasar yang umum.

Sistem hidroponik

Sebenarnya saat ini ada sangat banyak sistem hidroponik yang bisa kamu kenali di seluruh dunia. Alasannya adalah karena sistem hidroponik merupakan salah satu sistem yang sangat mudah untuk dimodifikasi serta dibuat variasinya.

Akan tetapi memang sebenarnya hanya ada beberapa saja teknik dasar dari sistem hidroponik itu sendiri. Menurut kami hal yang lebih penting adalah mempelajari seluruh teknik dasar tersebut sehingga kamu benar-benar paham apa itu sistem hidroponik.

Beberapa teknik dasar hidroponik yang saat ini cukup populer di seluruh dunia menurut kami adalah Deep Water Culture (DWC), Nutrient Film Technique (NFT), Aeroponics, Wick System, hingga Drip System dan Abb and Flow System.

Selain dari jenis-jenis teknik yang kami sebutkan di atas, biasanya merupakan hasil modifikasi ataupun turunan dari teknik dasar yang ada. Cukup pelajari masing-masing teknik dasar tersebut secara singkat sehingga kamu bisa memilih yang menurut kamu paling pas.

Bila kamu sudah memilih salah satu teknik maka kamu bisa langsung mempelajari teknik tersebut secara mendalam. Selain itu saran kami pertimbangkan pula kemampuan finansialmu karena masing-masing teknik tentu memiliki harga yang berbeda pula.

Kondisi tanam

Setelah kamu mempelajari bibit-bibit bawang putih yang bisa kamu tanam serta teknik hidroponik dasar yang umum, saatnya kamu mempelajari mengenai kondisi tanam ataupun persyaratan tanam dari bawang putih yang ideal.

Mempelajari kondisi tanam adalah hal yang sangat penting, bahkan ketika kamu memutuskan untuk bercocok tanam bawang secara konvensional. Apalagi bawang putih merupakan salah satu tanaman yang cukup sensitif terhadap lingkungan tanamnya.

Selain itu ketika kamu bercocok tanam bawang putih secara hidroponik kamu semacam memiliki kendali penuh terhadap beberapa kondisi tanam dan lingkungan tumbuh dari bawang putih tersebut. Hampir semua indikator bisa kamu atur.

Nah adapun beberapa indikator paling penting yang bisa memengaruhi pertumbuhan bawang putih hidroponik yang kamu tanam adalah sebagai berikut ini:

  • Suhu, faktor pertama ini merupakan faktor yang paling penting. Dimana kamu harus selalu menjaga suhu dari sistem hidroponik yang kamu punya. Hal yang paling baik yang bisa kamu lakukan adalah dengan membeli sebuah thermostat serta melakukan penanaman bawang putih hidroponik di dalam rumah kaca sehingga suhu selalu terkontrol. Tapi siapa pula pekebun rumahan yang memiliki modal sebesar itu bukan? Nah jangan khawatir karena kamu tetap bisa menjaga suhu sistem hidroponikmu setidaknya dengan cara menjaga suhu larutan nutrisi dari bawang hidroponikmu agar selalu stabil. Adapun suhu ideal yang harus dicapai oleh bawang putih adalah sekitar 15oC hingga 20oC, alias suhu yang cukup dingin. Nah, catatlah fluktuasi suhu harian dan lakukanlah penyesuaian suhu larutan nutrisi apabila kamu menemukan penyimpangan suhu yang terlalu jauh.
  • pH, selain suhu pH adalah salah satu faktor penting yang harus selalu kamu perhatikan di dalam sistem hidroponik. pH sendiri sangat fluktuatif dan begitu mudah untuk berubah berdasarkan kandungan yang ada di dalam larutan nutrisi. Sehingga seringkali para pekebun hidroponik pemula melewatkan bagian ini, ketika sedang menyesuaikan larutan nutrisi. Padahal ketika konsentrasi larutan nutrisi meningkat dan berkurang, pH dari larutan nutrisi tersebut secara otomatis akan berubah. Untuk menjaga tingkat keasaman larutan nutrisi selalu ideal saran kami adalah, gunakan pH meter yang berkualitas serta lakukan pencatatan fluktuasi pH secara rutin. Apabila kamu menemukan penyimpangan pH yang cukup besar maka gunakanlah pH buffer yang tersedia dimana-mana. Adapun pH ideal yang harus dicapai oleh bawang putih adalah sekitar 6,5 hingga 7,5.
  • Periode panen, salah satu faktor yang cukup menentukan namun seringkali dilupakan oleh para pekebun pemula adalah periode panen ini. Sebagai pekebun pemula kamu harus teliti di dalam mencatatkan periode panen dari tanamanmu. Apalagi bila kamu melakukan penanaman lebih dari satu jenis tanaman di awaktu yang sama. Karena melakukan panen di luar periode panen yang dianjurkan akan menyebabkan perubahan rasa, aroma, serta tekstur yang dimiliki oleh bawang putih tersebut sehingga hasil panen menjadi tidak maksimal.
  • Cahaya matahari, bawang putih sendiri sebagaimana jenis-jenis bawang lainnya tergolong sebagai salah satu tanaman yang sangat menyukai sinar matahari. Sebisa mungkin kamu harus memberikan intensitas cahaya matahari setidaknya 75%, apalagi bila memutuskan untuk menggunakan paranet. Selain itu kami cukup menyarankan kamu untuk memberikan bawang putih tersebut paparan cahaya matahari setidaknya 8 hingga 12 jam selama sehari. Namun tetap perhatikan jangan sampai tanaman bawang putih tersebut mengalami kekeringan karena terlalu banyak terpapar matahari.
  • Media tanam, bawang putih yang merupakan tanaman umbi-umbian diketahui sangat menyukai media tanam yang lembab dan oleh karena itulah ada sangat banyak media tanam yang tersedia dan bisa kamu pilih. Selain itu pilihlah media tanam berdasarkan dengan teknik hidroponik yang kamu pilih. Beberapa media tanam yang bisa kamu pilih untuk menanam bawang putih secara hidroponik adalah rockwool, cocopeat, hingga campuran perlite dan vermiculite. Akan tetapi menurut kami salah satu media tanam yang cukup kami rekomendasikan adalah rockwool karena di Indonesia sendiri mayoritas pegiat hidroponik menggunakan media tanam ini. Walhasil kamu bisa mencarinya secara lebih mudah dan membelinya dengan harga yang lebih murah.
  • Teknik hidroponik, nah setelah membaca seluruh teknik dasar yang kami jelaskan di atas pasti kamu sudah memiliki kecenderungan untuk memilih salah satu yang paling mudah serta paling murah untuk dibuat. Akan tetapi untuk bawang putih sendiri kami cukup menyarankan kamu untuk menggunakan media tanam NFT ataupun Ebb and Flow, karena memang sangat cocok dengan syarat penanaman dari bawang putih itu sendiri. Tapi pada akhirnya silahkan memilih yang paling kamu suka.

Seluruh faktor di atas adalah faktor-faktor paling penting yang harus selalu kamu jaga dengan baik agar keberhasilan penanaman bawang putih menjadi tinggi. Selain itu dengan mempelajari seluruh faktor di atas tentunya kamu harus bisa menyelesaikan masalah-masalah kecil secara mandiri nantinya.


Penyemaian Bibit Bawang Putih Hidroponik

Penyemaian Bibit Bawang Putih Hidroponik

Salah satu keunikan dari bawang putih, sebagaimana bawang-bawang lainnya, adalah bisa disemai baik dari bibit ataupun dari umbi yang sebelumnya telah kamu miliki. Keduanya serupa dan tingkat kesulitannya sama. Hanya saja menyemai dari umbi akan memakan waktu yang lebih singkat.

Adapun langkah-langkah yang bisa kamu lakukan untuk melakukan penyemaian bibit bawang putih baik dari bibit ataupun umbi, adalah sebagai berikut ini:

  1. Menyiapkan beberapa peralatan dan bahan-bahan di bawah ini
    • Bibit yang ingin disemai, lebihkan beberapa bibit sesuai dengan keinginanmu. Atau kamu juga bisa menyemai menggunakan umbi bawang putih.
    • Air secukupnya sesuai dengan ukuran wadah besar.
    • Tusuk gigi secukupnya.
    • Larutan nutrisi.
    • Selang aerator.
    • Beberapa buah wadah, bisa menggunakan toples kaca.
  2. Ambil sejumlah wadah yang telah kamu persiapkan sebelumnya. Isilah wadah tersebut dengan menggunakan air bersih, usahakan air yang digunakan bersifat ‘netral’. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah wadah tersebut.
    • Untuk air yang akan kamu gunakan melakukan penyemaian kami cukup menyarankan agar kamu menggunakan air tanah, air tampungan hujan, atau air sumur.
    • Apabila menggunakan air PDAM maka bisa mempersiapkan air tersebut sebelumnya, diantaranya dengan menjemur air tersebut kira-kira selama 1 hingga 2 hari di bawah sinar matahari terik, agar setidaknya kandungan klorin bisa berkurang dari dalam air.
  3. Persiapkanlah bibit bawang putih tersebut, atau bila kamu langsung menggunakan umbi bawang putih, maka kamu bisa mempersiapkan umbi bawang putih yang ingin kamu budidayakan di hidroponik tersebut.
    • Kamu cukup meletakkan bibit bawang putih tersebut di media tanam yang telah kamu persiapkan sebelumnya. Bisa di media tanam rockwool ataupun dengan menggunakan cocopeat.
    • Pastikan bagian bawah media tanam bisa menyentuh air sehingga perlahan-lahan perakaran bisa keluar dari sana.
  4. Bila langsung menggunakan perlite ataupun media tanam semacamnya bisa melakukan langkah di bawah ini.
    • Pertama-tama tuangkan perlite ke dalam wadah besar hingga tersisa sekitar 5-10 cm ruang di bagian paling atas.
    • Setelah itu tuangkan air ke wadah besar tersebut hingga air meresap ke perlite ataupun media tanam sejenis yang kamu gunakan.
    • Siapkan umbi bawang putih, dengan cara memotongnya di bagian terbawah hingga bagian dalamnya terlihat sebagian.
    • Bagian yang terpotong kamu tanam di perlite hingga umbi bawang putih terbenam seluruhnya di dalam media tanam.
  5. Letakkan wadah yang telah ditaruh bibit bawang putih tadi di tempat yang kering dan terkena sinar matahari.
    • Jangan lupa untuk selalu menjaga kondisi larutan nutrisi agar pH, suhu, dan kepekatannya selalu sesuai terhadap pertumbuhan bawang putih.
  6. Bila daun bawang putih sudah muncul hingga agak tinggi, maka bawang putih sudah siap dipindahkan ke sistem hidroponik. Biasanya proses ini akan memakan waktu sekitar 40 hari, atau tentu sesuai dengan jenis bibit yang kamu beli dan perlakuan yang diberikan terhadap bibit tersebut.

Salah satu hal penting yang harus selalu kamu ingat adalah bahwa bawang putih merupakan salah satu jenis tanaman yang agak sulit dalam proses penyemaian. Hal ini lantaran bibit bawang putih tergolong sebagai bibit yang sangat sensitif terhadap lingkungan dan penyakit.

Apalagi masa penyemaian yang cukup lama, tentu saja membuat kamu harus memberikan perhatian ekstra terhadap bawang putih. Tentu saja agar bibit yang disemai terhindar dari penyakit, dan tanaman yang dihasilkan pun seragam.

Apabila kamu sudah selesai melakukan proses penyemaian bawang putih, maka saatnya kamu mempelajari cara memindahkan dan menanam bawang putih di dalam sistem hidroponik yang akan kamu buat.


Transplantasi dan Penanaman Bawang Putih di Sistem Hidroponik

Transplantasi dan Penanaman Bawang Putih di Sistem Hidroponik

Setelah melakukan penyemaian bibit bawang putih, lakukanlah penyortiran tanaman bawang putih yang ingin dipindahkan. Langkah ini penting agar nantinya hasil panen dari bawang putih bisa menjadi maksimal.

Adapun beberapa indikator tanaman bawang putih yang layak kamu pindahkan dari media semai ke sistem hidroponik adalah sebagai berikut ini:

  • Ukuran bawang putih sudah maksimal sesuai dengan potensi tumbuh. Ukurannya sendiri tentu disesuaikan dengan jenis bawang putih yang kamu tanam.
  • Tidak sedang terkena penyakit layu bakteri atau fusarium. Hal ini penting karena bawang putih sangat rentan terhadap kedua penyakit yang menyebabkan gagal panen tersebut.
  • Ukuran bawang putih yang akan dipindahkan rata-rata harus seragam.

Apabila tanaman-tanaman yang ada sudah memenuhi setidaknya ketiga kriteria di atas, maka kamu bisa langsung memindahkan tanaman-tanaman terbaik tersebut ke dalam sistem hidroponik yang akan kamu buat.

Adapun langkah-langkah pemindahan bawang putih dari media semai ke sistem hidroponik adalah sebagai berikut ini:

  1. Pisahkan masing-masing media tanam yang sudah ditanami bibit bawang putih tersebut. Jangan lupa untuk memindahkan tanaman bawang putih yang berkualitas baik saja ya, tahap ini disebut dengan penyortiran.
    • Hati-hati di dalam mengangkat bawang putih dari media penyemaian, apalagi bila kamu menggunakan perlite karena dikhawatirkan bisa merusak bagian akar dari bawang putih hidroponik tersebut.
  2. Pindahkan bawang putih tersebut ke dalam sistem hidroponik yang sudah kamu siapkan sebelumnya. Masukkan masing-masing bawang putih ke dalam netpot yang telah disiapkan sebelumnya.
    • Baik teknik NFT ataupun aeroponik, sebenarnya memiliki langkah yang cukup serupa. Selain itu untuk media tanam baik campuran perlite – vermiculite, perlite, ataupun hydroton sebenarnya pun memiliki langkah yang sama. Perbedaannya nanti hanya di kapasitas penyerapan terhadap air dan aerasi saja.
    • Angkat benih bawang putih dari media tanam hingga seluruh akarnya terlepas, namun pastikan tanaman tidak rusak. Nah bisa dibilang langkah ini merupakan salah satu langkah yang penting, karena cukup sulit dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dari bawang merah hidroponik tersebut nantinya.
  3. Adapun mekanisme penanaman tentu saja bervariasi tergantung dari teknik hidroponik yang ingin kamu gunakan.
  4. Isi sistem hidroponik dengan larutan nutrisi.
    • Nilai kadar larutan nutrisi ini bisa juga bervariasi antar jenis bawang merah. Saran kami kamu bisa membaca sesuai dengan rekomendasi yang biasanya dicantumkan di bungkus bibit, atau tentu bisa bertanya kepada penjual toko bibit tersebut.
    • Namun rata-rata kamu bisa mengatur kepekatan nutrisi sekitar 300 hingga 400 ppm dengan menggunakan nutrisi AB Mix saat usia bawang putih masih cukup muda, atau ketika bawang putih baru dipindahkan dari media semai.
    • Ketika usia bawang putih sudah di minggu kedua naikkan kepekatan larutan nutrisi menjadi sekitar 700 hingga 900 ppm.
    • Adapun ketika bawang putih sudah bertambah satu minggu usianya, maka naikkan kembali larutan nutrisi hingga 1000 sampai 1200 PPM selama 3 minggu.
    • Terakhir naikkan kepekatan larutan nutrisi antara 1200 hingga 1300 ppm mulai dari minggu ke enam hingga masa panen.
    • Sebenarnya untuk angka kepekatan ini cukup rumit, namun untuk bawang putih sendiri rata-rata dibutuhkan 700 hingga 1300 ppm sepanjang perkembangannya.
    • Jaga selalu agar pH tetap di antara 6,5 hingga 7,5.
  5. Lakukan pengecekan sistem hidroponik rutin, setidaknya lakukanlah selama 2 hari sekali.
    • Lakukan pengecekan tinggi air, kadar ppm larutan nutrisi, kebersihan wadah nutrisi secara umum, dan kondisi tanaman.
    • Pastikan ppm tetap terjaga dan kadar air tidak surut atau kering.
    • Jangan lupa lakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman.
  6. Bila sudah mencapai masa panen kamu bisa langsung memanen umbi bawang putih tersebut.
    • Jangan memanen bawang putih lebih dari masa panen yang tertera atau spesifikasinya, karena akan menyebabkan rasa bawang putih menjadi tidak nikmat untuk dikonsumsi.
  7. Selesai!

Meski terlihat panjang dan rumit, sebenarnya apa yang kami jelaskan di atas merupakan tips ringkas mengenai beberapa hal yang harus kamu perhatikan selalu bila memutuskan untuk membudidayakan bawang putih secara hidroponik.

Sebagaimana jenis bawang-bawang lainnya, salah satu titik tersulit di dalam membudidayakan bawang putih adalah saat proses penyemaian. Karena bawang putih yang sedang disemai cenderung lebih mudah stress dan rentan terhadap penyakit.

Nah akhir kata selamat mencoba dan semoga kamu berhasil membudidayakan bawang putih ya.

Fakhri Zahir

Penulis berpengalaman yang mengisi banyak konten di website populer. Pegiat dunia agrikultur dan kedokteran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *