Cara Menanam Bawang Merah Hidroponik

Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran yang menurut kami tidak akan pernah mati di Indonesia. Hal ini lantaran sayuran ini tergolong sebagai salah satu sayuran yang bisa memberikan aroma dan rasa yang khas pada masakan.

Sehingga nyaris seluruh masyarakat di Indonesia menggunakan bawang merah untuk memasak makanan mereka. Tidak peduli lokasi mereka, apakah di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, ataupun mereka yang tinggal di daerah timur seperti di Maluku ataupun Papua.

Menariknya bawang merah tergolong sebagai salah satu tanaman yang bisa kamu tanam sendiri loh di rumah. Lebih jauh lagi bahkan kamu bisa menanam bawang secara hidroponik yang nantinya bisa kamu konsumsi sendiri, atau malah untuk kamu jual kembali.

Ini dia cara menanam bawang merah hidroponik yang paling mudah!


Persiapan Menanam Bawang Merah Hidroponik

Persiapan Menanam Bawang Merah Hidroponik

Langkah pertama sebelum kamu mulai melakukan penanaman bawang merah secara hidroponik adalah dengan mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik. Kami akan menjelaskan beberapa hal yang harus kamu pelajari dan persiapkan sebelum memulai.

Khususnya bagi kamu yang pemula dan bahkan belum pernah bercocok tanam sama sekali, mempelajari tetek bengek bawang hidroponik dengan baik dan benar adalah mutlak harus dilakukan.

Hal ini karena memang hidroponik memiliki tingkat kesulitan yang agaknya lebih tinggi dibandingkan bercocok tanam secara konvensional. Akan tetapi kalau sudah berjalan biasanya sistem hidroponik perawatannya menjadi lebih praktis.

Selain itu dengan mempelajari seluruhnya dengan baik dan benar, kami harapkan kamu bisa memecahkan berbagai masalah secara mandiri terlebih dahulu apabila nantinya kamu menemukan kesulitan.

Ini dia beberapa persiapan di dalam menanam bawang hidroponik.

Jenis bawang merah

Langkah yang paling penting di dalam bercocok tanam adalah mempelajari jenis sayuran yang ingin kamu tanam. Hal ini karena masing-masing jenis bawang memiliki karakteristik dan persyaratan tumbuh yang berbeda-beda.

Sehingga ketika kamu nantinya menanam salah satu jenis, kamu harus benar-benar menyesuaikan lingkungan tumbuh yang ideal bagi jenis tersebut dengan sistem hidroponik yang telah kamu bangun sebelumnya.

Adapun jenis bawang merah yang lazim ditanam di Indonesia adalah sebagai berikut ini:

  1. Bawang Merah Bima Brebes; bawang merah jenis ini tergolong sebagai salah satu jenis lokal yang sangat baik apabila kamu tanam di daerah dengan dataran tinggi. Ciri khas dari bawang jenis ini adalah daunnya yang berwarna hijau dengan lubang silindris, warna bawang merah muda dan umbinya cenderung lonjong. Adapun ukuran umbi bawang merah jenis ini diketahui tidak terlalu besar namun sangat produktif dimana setiap tanamannya bisa menghasilkan bahkan hingga 12 umbi. Adapun masa panen dari bawang jenis ini pun cukup singkat yakni sekitar 50 hingga 60 hari setelah tanam (HST).
  2. Bawang Merah Kuning; bawang varietas kuning ini pun masih berasal dari Brebes yang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil bawang berkualitas. Salah satu ciri khas dari bawang merah varietas ini adalah umbinya yang berukurang cukup besar sehingga sangat disukai petani. Adapun masa panen dari bawang merah jenis ini adlah sekitar 70 hari setelah tanam (HST). Meski demikian bawang jenis ini rentan terhadap penyakit jamur dan bercak ungu. Tapi untuk penanaman secara hidroponik tentunya menurunkan kemungkinan bawang ini terkena penyakit tersebut.
  3. Bawang Merah Maja Cipanas; bawang jenis ini merupakan salah satu jenis lokal dari daerah Cipanas yang memiliki ciri daun silindris hijau tua, namun memiliki umbi yang cukup gemuk dan gepeng. Jumlah anakan rata-rata 6 hingga 12 buah dari setiap tanamannya. Salah satu keunikan dari bawang jenis ini adalah dapat dipanen saat umur 60 hari setelah tanam (HST), namun sangat mudah berbunga dan cenderung mudah untuk dirawat.
  4. Bawang Merah Mentes; nah kalau yang satu ini merupakan salah satu jenis bawang merah hasil klon dan persilangan antara dua jenis bawang merah unggul. Keunggulan yang dimiliki oleh bawang merah jenis ini adalah daya tahan penyimpanannya yang cukup lama yakni bisa mencapai 4 bulan. Adapun masa panen dari bawang merah jenis ini adalah sekitar 50 hari setelah tanam (HST), dengan berat bawang per umbi yang bisa mencapai 10 gram.
  5. Bawang Merah Pancasena; tergolong sebagai salah satu jenis bawang merah unggulan hasil dari persilangan antara dua jenis bawang merah unggul lainnya. Ciri khas dari bawang merah ini adalah daunnya yang berwarna hijau tua dengan umbi yang bisa sangat besar. Dalam beberapa pertanian bahkan ada yang bisa membuat umbi dari bawang merah pancasena ini mencapai berat 30 gram loh! Keunggulan lain dari bawang merah jenis ini adalah masa panennya yang hanya sekitar 50 hari setelah tanam (HST) dengan masa penyimpanan yang juga bisa sangat lama, yakni mencapai 4 bulan setelah bawang merah ini dipanen.
  6. Bawang Merah Sembrani; merupakan salah satu jenis bawang merah hasil perkawinan silang antara bawang merah Thailand dengan bawang bombai. Keunggulan dari bawang jenis ini adalah masa panennya yang hanya 54 hari setelah tanam saja (HST).
  7. Bawang Merah Trisula; Merupakan salah satu jenis bawang merah hasil dari persilangan antara dua jenis bawang merah unggulan. Salah satu ciri dari bawang jenis ini adalah sangat baik apabila di tanam di dataran tinggi. Daun dari bawang jenis ini hanya sekitar 4 hingga 5 helai saja per umbi dengan warna umbi yang merah tua. Adapun masa panen dari bawang merah jenis ini pun tergolong cukup singkat apabila dibandingkan dengan beberapa jenis bawang merah lainnya. Selain itu masa penyimpanan dari bawang merah jenis ini juga sangat lama yakni bisa mencapai 5 bulan setelah panen, dan produktivitasnya pun sangat tinggi. Tidak heran kalau bawang merah jenis ini tergolong sebagai salah satu jenis yang cukup disukai.
  8. Bawang Merah TSS Agrigorti 1; boleh dibilang bawang merah jenis ini tergolong sebagai salah satu yang paling unggul bila dibandingkan degnan bawang merah jenis lainnya. Alasannya adalah karena bawang merah jenis ini merupakan salah satu hasil pemurnian dari bawang merah varietas maja yang memiliki ciri bersari bebas. Ciri khas dari bawang merah jenis ini adalah dari satu rumpun kamu hanya bisa menghasilkan 1 hingga 2 umbi saja, dengan masa panen sekitar 66 hingga 68 hari setelah tanam (HST).
  9. Bawang Merah Violetta 2 Agrihorti; untuk yang satau ini sih merupakan salah satu bawang merah hasil dari persilangan antara jenis Sembrani dengan jenis Kramat 1. Meski demikian jenis bawang merah yang satu ini memiliki kekurangan, diantaranya adalah masa panennya yang cukup lama yakni sekitar 80-90 hari setelah tanam (HST). Tentu cukup jauh berbeda bila dibandingkan dengan jenis lainnya yang hanya butuh 50 hingga 60 hari setelah tanam (HST) saja.
  10. Bawang Merah Medan Samosir; dari namanya saja sudah bisa kamu ketahui kalau bawang merah jenis ini merupakan salah satu jenis yang cukup diunggulkan dari daerah Medan. Salah satu keunggulan dari bawang jenis ini adalah masa panennya yang sekitar 70 hari setelah tanam, dengan jumlah umbi sekitar 6 hingga 12 buah di dalam satu rumpun. Untuk produktivitasnya pun sebenarnya masih dalam batas rata-rata saja.
  11. Bawang Merah Nganjuk; selain dari Brebes dan Sumenep, salah satu jenis bawang merah yang cukup disukai oleh banyak petani adalah bawang merah dari daerah nganjuk. Boleh dibilang bawang merah ini merupakan salah satu jenis unggul yang dihasilkan antara beberapa jenis bawang lokal. Sifat unggul yang dimiliki oleh bawang merah jenis ini diantaranya adalah aroma bawang yang sangat nikmat, dengan masa panen hanya 50 hari setelah tanam (HST) saja dan jumlah panen yang sangat tinggi, yakni bisa mencapai 12 ton per hektar bila ditanam di tanah. Jumlah ini sangat banyak bila dibandingkan dengan jenis lain yang hanya mencapai 7 hingga 10 ton rata-rata panen, bila ditanam di tanah.

Selain dari sebelas jenis bawang merah yang kami bahas di atas, pada dasarnya kamu bisa menemukan jauh lebih banyak jenis bawang merah di Indonesia. Belum lagi varian-varian lokal yang masing-masingnya memiliki jenisnya tersendiri.

Saran kami pilihlah jenis benih yang menurut kamu paling mungkin untuk ditanam, diantaranya adalah sesuai dengan syarat pertumbuhannya, cocok dengan iklim dan suhu udara di tempatmu tinggal, dan tentu saja cocok dengan kantongmu.

Karena jelas masing-masing benih memiliki kualitas yang berbeda-beda dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Namun yang jelas benih dengan kualitas unggul tentu saja memiliki harga yang juga tidak murah.

Nah pada akhirnya silahkan memilih salah satu yang menurut kamu paling cocok, akan tetapi jangan lupa untuk selalu menyesuaikan lingkungan pertumbuhan bawang merah sesuai dengan syarat idealnya.

Selain itu salah satu kunci dari penanaman bawang secara hidroponik adalah dengan memberikan asupan oksigen sebanyak-banyaknya ke akar, namun tanpa mengurangi konsentrasi larutan nutrisi yang ideal. Agar pertumbuhan umbi bisa maksimal!

Sistem Hidroponik

Setelah mempelajari jenis-jenis bawang merah yang bisa kamu tanam, saatnya kamu mempelajari seluruh sistem hidroponik dasar yang menurut kami merupakan salah satu langkah penting.

Sebelum itu kamu perlu tahu bahwa saat ini ada banyak sekali teknik hidroponik yang bisa digunakan di seluruh dunia. Alasannya adalah karena teknik ini memang merupakan salah satu teknik yang paling mudah untuk dimodifikasi dan dibuat variasinya.

Akan tetapi saran kami pelajarilah beberapa teknik dasar yang cukup dikenal di seluruh dunia saat ini, yakni Deep Water Culture (DWC), Nutrient Film Technique (NFT), Aeroponics, Wick System, hingga Drip System dan Abb and Flow System.

Karena kebanyakan teknik lain di luar teknik yang kami sebutkan di atas merupakan modifikasi ataupun pengembangan dari salah satu teknik dasar di atas. Pelajari seluruhnya secara singkat, dan pilihlah salah satu yang paling pas.

Setelah itu barulah kamu bisa mempelajari salah satu teknik yang paling pas, baik sesuai dengan karakteristik bawang merah, ataupun sesuai dengan kemampuanmu. Baik kemampuan finansial ataupun kemampuan teknikal.

Kondisi tanam

Setelah mempelajari bibit yang ingin kamu tanam dan teknik-teknik hidroponik dasar yang ada, saatnya kamu mempelajari kondisi tanam yang ideal bagi bawang merah. Kondisi tanam macam ini bisa dibilang juga sebagai salah satu syarat utama agar bawang bisa tumbuh optimal.

Hal ini amat penting kamu pelajari, apalagi bagi kamu yang sama sekali belum pernah bercocok tanam. Karena persyaratan tumbuh bagi semua tanaman merupakan hal kunci yang harus dipenuhi oleh setiap pekebun agar tanaman bisa tumbuh optimal.

Lebih jauh lagi, ketika kamu memutuskan untuk membuat sistem hidroponik maka kamulah yang menjadi penentu dari lingkungan tumbuh tanaman tersebut. Karena nyaris semua hal terkait lingkungan pertumbuhan tanaman bisa diatur di dalam sistem hidroponik.

Adapun beberapa kondisi tanam yang bisa memengaruhi pertumbuhan dari bawang merah hidroponik yang kamu tanam adalah sebagai berikut ini:

  • Suhu, salah satu faktor terpenting yang harus kamu selalu perhatikan adalah menjaga suhu dari sistem hidroponik yang kamu punya. Hal terbaik yang bisa kamu lakukan tentu saja dengan membeli sebuah thermostat sehingga suhu dari lingkungan tanam bawang hidroponik yang kamu punya bisa disesuaikan dengan thermostat tersebut. Tapi siapa pekebun rumahan yang memiliki modal sebesar itu? Saran kami adalah untuk mengatur suhu dari larutan nutrisi di sistem hidroponik tersebut. Setidaknya cara itu bisa menjaga suhu dari sistem hidroponik tetap stabil. Bawang merah sendiri sangat baik apabila ditanam dengan suhu rata-rata 25 hingga 32o Catatlah fluktuasi suhu harian, dan selalu lakukan pengaturan apabila suhu larutan nutrisi sudah menyimpang terlalu jauh.
  • pH, faktor penting lainnya yang perlu kamu perhatikan adalah tingkat keasaman dari larutan nutrisi alias pH. pH sama seperti suhu, karena sangat fluktuatif dan begitu mudah berubah. Nilai pH sendiri bahkan bisa berubah apabila kamu jarang melakukan pengecekan larutan nutrisi. Karena konsentrasi larutan nutrisi dan apa yang ada di dalamnya sangat memengaruhi pH dari larutan nutrisi itu sendiri. Untuk menjaga larutan nutrisi tetap ideal, saran kami adalah untuk selalu mencatat larutan nutrisi serta menggunakan pH meter yang berkualita. Adapun pH ideal dari bawang merah adalah sekitar 5,6 hingga 6,5. Gunakan buffer pH apabila kamu mendapati terjadi perubahan pH, khususnya bila sudah berada di luar rentang ideal.
  • Periode panen, salah satu faktor penting yang menurut kami cukup sering terlupakan, khususnya oleh para pekebun pemula adalah periode panen. Kamu harus teliti di dalam mencatat periode panen, apalagi bila kamu memiliki lebih dari satu jenis tanaman dan ditanam dalam waktu yang berbeda-beda. Melakukan panen di luar periode panen yang dianjurkan diketahui akan menyebabkan aroma dan rasa yang dimiliki oleh bawang tersebut menjadi tidak maksimal. Selain itu kadang teksturnya pun akan menjadi tidak nikmat untuk dimakan.
  • Cahaya matahari, bawang merah sendiri meski menyukai suhu dingin tetap saja lebih senang bila berada di bawah sinar matahari. Rata-rata bawang membutuhkan penyinaran sekitar 75% saja. Bagi kamu yang tinggal di daerah dengan cahaya matahari intensitas tinggi, kami cukup menyarankan kamu untuk menggunakan paranet agar sinar matahari tidak langsung mengenai tanaman dalam intensitas yang terlalu tinggi. Selain itu perhatikan pula, jangan sampai tanaman tampak kering karena terlalu sering terkena matahari.
  • Media tanam, bawang merah sendiri cukup menyukai media tanam yang lembab sehingga ada banyak sekali media tanam yang bisa kamu pilih. Selain itu nantinya pemilihan media tanam harus sesuai dengan teknik hidroponik yang kamu pilih. Beberapa media tanam yang bisa kamu pilih untuk menanam bawang secara hidroponik adalah rockwool, cocopeat, hingga campuran perlite dan vermiculite. Di luar itu kamu bisa misalnya menggunakan hydroton pebbles. Namun paling enak sih menggunakan rockwool karena kebanyakan pegiat hidroponik di Indonesia menggunakan media tanam ini. Sehingga bila nantinya kamu ada kesulitan, bisa banyak bertanya kepada pegiat hidroponik lainnya.
  • Teknik hidroponik, setelah membaca seluruh teknik dasar seperti yang kami jelaskan di atas, kamu boleh saja memilih salah satu yang menurut kamu paling mudah ataupun murah untuk dibuat. Namun secara personal kami cukup menyarankan kamu untuk menanam bawang merah hidroponik dengan menggunakan teknik aeroponik ataupun NFT karena sangat cocok dengan syarat tumbuh dan karakteristik dari tanaman ini.

Seluruh faktor di atas, apabila kamu bisa menjaganya dengan baik tentu akan meningkatkan keberhasilan di dalam menanam bawang secara hidroponik. Selain itu diharapkan pula kamu akan bisa menyelesaikan masalah terkait penanaman bawang bila sudah menguasai faktor-faktor di atas.


Penyemaian Bibit Bawang Merah Hidroponik

Penyemaian Bibit Bawang Merah Hidroponik

Bawang merah sendiri bisa kamu semai baik dari bibit ataupun dari umbi yang sudah kamu miliki. Keduanya memiliki cara yang serupa kok, hanya saja tentu akan lebih cepat apabila kamu melakukan penyemaian dari umbi.

Selain itu perlu kamu ketahui pula bahwa melakukan penyemaian bibit bawang merah hidroponik langkahnya sama saja dengan bawang merah yang akan ditanam secara konvensional. Berikut ini adalah langkah-langkahnya:

  1. Menyiapkan beberapa peralatan dan bahan-bahan di bawah ini
    • Bibit yang ingin disemai, lebihkan beberapa bibit sesuai dengan keinginanmu. Atau kamu juga bisa menyemai menggunakan umbi bawang merah.
    • Air secukupnya sesuai dengan ukuran wadah besar.
    • Tusuk gigi secukupnya.
    • Larutan nutrisi.
    • Selang aerator.
    • Beberapa buah wadah, bisa menggunakan toples kaca.
  2. Ambil sejumlah wadah yang telah kamu persiapkan sebelumnya. Isilah wadah tersebut dengan menggunakan air bersih, usahakan air yang digunakan bersifat ‘netral’. Jangan lupa untuk melubangi bagian bawah wadah tersebut.
    • Untuk air yang akan kamu gunakan melakukan penyemaian kami cukup menyarankan agar kamu menggunakan air tanah, air tampungan hujan, atau air sumur.
    • Apabila menggunakan air PDAM maka bisa mempersiapkan air tersebut sebelumnya, diantaranya dengan menjemur air tersebut kira-kira selama 1 hingga 2 hari di bawah sinar matahari terik, agar setidaknya kandungan klorin bisa berkurang dari dalam air.
  3. Persiapkanlah bibit bawang merah tersebut, atau bila kamu langsung menggunakan umbi bawang merah, maka kamu bisa mempersiapkan umbi bawang merah yang ingin kamu budidayakan di hidroponik tersebut.
    • Kamu cukup meletakkan bibit bawang merah tersebut di media tanam yang telah kamu persiapkan sebelumnya. Bisa di media tanam rockwool ataupun dengan menggunakan cocopeat.
    • Pastikan bagian bawah media tanam bisa menyentuh air sehingga perlahan-lahan perakaran bisa keluar dari sana.
  4. Bila langsung menggunakan perlite ataupun media tanam semacamnya bisa melakukan langkah di bawah ini.
    • Pertama-tama tuangkan perlite ke dalam wadah besar hingga tersisa sekitar 5-10 cm ruang di bagian paling atas.
    • Setelah itu tuangkan air ke wadah besar tersebut hingga air meresap ke perlite ataupun media tanam sejenis yan gkamu gunakan.
    • Siapkan umbi bawang merah, dengan cara memotongnya di bagian terbawah hingga bagian dalamnya terlihat sebagian.
    • Bagian yang terpotong kamu tanam di perlite hingga umbi terbenam seluruhnya di dalam media tanam.
  5. Letakkan wadah yang telah ditaruh bibit bawang merah tadi di tempat yang kering dan terkena sinar matahari.
    • Jangan lupa untuk selalu menjaga kondisi larutan nutrisi agar pH, suhu, dan kepekatannya selalu sesuai terhadap pertumbuhan bawang merah.
  6. Bila daun bawang merah sudah muncul hingga agak tinggi, maka bawang merah sudah siap dipindahkan ke sistem hidroponik. Biasanya proses ini akan memakan waktu sekitar 40 hari, atau tentu sesuai dengan jenis bibit yang kamu beli dan perlakuan yang diberikan terhadap bibit tersebut.

Untuk masa penyemaian bawang sendiri sebenarnya ada sangat banyak hal yang perlu kamu perhatikan. Bila dibandingkan dengan sayuran atau tanaman lainnya masa penyemaian bawang ini cukup sulit karena tanaman amat rentan terhadap penyakit dan cuaca.

Apalagi masa penyemaiannya cukup lama yakni mencapai 40 hari, atau tergantung dari jenis bibit bawang yang kamu pilih. Selain itu tanaman ini juga sangat rentan terhadap stress ketika akan dipindahkan ke sistem hidroponik.

Yah boleh dibilang memang untuk tanaman ini sendiri memiliki tingkat kesulitan menengah, apabila kamu tanam secara hidroponik.


Transplantasi dan Pemindahan Bawang Merah di Sistem Hidroponik

Transplantasi dan Pemindahan Bawang Merah di Sistem Hidroponik

Bila kamu sudah sukses melakukan proses penyemaian bawang merah, langkah selanjutnya yang harus kamu lakukan adalah penyortiran bawang merah yang ingin kamu pindahkan ke sistem hidroponik.

Beberapa benih yang menurut kami layak untuk dipindahkan adalah:

  • Ukurannya optimal ataupun besar-besar, namun tetap disesuaikan dengan jenis bawang yang ditanam.
  • Tidak terkena penyakit seperti layu bakteri ataupun fusarium, dimana bawang merah sangat rentan terhadap kedua penyakit tersebut.
  • Ukuran dari tanaman yang dipindahkan secara umum seragam.

Nah secara umum kamu bisa mengikuti ketiga kriteria tersebut untuk kemudian memindahkan bawang merah ke sistem hidroponik yang sudah kamu buat sebelumnya.

Adapun langkah-langkah pemindahan bawang merah dari penyemaian ke sistem hidroponik adalah sebagai berikut ini:

  1. Pisahkan masing-masing media tanam yang sudah ditanami bibit bawang merah Jangan lupa untuk memindahkan tanaman bawang merah yang berkualitas baik saja ya, tahap ini disebut dengan penyortiran.
    • Hati-hati di dalam mengangkat bawang merah dari media penyemaian, apalagi bila kamu menggunakan perlite karena dikhawatirkan bisa merusak bagian akar dari bawang merah hidroponik tersebut.
  2. Pindahkan bawang merah tersebut ke dalam sistem hidroponik yang sudah kamu siapkan sebelumnya. Masukkan masing-masing bawang merah ke dalam netpot yang telah disiapkan sebelumnya.
    • Baik teknik NFT ataupun aeroponik, sebenarnya memiliki langkah yang cukup serupa. Selain itu untuk media tanam baik campuran perlite – vermiculite, perlite, ataupun hydroton sebenarnya pun memiliki langkah yang sama. Perbedaannya nanti hanya di kapasitas penyerapan terhadap air dan aerasi saja.
    • Angkat benih bawang merah dari media tanam hingga seluruh akarnya terlepas, namun pastikan tanaman tidak rusak. Nah bisa dibilang langkah ini merupakan salah satu langkah yang penting, karena cukup sulit dan berpengaruh terhadap pertumbuhan dari bawang merah hidroponik tersebut nantinya.
  3. Adapun mekanisme penanaman tentu saja bervariasi tergantung dari teknik hidroponik yang ingin kamu gunakan.
  4. Isi sistem hidroponik dengan larutan nutrisi.
    • Nilai kadar larutan nutrisi ini bisa juga bervariasi antar jenis bawang merah. Saran kami kamu bisa membaca sesuai dengan rekomendasi yang biasanya dicantumkan di bungkus bibit, atau tentu bisa bertanya kepada penjual toko bibit tersebut.
    • Namun rata-rata kamu bisa mengatur kepekatan nutrisi sekitar 300 hingga 400 ppm dengan menggunakan nutrisi AB Mix saat usia bawang merah masih cukup muda, atau ketika bawang merah baru dipindahkan dari media semai.
    • Ketika usia bawang merah sudah di minggu kedua naikkan kepekatan larutannutrisi menjadi sekitar 700 hingga 900 ppm.
    • Adapun ketika bawang merah sudah bertambah satu minggu usianya, maka naikkankembali larutan nutrisi hingga 1000 sampai 1200 PPM selama 3 minggu.
    • Terakhir naikkan kepekatan larutannutrisi antara 1200 hingga 1300 ppm mulai dari minggu ke enam hingga masa panen.
    • Sebenarnya untuk angka kepekatan ini cukup rumit, namun untuk bawang merah sendiri rata-rata dibutuhkan 700 hingga 1300 ppm sepanjang perkembangannya.
    • Jaga selalu agar pH tetap di antara 5,5 hingga 6,5.
  5. Lakukan pengecekan sistem hidroponik rutin, setidaknya lakukanlah selama 2 hari sekali.
    • Lakukan pengecekan tinggi air, kadar ppm larutan nutrisi, kebersihan wadah nutrisi secara umum, dan kondisi tanaman.
    • Pastikan ppm tetap terjaga dan kadar air tidak surut atau kering.
    • Jangan lupa lakukan pengendalian hama dan penyakit tanaman.
  6. Bila sudah mencapai masa panen kamu bisa langsung memanen umbi bawang merah
    • Jangan memanen bawang merah lebih dari masa panen yang tertera atau spesifikasinya, karena akan menyebabkan rasa bawang merah menjadi tidak nikmat untuk dikonsumsi.
  7. Selesai!

Nah itulah tadi beberapa langkah mudah serta beberapa tips penting yang harus selalu kamu perhatikan apabila kamu ingin mencoba bercocok tanam bawang merah dengan menggunakan teknik hidroponik.

Memang salah satu kesulitan dari menanam bawang merah adalah di dalam proses penyemaian karena bawang merah sendiri tergolong cukup manja, apalagi saat masa-masa penyemaian. Selain itu bawang merah juga cukup mudah stress ketika dipindahkan, sehingga mungkin bisa terjadi gagal panen.

Tapi jangan takut, selamat mencoba dan semoga berhasil ya!

Fakhri Zahir

Penulis berpengalaman yang mengisi banyak konten di website populer. Pegiat dunia agrikultur dan kedokteran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *